Citizen Journalism

Satu Tanah Satu Air

Akar Tanah Air kita adalah etika, norma, larangan, dan persumpahan. Saat suatu kali berkunjung ke luar daerah, contohnya saat saya ke Palu,

Penulis: Emil Mahmud | Editor: Emil Mahmud
Istimewa/Dok.Penrem 032 Wirabraja
Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, Danrem 032 Wirabraja 

Tak lebih, hanya itu saja. Pembelajaran secara kebangsaan tak pernah terlihat, semua hanya dagangan politik, sementara landasan berbangsa tak tersentuh.

Andai kita mau melihat lebih dalam dan mengkaji kembali sejarah bangsa ini, sambil mengingatkan pada generasi milenial, konsep kebersamaan itu sudah ada, konsep yang menyatukan semua pihak dan seluruh wilayah.

Konsep ini hanya dimiliki oleh Indonesia, satu pendapat luhur dan agung, yang tak terbantahkan.

Tanah Air, itulah kata sakti yang menjadi pemersatu semua pihak. Indonesia yang punya gagasan ini.

Eropa dan Amerika mengenal istilah homeland, hanya tanah, bumi. Tapi kita punya tanah dan air.

Apakah dari Sabang, Medan, Riau, Jambi, sampai ke Sulawesi dan Papua, kita disatukan oleh tanah dan air yang sama.

Pendekatan ini yang kemudian merujuk pada konsep kesatuan ekologi sebagai sebuah kesatuan budaya.

Silakan saja ribuan kearifan lokal berkembang, tak masalah politik lokal menguat, tapi ingatlah, semua kita hidup di atas tanah dan meminum air yang sama.

Saat ke Palu, Ambon, Palembang, Padang, ataupun daerah lain, sejatinya kita hidup di tanah dan air yang sama dengan warga yang hidup di sana. 

Tak sewajarnya jika kita kemudian dianggap pendatang, walaupun tidak lahir di situ.

Semangat ini harusnya menjadi jiwa, menjadi roh ketika kita kemudian berkeliling Indonesia.

Tradisi kebudayaan mungkin berbeda, kesenian mungkin tak sama, bahasa pun mungkin berubah, tapi semangat dan asal usul kita sama.

Darimana kita bisa memberikan justifikasi akademik terhadap ini? Telusurilah, semua nilai kearifan lokal, semua semangat di masing-masing daerah, semuanya bertumpu pada tanah dan air.

Orang Melayu berkata tentang Alam Terkembang Jadi Guru, kata-kata paling penting yang harus disadari.

Peribahasa, pepatah, petitih, ungkapan, cerita rakyat, dongeng dan legenda yang berkembang di semua daerah, semuanya berakar pada tanah dan air.

Bukankah legenda Lutung Kasarung, Legenda Tangkuban Parahu, Legenda Joko Tingkir, kisah Batu Golog dari NTB, Buaya Ajaib dari Papua, Si Rusa dan Sikulomang (Maluku) dan berbagai cerita lainnya, semua tak lepas dari penceritaan tentang ritme-ritme alam.

Semua bicara tentang tanah dan air, bicara tentang etika, norma, larangan, persumpahan dan sebagainya. Akarnya hanya satu, tanah dan air.

Inilah yang kemudian menjadi pengikat kita, sejatinya nilai-nilai ekologis menjadi pemersatu semua pihak.

Tak masalah di kampung Anda sudah jadi kebun kelapa sawit semua, atau hutan kita sudah jadi tanaman akasia, silakan saja. Tapi semuanya hidup pada bumi yang sama.

Tak usah protes kalau tambang batubara sudah menjadi kolam raksasa di tempat dulu anak-anak bermain, dan tak usah ribut jika di belakang rumah sudah ada pagar besi tambang migas.

Anggaplah itu bagian dari membangun bumi, tapi kalaupun kemudian jadi merusak bumi, baru bergerak bersama-sama, karena rusaknya bumi adalah rusaknya Tanah Air kita.

Tugas manusia adalah memuliakan dan menyelamatkan bumi, jika ada yang merusak, kita juga yang akan menjaga dan melawannya.

Memahami kita dalam satu ikatan ekologis menjadi penting, kita disatukan budaya yang sama, yaitu budaya tanah dan air.

Abaikanlah dulu soal perbedaan pilihan politik, asal institusi, korps dan kesatuan, ataupun polemik pemilu, lebih baik kembali ke bumi dan air kita. Itulah yang konkrit dan penting saat ini dan masa datang.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved