Citizen Journalism
Satu Tanah Satu Air
Akar Tanah Air kita adalah etika, norma, larangan, dan persumpahan. Saat suatu kali berkunjung ke luar daerah, contohnya saat saya ke Palu,
Penulis: Emil Mahmud | Editor: Emil Mahmud
SATU TANAH SATU AIR
Penulis: Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, Danrem 032 Wirabraja
Akar Tanah Air kita adalah etika, norma, larangan, dan persumpahan.
Saat suatu kali berkunjung ke luar daerah, contohnya saat saya ke Palu, pertanyaan pertama ketika bertemu dengan warga di sana adalah, “bapak berasal dari mana?”
Saya jawab daerah asal saya. Oh daerah sana, kata lawan bicara saya, sambil menyebutkan daerah domisili saya.
Hal yang sama juga saya alami jika berada di daerah lain.
Obrolan berikutnya adalah bersejarah, bercerita tentang daerah masing-masing.
Walhasil saya selalu merasa bagaikan orang asing ketika berada di wilayah lain di luar domisili saya.
Paling tidak, warga setempat menganggap saya bukan bagian mereka, hal yang saya juga rasakan tentang mereka.
Kondisi yang hampir sama pernah juga dialami ketika masuk ke Ambon, Kupang, Aceh, dan daerah-daerah lain di Indonesia.
Kondisi seolah-olah kita adalah orang asing, bukan bagian dari masyarakat setempat, sangat kentara dirasakan.
Jika saya jawab bahwa “saya adalah orang Indonesia”, respon dari lawan bicara seperti menganggap saya bergurau.
Apa yang saya alami di atas, mungkin juga hampir sama dengan dirasakan oleh orang lain yang berkunjung ke suatu daerah baru, walaupun itu masih Indonesia.
Sepintas tampak sederhana dan wajar, karena kita baru menginjak sebuah daerah, tetapi dalam makna lain muncul pikiran, mengapa kita selalu dianggap orang asing?
Sampai sekarang kiranya masalah kebangsaaan, kesatuan dalam satu bangsa belum tuntas terselesaikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/komandanrem-brigjenkunto.jpg)