Citizen Journalism
Satu Tanah Satu Air
Akar Tanah Air kita adalah etika, norma, larangan, dan persumpahan. Saat suatu kali berkunjung ke luar daerah, contohnya saat saya ke Palu,
Penulis: Emil Mahmud | Editor: Emil Mahmud
Para pendahulu dan pendiri negara ini sudah sejak jauh-jauh hari memikirkan soal keragaman dan keunikan etnis di Indonesia.
Sabang-Merauke bukanlah wilayah yang kecil, karena itu gagasan tentang Nusantara, wawasan kebangsaan menjadi prioritas sekaligus pelik.
Beberapa orde yang dilewati, terutama masa setelah kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga ke Orde Reformasi, usaha merekat kebangsaan dan kenusantaraan ini terus dilakukan.
Semua sisi dicoba, baik kebijakan pembangunan, perangkat hukum, metode pendidikan, sosial, budaya, bahkan secara politik.
Mengandalkan kekuatan kendali negara juga pernah dilakukan. Tetapi ikatan itu tetap lemah, ke atas dia mengikat, tapi ke bawah sangat rapuh.
Fatamorgana kebangsaan mungkin analogi yang tepat.
Rasa kebangsaan itu tidak juga mengakar, cenderung mengabur bertahun-tahun kemudian.
Di era yang katanya milenial, generasi Y kata para analis, kelemahan pada pondasi berbangsa menjadi semakin menemukan momentumnya.
Dulu kita mungkin masih berharap, generasi 80-an bisa mengenal siapa pahlawan nasionalnya, tahu dengan film Janur Kuning.
Lanjut, paham dengan lagu Dari Sabang Sampai Merauke, Rayuan Pulau Kelapa, generasi yang masih paham dengan para pendiri negara ini.
Tapi sekarang, generasi kita adalah generasi yang besar di zaman gadget, lekat dengan K-Pop, tak terlalu paham dengan berdarah-darahnya pendirian negara ini.
Ini tentu saja bukan lagi sebatas soal ekonomi ataupun politik.
Lebih tepatnya ini adalah masalah kebudayaan. Ini berkaitan dengan filosofis apa yang kita pahami mengenai negara dan bangsa ini.
Apa yang menyatukan atau melekatkan sesama kita, disitulah pertanyaan harusnya memperoleh jawaban.
Mutia Swasono (2006) pernah berkata bahwa sikap ekslusifisme semakin jor-joran saja di era reformasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/komandanrem-brigjenkunto.jpg)