Gubernur Mahyeldi: Nilai Rahmah El Yunusiyyah Solusi Persoalan Pendidikan Hari Ini

Menurut Mahyeldi, konsep pendidikan yang dirintis Rahmah El Yunusiyyah terbukti melahirkan generasi perempuan tangguh, bahkan tokoh besar

Tayang:
Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto
PENDIDIKAN KELUARGA- Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat membuka Seminar Nasional tentang kiprah Rahmah El Yunusiyyah di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Air Tawar, Senin (4/5/2026). Dalam kesempatan itu, Mahyeldi menekankan pentingnya menghidupkan kembali pendidikan berbasis keluarga sebagai solusi persoalan pendidikan saat ini. 
Ringkasan Berita:
  • Gubernur Mahyeldi Ansharullah membuka seminar nasional di Universitas Negeri Padang.
  • Mahyeldi menyoroti fenomena hubungan antara guru dan murid yang dinilai semakin memprihatinkan.
  • Mahyeldi juga menekankan bahwa berbagai persoalan sosial, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga perilaku menyimpang, berakar pada lemahnya ketahanan keluarga.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai pendidikan berbasis keluarga saat membuka Seminar Nasional “Kiprah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia” di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Air Tawar, Senin (4/5/2026).

Di hadapan sekitar 1.000 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, guru, hingga organisasi perempuan, Mahyeldi menekankan bahwa seminar ini tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk mencari solusi atas krisis pendidikan yang kian kompleks.

“Seminar ini kita gagas bukan hanya untuk mengulang sejarah. Nilai-nilai yang diajarkan Ibu Rahmah El Yunusiyyah sangat realistis untuk menjawab persoalan pendidikan hari ini,” ujar Mahyeldi.

Baca juga: Selamat dari Maut, Lansia Terseret Arus di Kayu Tanam Alami Luka Memar Akibat Terbentur Batu

Ia menyoroti fenomena hubungan antara guru dan murid yang dinilai semakin memprihatinkan, bahkan tak jarang berujung konflik hingga masuk ke ranah hukum. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya penyimpangan dari esensi pendidikan.

“Kita melihat sekarang hubungan guru dan murid tidak jarang mengalami ‘clash’ yang tidak sepatutnya. Bahkan ada yang sampai dilaporkan ke kepolisian. Ini sudah keluar dari ruh pendidikan,” katanya.

Pendidikan Berbasis Ketahanan Keluarga

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah 3 4/5/2026
PENDIDIKAN KELUARGA- Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, memberikan keterangan usai membuka seminar nasional di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Air Tawar, Senin (4/5/2026).

Mahyeldi juga menekankan bahwa berbagai persoalan sosial, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga perilaku menyimpang, berakar pada lemahnya ketahanan keluarga. Namun, pembekalan menuju kehidupan berkeluarga dinilai masih minim.

“Kita bicara narkoba, kembali ke keluarga. Perilaku menyimpang, kembali ke keluarga. Tapi yang akan berkeluarga justru tidak dipersiapkan secara serius,” ujarnya.

Ia kemudian membandingkan sistem pendidikan keluarga yang diterapkan Rahmah El Yunusiyyah melalui Diniyyah Puteri, yang sejak usia dini telah membekali perempuan dengan pengetahuan rumah tangga dan kehidupan.

Baca juga: Kinerja Perdagangan Sumbar: India Tetap Jadi Pasar Utama Ekspor Minyak Nabati

“Saya tanya alumni Diniyyah Puteri, pelajaran tentang keluarga itu diajarkan sejak SMP. Sementara kita, menjelang menikah hanya dapat pembekalan dua jam. Ini tentu tidak cukup,” tegasnya.

Menurut Mahyeldi, konsep pendidikan yang dirintis Rahmah El Yunusiyyah terbukti melahirkan generasi perempuan tangguh, bahkan tokoh besar seperti Rasuna Said.

“Beliau mempersiapkan perempuan bukan hanya untuk rumah tangga, tetapi juga menjadi pribadi mandiri dan berwawasan luas. Hasilnya, lahir tokoh-tokoh luar biasa,” katanya.

Warisan Pendidikan Perempuan Pertama di Indonesia

Sementara itu, sambutan Menteri Kebudayaan yang dibacakan Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Feri Arlius, menegaskan bahwa Rahmah El Yunusiyyah merupakan pelopor pendidikan perempuan di Indonesia yang pemikirannya masih relevan hingga saat ini.

“Beliau adalah arsitek pendidikan perempuan pertama di Indonesia melalui Diniyyah Puteri. Di tengah keterbatasan akses pendidikan saat itu, beliau membuka jalan bagi kemandirian intelektual dan spiritual perempuan,” ujar Feri.

Ia menambahkan, pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pengembangan Diniyyah Puteri sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah pendidikan nasional.

“Keberadaan Diniyyah Puteri masih sangat relevan. Kementerian Kebudayaan akan memberikan dukungan, yang saat ini masih dalam tahap pembahasan,” katanya.

Feri juga menyebut, penetapan Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi besarnya bagi bangsa.

Ketua panitia, Syaifullah, mengatakan seminar ini bertujuan menggali kembali pemikiran Rahmah El Yunusiyyah serta mengontekstualisasikannya dengan tantangan pendidikan modern.

“Seminar ini diharapkan melahirkan gagasan baru serta menginspirasi generasi muda, khususnya perempuan, untuk meneladani perjuangan beliau,” ujarnya.

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber nasional dan internasional, di antaranya Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, Prof. Dr. dr. Fasli Jalal, Ph.D., serta wartawan senior Khairul Jasmi.(*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved