Konflik Timur Tengah
Konflik Timur Tengah Memanas, Pemerintah Perlu Waspada Perang Opini hingga Polarisasi di Masyarakat
Pemerintah Indonesia diingatkan untuk mulai mencermati dampak sosiopolitik, terutama potensi munculnya perang opini
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Akademisi UIN Imam Bonjol Padang ingatkan dampak ketegangan Iran tak hanya soal ekonomi global.
- Ia sebut isu Iran bisa picu perang opini dan polarisasi di Indonesia.
- Jalur minyak di Selat Hormuz jadi sorotan, harga minyak dunia terancam naik.
- Kenaikan harga minyak berpotensi dorong inflasi dalam negeri.
- Pemerintah diminta jeli kelola komunikasi publik agar kepentingan nasional tetap terjaga.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Ketegangan yang kembali meningkat di kawasan Asia Barat, khususnya terkait situasi politik terbaru di Iran, diprediksi tidak hanya akan memberikan tekanan pada sektor ekonomi global.
Pemerintah Indonesia diingatkan untuk mulai mencermati dampak sosiopolitik, terutama potensi munculnya perang opini dan polarisasi di tengah masyarakat terkait sentimen anti-Barat.
Akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Muhammad Nasir, menilai bahwa setiap guncangan yang terjadi di Iran memiliki resonansi yang kuat bagi publik di Indonesia.
Hal ini tidak terlepas dari sejarah panjang ketertarikan masyarakat terhadap dinamika perlawanan Iran di panggung internasional.
Menurut Nasir, Iran menempati posisi unik dalam imajinasi kolektif sebagian besar umat Islam di Indonesia.
Baca juga: Dampak Konflik Iran Bakal Picu Kenaikan Harga BBM, Akademisi UIN Imam Bonjol Padang Beri Peringatan
Sejak Revolusi Islam 1979, sosok pemimpin Iran kerap dipandang sebagai representasi keberanian dalam menghadapi dominasi kekuatan Barat.
"Sentimen yang muncul di Indonesia terhadap Iran sering kali bukan didasari oleh isu sektarian atau perbedaan mazhab antara Sunni dan Syiah," ujar Nasir saat dihubungi Rabu (4/3/2026).
Ia menekankan bahwa dukungan tersebut lebih bersifat politis dan emosional terhadap narasi kedaulatan.
Nasir mengibaratkan respon masyarakat Indonesia layaknya netizen yang merasa terwakili suaranya oleh sikap tegas Iran terhadap Amerika Serikat dan Eropa.
Hal inilah yang membuat isu domestik di Teheran dapat dengan cepat menjadi konsumsi perdebatan hangat di tanah air.
Baca juga: 22 Ribu Warga Padang Kehilangan Jaminan Kesehatan, DPRD Gelar RDP Bahas Solusi Penonaktifan BPJS PBI
Oleh karena itu, Nasir mengingatkan pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mengelola komunikasi publik terkait isu-isu di Timur Tengah.
Ketegangan internasional yang tidak dikelola dengan narasi yang tepat di dalam negeri dikhawatirkan dapat memperburuk cara pandang masyarakat terhadap hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Barat.
"Pemerintah harus jeli membangun komunikasi publik. Jangan sampai energi nasional habis karena terjebak dalam perang opini atau polarisasi yang dipicu oleh konflik di luar batas negara kita," tegasnya.
Selain aspek opini publik, Nasir juga menyoroti peran strategis Iran sebagai stabilizer di kawasan Asia Barat.
Jika stabilitas Iran terganggu, maka stabilitas lingkungan di sekitarnya pun dipastikan akan ikut bergejolak, yang pada akhirnya memicu ketidakpastian global.
Baca juga: Lewat Padang Rancak dan Smart Surau, Pemko Dorong Budaya Bersih dan Penguatan Karakter
| Kebijakan Indonesia di Timur Tengah Tuai Kritik, Pengamat Unand Desak Pemerintah Tarik Pasukan |
|
|---|
| Konflik Iran vs Israel-AS Memanas, Penerbangan Umrah di Bandara Internasional Minangkabau Ditutup |
|
|---|
| Pakar HI Unand Sebut Amerika Serikat Langgar Piagam PBB Usai Serang Iran, Singgung Donald Trump |
|
|---|
| Dampak Konflik Iran Bakal Picu Kenaikan Harga BBM, Akademisi UIN Imam Bonjol Padang Beri Peringatan |
|
|---|
| Gubernur Sumbar Sebut Indonesia Cinta Damai, Harap Presiden Prabowo Tegas Sikapi Perang Amerika-Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/PERANG-IRAN-Akademisi-UIN-Imam-Bonjol-Padingatan-kerasd.jpg)