Dampak Rupiah Melemah
Harga Oli dan Suku Cadang Naik, Bengkel di Padang Tetap Ramai Pelanggan
Harga oli dan suku cadang kendaraan bermotor di Kota Padang mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
Kenaikan harga produk pelumas yang terjadi secara merata dalam beberapa pekan terakhir mulai memicu keluhan dari para pemilik kendaraan.
Salah seorang warga setempat bernama Ilham yang tengah mengantre untuk menyervis sepeda motornya mengungkapkan rasa beratnya terhadap situasi saat ini.
Meski demikian, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain selain merogoh kocek lebih dalam agar kendaraannya tetap prima.
"Tentu saja kami sebagai masyarakat kecil merasa terbebani dengan kenaikan harga-harga ini. Pengeluaran bulanan jelas bertambah, sementara pendapatan masih begitu-begitu saja," ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (9/6/2026).
Bagi konsumen, menunda penggantian oli atau perbaikan komponen yang aus dinilai akan memicu dampak buruk yang lebih besar di kemudian hari.
Ongkos perbaikan yang membengkak akibat kerusakan mesin secara total menjadi alasan utama mereka tetap memprioritaskan perawatan berkala.
"Kalau tidak diperbaiki sekarang, nanti rusaknya malah merembet ke mana-mana. Biayanya pasti akan jauh lebih mahal lagi kalau mesinnya sampai turun. Jadi, mau bagaimana lagi, terpaksa tetap diservis," tambahnya dengan nada pasrah.
Baca juga: Dua Rumah Terbakar di Batu Gadang, PT Semen Padang Salurkan Material Bangunan dan Uang Rp1,3 Juta
Pengorbanan Anggaran Rumah Tangga
Suara serupa juga datang dari Hendri Bahar seorang pelanggan lain yang bekerja sebagai pengemudi ojek online. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga oli dari rata-rata Rp 50.000 menjadi Rp 65.000 hingga Rp 70.000 per botol sangat memukul para pekerja lapangan.
Baginya, sepeda motor adalah modal utama untuk mencari nafkah sehari-hari di jalanan kota. Fluktuasi harga suku cadang eceran akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini langsung memangkas margin pendapatan bersih yang bisa ia bawa pulang ke rumah.
"Untuk pekerja jalanan seperti saya, motor ini harus sehat setiap hari. Kalau oli naik sampai Rp 15.000 per botol, artinya ada pos belanja dapur keluarga yang harus dikurangi untuk menutupi biaya perawatan motor ini," katanya.
Ia menambahkan, fleksibilitas tarif jasa servis yang ditawarkan pihak bengkel sedikit banyak membantu meringankan beban psikologis konsumen.
Penurunan tarif jasa dari Rp 55.000 menjadi Rp 50.000 melalui proses negosiasi dinilai cukup berarti dalam situasi sulit seperti saat ini.
"Untungnya pemilik bengkel di sini mau mengerti dan tidak kaku soal harga jasa servis. Setidaknya potongan lima ribu rupiah itu bisa dialihkan untuk sedikit menutupi kenaikan harga oli yang mahal," tuturnya. (*)
| Pelemahan Rupiah Pengaruhi Harga Bahan Pokok, Disdag Padang: Jika Tak Terkendali, Kita Operasi Pasar |
|
|---|
| Harga Sparepart dan Pelumas Naik, Warga Kuranji Padang Tetap Servis Motor: Takut Tambah Rusak |
|
|---|
| Harga MinyaKita Melonjak Rp18.000 di Pasar Pagi Lubuk Lintah Padang, Pedagang: Modal Juga Naik |
|
|---|
| Harga Oli Motor di Padang Naik Rp70.000, Pemilik Bengkel Siasati Harga Jasa agar Pelanggan Tak Kabur |
|
|---|
| Dampak Rupiah Melemah: Harga Oli di Padang Naik hingga Rp15 Ribu per Botol, Konsumen Mengeluh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/HARGA-OLI-NAIK-Kenaikan-harga-midda-posisida.jpg)