Berita Populer Padang

3 BERITA POPULER PADANG: Audit Malpraktik Balita, Pencarian Bocah Hanyut dan BBM Dexlite Anjlok

SUP Dr. M. Djamil Padang menargetkan hasil audit investigasi internal terkait meninggalnya balita berusia 14 bulan, Alceo

Tayang:
Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman
DUGAAN KELALAIAN PROSEDUR - Jajaran direksi RSUP Dr. M. Djamil Padang memberikan keterangan kepada awak media terkait perkembangan audit investigasi internal kasus meninggalnya balita, di ruang rapat direksi, Selasa (21/4/2026). Pihak rumah sakit menargetkan hasil audit rampung dalam sepekan. 

“Kami dari manajemen tentu tidak ingin menutupi fakta dan akan mengambil tindakan tegas apabila ditemukan ketidaksesuaian prosedur,” pungkasnya.

Selain itu, pihak RSUP M Djamil Padang juga menghormati proses hukum yang sudah diajukan pihak keluarga korban.

Sementara, pihak rumah sakit juga meminta masyarakat dan media untuk memberikan ruang bagi proses investigasi yang sedang berjalan.

“Kami berharap semua pihak tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan sebelum proses ini tuntas,” ujarnya. 

Curhat Ibu Bayi

Seorang ibu bernama Nuri Khairima mengungkap dugaan kasus RSUP M Djamil Padang diduga malpraktik setelah buah hatinya yang berusia 14 bulan, Alceo Hanan Flantika, meninggal dunia.

Kisah memilukan ini viral di media sosial setelah Nuri membagikan curhatan mengenai pelayanan rumah sakit yang ia nilai lalai.

Baca juga: Siswa Tak Lagi Belajar di Tenda, Mendikdasmen Resmikan Ruang Kelas Darurat SDN 05 Batang Anai

Kisah bermula ketika Alceo Hanan Flantika yang terkena air panas sempat dilarikan ke RS Hermina Padang, namun dirujuk ke RSUP M Djamil Padang pada Kamis (26/3/2026) lalu.

Dalam wawancara TribunPadang.com dengan Nuri Khairima melalui telepon whatsapp pada Jumat (17/4/2026) siang, ia membenarkan terkait anaknya yang sempat dirawat di RS Hermina Padang.

Akan tetapi, pihak rumah sakit menyarankan agar Alceo dirujuk ke RSUP M Djamil Padang untuk tindakan operasi debridement atau pembersihan luka.

Baca juga: Cerita Yeni Rasma Korban Kecelakaan Travel Masuk Jurang di Lembah Anai, Sebut Mobil Terguling 7 Kali

"Tak hanya itu, anak saya Alceo yang masih bayi disebut memerlukan perawatan di ruang PICU infeksius pasca operasi," kata Nuri memberikan keterangan.

Nuri mengaku sempat menolak anaknya dirujuk ke RSUP M Djamil Padang dan meminta pilihan rumah sakit lain. Namun pihak RS Hermina menginformasikan jika fasilitas serta tenaga medis di sana lebih lengkap.

Singkat cerita, Nuri akhirnya menyetujui rujukan tersebut dan ayah dari Alceo mengurus proses administrasi. Sementara dirinya lebih dahulu membawa sang anak ke RSUP M Djamil Padang.

Setibanya di RSUP M Djamil Padang, Nuri mengaku Alceo tidak langsung mendapatkan ruang perawatan. Ia bersama sang anak harus menunggu cukup lama di instalasi gawat darurat (IGD).

"Saat menunggu ini, anak saya menangis kesakitan dan hanya ditenangkan dengan ASI sambil digendong, karena tempat tidur di IGD disebut penuh, harinya masih sama, Kamis (26/3/2026) lalu," pungkasnya.

Tak hanya itu, ia mengaku sempat mendapat tanggapan kurang mengenakan saat menanyakan rencana tindakan medis terhadap Alceo.

Baca juga: Mahasiswa Unand Korban Kecelakaan di Lembah Anai Cerita Detik-detik Mobil Masuk Jurang, Tangan Patah

Bahkan, Nuri menyebut sempat menunggu selama 24 jam lebih. Barulah keesokan harinya pada Jumat (27/4/2026) sekira pukul 21.00 hingga 23.000 WIB, Alceo menjalani operasi sirkumsisi dan debridement.

Hingga pada Sabtu (28/3/2026) pukul 02.00 WIB, Alceo dipindahkan ke ruang HCU Bedah. Pada saat itu, kondisi sang anak disebut mulai membaik dan ruang tersebut dinilai sebagai tempat perawatan terbaik.

Dua hari berselang, kondisi Alceo dilaporkan pihak RSUP M Djamil Padang kepada Nuri juga membaik. Seperti luka tampak lebih bersih, dan bayi tersebut mulai terlihat nyaman.

Akan tetapi, pada Selasa (31/4/2026) dilaporkan kesehatan Alceo mulai menurun karena demam. Menurut pengakuan Nuri, pada hari itu tidak dilakukan pemandian maupun penggantian perban.

Sehari berselang, tepatnya pada Rabu (1/4/2026), kondisi sang anak disebut kembali mulai memburuk. Alceo menangis dan mengerang akibat rasa gatal hebat pada luka, selain itu rembesan cairan kekuningan juga mulai tampak dari perban.

Baca juga: Mata Pencaharian yang Terkubur: Menagih Janji Pemulihan Ekonomi di Batu Busuk Padang

"Melihat kondisi anak saya seperti itu, dokter sulit dihubungi, sehingga harus berkeliling mencari bantuan. Tindakan perawatan baru dilakukan sekitar pukul 14.00 WIB," sebutnya.

Siang berganti menjadi malam, Nuri melihat perubahan warna luka menjadi merah tua pada Alceo dan memberitahu dokter yang merawat. Tetapi, laporan itu tidak ditanggapi serius oleh tenaga medis.

Pada Kamis (2/42026) sekita pukul 01.00 WIB, Alceo kembali menangis kesakitan, muntah, hingga telapak tangannya berubah warna kebiruan.

Nuri mengaku telah berulang kali melapor, namun tanggapan yang ia dapat dinilai tidak memadai. Hingga pukul 03:00 WIB, sang anak mengalami kejang dan kesulitan bernapas.

"Bisa dikatakan tidak ada penangangan serius, hingga pagi, barulah pada Kamis sekitar jam 12.00 WIB, saya dan dokter sempat ada perdebatan dan akhirnya Alceo dipindahkan ke ruangan PICU," terangnya.

Alasan Alceo dipindahkan ke ruangan tersebut dikarenakan sempat menyatakan ingin membawa sang anak pergi berobat ke Singapura.

Baca juga: Dihantam Cedera Pemain, Semen Padang FC Tetap Optimistis Hadapi Persijap Jepara

Akan tetapi, pihak RSUP M Djamil Padang menyebut kondisi Alceo sudah tidak memungkinkan untuk dirujuk. Dikhawatirkan nyawanya tak tergolong saat sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Sehari berlalu, tepatnya pada Jumat (3/4/2026) pagi, Alceo dinyatakan meninggal dunia. Perasaan sedih menyelimuti hati Nuri.

Sehingga, Nuri menyebut kronologi sejak anaknya masuk ke RSUP M Djamil hingga mendapatkan perawatan, dapat dijadikan dasar bagi keluarga dalam meminta pertanggungjawaban.

Sebab kata Nuri, terjadi dugaan malpraktik lantaran kelalaian pelayanan yang diterima Alceo selama menjalani perawatan di sana. 

2. Kendala Pencarian 2 Bocah Digulung Ombak di Padang: Cuaca Kurang Bersahabat dan Angin Kencang

Pencarian dua orang bocah tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kelurahan Ulak Karang Utara, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, belum membuahkan hasil. Cuaca yang kurang bersahabat hingga angin kencang membuat proses pencarian terganggu.

Hal itu disampaikan oleh Komandan Regu (Danru) Kantor SAR Kelas A Padang, Tri Desyu, usai pencarian pada hari keempat dengan hasil nihil.

Korban diketahui bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga Gunung Pangilun.

Kedua korban dilaporkan hilang terseret arus ombak saat berenang bersama dengan teman-temannya pada Sabtu (18/4/2026).

Hingga pencarian hari keempat, petugas gabungan belum menemukan petunjuk dan tanda-tanda keberadaan korban.

Baca juga: Pencarian Hari Keempat 2 Bocah Tenggelam di Pantai Ujung Karang: Rasyid dan Zafran Belum Ditemukan

Dikarenakan pencarian tidak memungkinkan untuk dilanjutkan pada malam hari, proses pencarian akan dilanjutkan besok pagi pada Rabu (22/4/2026) pagi.

Tri Desyu menyebut petugas gabungan mengalami beberapa kendala pada pencarian hari keempat, yaitu cuaca yang kurang bersahabat hingga angin kencang.

“Cuaca di lokasi pencarian dilaporkan hujan ringan dengan kecepatan angin berkisar antara 3 hingga 7 knot, yang cukup mempengaruhi visibilitas dan pergerakan tim di lapangan,” kata Tri Desyu, Selasa (21/4/2026).

Selain itu, luasnya area pencarian serta arus laut di kawasan tersebut juga menjadi kendala tersendiri bagi tim SAR.

“Arus laut yang dinamis, juga mungkin membuat pergeseran posisi korban cukup besar. Sehingga area pencarian harus terus diperluas dan disesuaikan,” ujarnya.

Pencarian Hari Keempat

Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian terhadap dua anak yang dilaporkan hanyut di kawasan Pantai Ujung Karang, belakang Kampus Universitas Bung Hatta (UBH), Kecamatan Padang Utara, Kota Padang hingga hari keempat.

Hingga Selasa (21/4/2026), kedua korban bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga Gunung Pangilun, masih belum ditemukan.

Komandan Regu (Danru) Kantor SAR Kelas A Padang, Tri Desyu, mengatakan bahwa operasi pencarian telah memasuki hari keempat sejak kejadian pada Sabtu (18/4/2026) siang lalu.

“Tim SAR gabungan terus melanjutkan upaya pencarian sejak pagi hari pukul 07.30 WIB dengan membagi area menjadi beberapa sektor," katanya saat memberikan keterangan.

Baca juga: Gunakan Sepablock, BNPB Perluas Pembangunan Huntap ke Limapuluh Kota dan Agam

Akan tetapi hingga saat ini, kedua korban masih belum ditemukan dan akan dilanjutkan pada Rabu (22/4/2026).

Ia menjelaskan, sebelumnya warga setempat sempat melakukan pencarian secara mandiri, namun belum membuahkan hasil.

"Operasi pencarian akan terus dilakukan dengan memaksimalkan seluruh potensi yang ada di lapangan," jelasnya.

Luas Area Penyisiran

Operasi pencarian dua anak yang hanyut di Pantai Ulak Karang, Kota Padang, dilakukan dengan cakupan area yang cukup luas serta melibatkan berbagai unsur dan peralatan.

Tri Desyu menyebut bahwa total area pencarian mencapai sekitar 20 nautical mile (Nm) atau 32,187 kilometer,m yang dibagi ke dalam empat Search and Rescue Unit (SRU).

“Setiap SRU menyisir sektor yang telah ditentukan dengan luas rata-rata 5 Nm⊃2; untuk memaksimalkan peluang menemukan korban,” jelasnya.

Baca juga: Hadiri APEKSI 2026, Wawako Padang Apresiasi Expo Banda Aceh Perkuat Kolaborasi Antarkota

Dalam operasi ini, tim SAR mengerahkan berbagai peralatan seperti rescue car, perahu karet (LCR) dengan motor tempel, peralatan SAR air, perlengkapan medis, komunikasi, serta drone thermal untuk pemantauan udara.

Tak hanya itu, sebanyak lebih dari 100 personel gabungan turut terlibat, terdiri dari Basarnas, TNI, Polairud, Brimob, BPBD, Damkar, PMI, relawan, hingga masyarakat setempat.

“Sinergi seluruh unsur ini sangat penting untuk mempercepat proses pencarian,” tambahnya.

Warga: Tiba-Tiba Ada Teriakan Minta Tolong

Upaya menyelamatkan bocah yang tenggelam kawasan Pantai Ujung Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026), dilakukan warga, sesaat setelah mengetahui kejadian.

Mayang seorang warga yang ada di lokasi bahkan sempat melarang anak-anak yang hendak berenang saat mereka ada di pantai yang berada di belakang kampus Universitas Bung Hatta itu. 

Sebelum kejadian, dirinya sempat melihat enam orang anak berada di lokasi pantai. 

Dua orang berada di pinggir, sementara empat lainnya berada di bagian tengah laut.

“Awalnya saya melihat ada dua anak di pinggir dan empat di tengah. Tiba-tiba saya mendengar teriakan minta tolong, lalu saya lihat ke arah pantai, ternyata ada yang hanyut,” ujarnya.

PENCARIAN ORANG HILANG- Proses pencarian korban hanyut di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Selasa (21/4/2026). Danru Kantor SAR Kelas A Padang, Tri Desyu sebut pencarian belum membuahkan hasil, bahkan sudah menyisir area seluas 20 mil.
PENCARIAN ORANG HILANG- Proses pencarian korban hanyut di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Selasa (21/4/2026). Danru Kantor SAR Kelas A Padang, Tri Desyu sebut pencarian belum membuahkan hasil, bahkan sudah menyisir area seluas 20 mil. (Dokumentasi/Kantor SAR Padang)

Pegangan Terlepas Akibat Ombak

Berdasarkan informasi dari teman korban, dua anak yang pertama kali hanyut adalah Rasyid dan seorang lainnya yang akrab disapa Popo.

Mayang menyebut, saat kejadian sempat ada upaya penyelamatan oleh salah seorang teman korban bernama Naufal. 

Namun usaha tersebut gagal akibat kuatnya ombak.

“Saya lihat Naufal sempat menarik temannya yang hanyut, tapi karena ombak besar, pegangannya terlepas. Akhirnya mereka terpisah, satu ke arah pantai, satu lagi ke arah laut,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Mayang langsung berupaya mencari pertolongan. 

Ia berlari menuju arah kampus dan meminta bantuan kepada petugas keamanan yang ditemuinya.

“Saya sempat ke kampus, ketemu satpam yang sedang makan, lalu dia langsung meninggalkan makanannya dan menuju ke pantai,” katanya.

Baca juga: Breaking News 2 Bocah Tenggelam di Pantai Ujung Karang Padang Belakang Kampus Bung Hatta

Pinjam Ban Bekas untuk Evakuasi

Tak berhenti di situ, Mayang juga berusaha mencari alat bantu untuk evakuasi. 

Ia menuju kawasan pintu muara dan meminta bantuan nelayan yang baru pulang melaut untuk meminjam pelampung dari ban bekas.

Namun saat kembali ke lokasi, para korban sudah tidak terlihat lagi di permukaan air.

“Waktu saya kembali, anak-anak yang hanyut sudah tidak nampak. Teman-temannya juga sudah tidak ada di lokasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sebelumnya dirinya bersama beberapa warga juga sempat berinisiatif melakukan penyelamatan.

Bahkan ada dua pemuda yang mencoba menuju ke tengah laut, namun terhambat karena kondisi karang yang melukai kaki.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 12.49 WIB. 

Saat itu, menurut Mayang, kondisi pantai relatif sepi dan tidak ada pengawasan.

“Saya sebenarnya sudah heran melihat mereka berenang di sana. Saya sempat melarang dan menyuruh mereka naik, tapi tidak dihiraukan. Tidak lama setelah itu, mereka hanyut,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyampaikan bahwa dua anak yang dilaporkan tenggelam masing-masing bernama Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9), warga Kelurahan Gunung Pangilun.

Ia menjelaskan, kejadian bermula saat enam anak berenang di lokasi dengan kondisi ombak yang tidak bersahabat serta air yang keruh.

“Empat anak berada di tengah dan berusaha kembali ke pinggir. Namun dua anak diduga terseret ombak dan hilang,” kata Hendri.

Terus Berdoa Demi Cucu

BERHARAP- Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang. Dirinya terus berdoa dan berharap agar sang cucu yang duduk ke kelas 3 SD itu ditemukan.
BERHARAP- Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang. Dirinya terus berdoa dan berharap agar sang cucu yang duduk ke kelas 3 SD itu ditemukan. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Sabak mengungkung wajah Yulidar, nenek Zafran Al Malik Akbar (9), bocah yang tenggelam di Pantai Ujung Karang, Kota Padang, Sabtu (18/4/2026) sore

Cucu Yulidar hanyut di pantai tersebut saat berenang bersama teman-temannya sekira pukul 12:40 WIB.

Sabtu siang sekira pukul 16:00 WIB, kabar tak mengenakan itu sampai juga ke telinga Yulidar.  Dengan hati kacau balau, ia melangkah ke Pantai Ujung Karang.

Di sana, mata merah dan tetesan tangis tak terbendung, melihat dua perahu karet milik Kantor SAR Kelas A Padang ditarik ke daratan. Sementara, sang cucu tak kunjung ditemukan hingga pukul 18:00 WIB. 

"Saya dapat kabar jam 16:00 WIB, diberitahu anak, juga dapat kabar dari adiknya yang tinggal di sekitar lokasi," ucap Yulidar dengan mata sembab.

Pergi Bermain Bersama Teman, Keluarga Tidak Tahu

Yulidar tak tahu jika sang cucu pergi meninggalkan rumah untuk pergi berenang ke Pantai Ujung Karang.

Tiba-tiba, kabar duka datang, mengabarkan sang cucu telah hanyut saat berenang di pantai bersama teman-temannya.

"Tidak tahu kalau pergi berenang, tiba-tiba dapat informasi kalau dia hanyut di sini," terang Yulidar dengan tatapan kosong ke arah laut.

Sementara di lokasi, masyarakat begitu ramai menyaksikan proses pencarian. 

Bahkan saat dua perahu milik Kantor SAR Kelas A Padang ditarik ke daratan, rasa penasaran masyarakat tak kunjung mereda.

Perlahan, matahari mulai tenggelam ke laut, awan mulai meredup, pertanda pergantian siang ke malam.

Baca juga: SAR Padang Ungkap Alasan Hentikan Proses Pencarian 2 Bocah Tenggelam di Malam Hari

Di tengah suasana itu, keluarga lainnya tak berhenti berharap terhadap korban. 

Sembab mata cukup membuktikan bagaimana mereka kehilangan sosok anak atau cucu kesayangan.

Mulai dari ibu, ayah, kakak dan kerabat lainnya. Kesedihan mereka tak terbendung, dan harus ditenangkan oleh masyarakat sekitar.

"Saya berdoa terus, bertemu lah cucu saya, dia sekarang kelas 3 di SDN 06 Padang," terangnya.

Perlahan, gelap pun datang, para keluarga masih berharap di tengah derasnya gelombang. 

Menanti cucu kesayangan balik ke daratan.

3. Harga BBM Naik, Penjualan Pertamax Turbo dan Dexlite di SPBU Pisang Padang Anjlok 50 Persen

Antrean Bahan Bakar Minyak (BBM) Dexlite dan Pertamax Turbo terpantau sepi di Pertamina 14.251.518 Pisang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/4/2026).

Pantauan TribunPadang.com di lapangan sekira pukul 10:12 WIB, tampak di SPBU tersebut untuk pengisian Dexlite dan Pertamax Turbo minim kendaraan.

Sementara untuk antrean solar, kendaraan tampak berjejer. Selain itu, kendaraan juga mengantre pada pengisian pertalite.

Diketahui, harga BBM Dexlite dan Pertamax turbo mengalami kenaikan, terhitung sejak 18 April 2026.

Kenaikan tersebut dipicu oleh naiknya harga minyak mentah dunia. Melonjaknya harga, membuat kendaraan beralih ke pengisian BBM lain, seperti Pertamax dan Pertalite.

Pengawas SPBU Pisang,  mengatakan penjualan Pertamax Turbo dan Dexlite menurun lebih dari 50 persen di tempatnya.

Baca juga: Wanda Terdakwa Mutilasi 3 Wanita di Padang Pariaman Tiba di Pengadilan, Keluarga Korban Minta Mati

HARGA BBM NAIK - SPBU Pisang di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/4/2026). Diketahui, harga BBM Dexlite dan Pertamax turbo mengalami kenaikan, terhitung sejak 18 April 2026.
HARGA BBM NAIK - SPBU Pisang di Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (21/4/2026). Diketahui, harga BBM Dexlite dan Pertamax turbo mengalami kenaikan, terhitung sejak 18 April 2026. (TribunPadang.com/Muhammad Iqbal)

Penurunan ini terjadi sejak harga melonjak naik pada 18 April 2026 lalu. Bahkan, kendaraan yang mengisi bahan bakar tersebut dapat dihitung jari.

"50 persen anjloknya, untuk Pertamax Turbo dan Dexlite di sini," kata Ferdinan memberikan keterangan.

Penjualan Dexlite sebelum kenaikan harga bisa mencapai 1 ton, bahkan lebih. Akan tetapi, pasca harga melonjak merosot ke 370 liter.

Ia menegaskan, harga yang melonjak tersebut membuat pengendara enggan mengisi BBM Pertamax Turbo dan lebih memilih alternatif lain.

"Agak berpengengaruh sekarang, biasanya sampai 1 ton lebih, kemarin hanya 370 liter," ujar Ferdinan.

Sedangkan untuk Pertamax Turbo, sangat sepi pembeli, padahal kata Ferdinan stok tersedia.

"Dulu sebelum naik banyak anak muda yang beli, sekarang tidak ada," tambahnya. (*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved