Harga Plastik Naik

Melawan Mahalnya Plastik di Padang, Dalima Beralih ke Keranjang Daur Ulang

Keranjang belanja hasil daur ulang limbah plastik kini menjadi primadona baru

TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
HARGA PLASTIK: Pagi itu, Senin (13/4/2026), suasana Pasar Raya Padang tampak riuh seperti biasanya. Namun, ada yang berbeda dari penampilan Dalima (52). Tangannya tidak menenteng tumpukan kantong plastik hitam atau putih yang tipis, melainkan sebuah keranjang daur ulang berwarna-warni dengan struktur yang kokoh. 
Ringkasan Berita:
  • Kenaikan harga kantong plastik atau yang akrab disebut "kantong asoy" di Kota Padang, Sumatera Barat, mulai mengubah perilaku belanja masyarakat.
  • Di tengah situasi tersebut, keranjang belanja hasil daur ulang limbah plastik kini menjadi primadona baru.
  • Keranjang daur ulang ini memiliki usia pakai yang sangat panjang. Jika kantong plastik biasanya langsung berakhir di tempat sampah setelah sekali pakai

TRIBUNPADANG.COM, PADANG-Kenaikan harga kantong plastik atau yang akrab disebut "kantong asoy" di Kota Padang, Sumatera Barat, mulai mengubah perilaku belanja masyarakat. Imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga material plastik memaksa warga mencari alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Di tengah situasi tersebut, keranjang belanja hasil daur ulang limbah plastik kini menjadi primadona baru. Tak sekadar alat angkut barang belanjaan, keranjang ini menjadi simbol perlawanan warga terhadap tumpukan sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan pelik di kota-kota besar.

Pagi itu, Senin (13/4/2026), suasana Pasar Raya Padang tampak riuh seperti biasanya. Namun, ada yang berbeda dari penampilan Dalima (52). Tangannya tidak menenteng tumpukan kantong plastik hitam atau putih yang tipis, melainkan sebuah keranjang anyaman berwarna-warni dengan struktur yang kokoh.

Baca juga: Mengenali Faktor Pemicu Seseorang Memilih Mengakhiri Hidup dan Cara Mencegahnya

Keranjang Daur Ulang: Lebih Kuat dan Ekonomis

Dalima menjelaskan bahwa keranjang yang ia bawa merupakan olahan dari bungkus minuman saset. Baginya, menggunakan kantong asoy kini terasa sangat merugikan, tidak hanya dari segi biaya tetapi juga ketahanannya yang sangat rendah.

"Banyak yang bisa dimasukkan dalam keranjang ini. Jauh lebih bagus dan kuat daripada kantong asoy yang mudah robek," ujar Dalima sembari menata barang belanjaannya di Pasar Raya Padang.

Ia menambahkan, keranjang daur ulang ini memiliki usia pakai yang sangat panjang. Jika kantong plastik biasanya langsung berakhir di tempat sampah setelah sekali pakai, keranjang buatannya bisa bertahan hingga bertahun-tahun tanpa mengalami kerusakan berarti.

Selain alasan ketahanan, faktor harga plastik yang kian mahal menjadi alasan utama peralihan ini. Kenaikan harga plastik di pasar global, yang dipicu oleh konflik antara Iran dan Israel baru-baru ini, berdampak langsung pada biaya distribusi dan operasional pedagang kecil di daerah.

Kesadaran Dalima untuk mengolah sampah plastik menjadi barang berguna didapat melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso. PKBM ini memang sudah lama konsisten memproduksi berbagai kerajinan dari limbah plastik untuk menumbuhkan ekonomi sirkular di tengah masyarakat.

Melalui sentuhan kreativitas, sampah yang tadinya tidak bernilai kini berubah menjadi cuan.

Kerajinan keranjang unik ini dipasarkan dengan harga berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 75.000 per unit, tergantung tingkat kesulitan anyaman dan ukurannya.

Masyarakat yang berminat mengikuti jejak Dalima tidak kesulitan untuk mendapatkan produk ini. Pemesanan dapat dilakukan secara daring melalui media sosial resmi PKBM Tenggang Raso, baik melalui platform Instagram maupun Facebook.

Inovasi Limbah Gelas Plastik

HARGA PLASTIK: Salah satu warga di Pasar Raya belanja menggunakan Keranjang  unik karena terbuat dari rangkaian mulut atau lingkaran gelas plastik bekas minuman ringan. Senin (13/4/2026). Konstruksi dari lingkaran plastik yang keras membuat keranjangnya sangat awet dan mampu menahan beban belanjaan yang berat.
HARGA PLASTIK: Salah satu warga di Pasar Raya belanja menggunakan Keranjang unik karena terbuat dari rangkaian mulut atau lingkaran gelas plastik bekas minuman ringan. Senin (13/4/2026). Konstruksi dari lingkaran plastik yang keras membuat keranjangnya sangat awet dan mampu menahan beban belanjaan yang berat. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Senada dengan Dalima, Sri Hartati (46) juga mulai meninggalkan kebiasaan menggunakan kantong asoy. Warga dari kelompok Berlian Sehati yang juga merupakan binaan PKBM Tenggang Raso ini memilih menggunakan keranjang hasil modifikasi limbah lainnya.

Keranjang yang dibawa Sri terbilang unik karena terbuat dari rangkaian mulut atau lingkaran gelas plastik bekas minuman ringan. Konstruksi dari lingkaran plastik yang keras membuat keranjangnya sangat awet dan mampu menahan beban belanjaan yang berat.

"Belanja jadi jauh lebih gampang dan hati tenang karena tidak menambah tumpukan sampah plastik di rumah," kata Sri. 

Baginya, kemandirian dengan membawa wadah belanja sendiri adalah langkah nyata untuk membantu lingkungan sekaligus menghemat pengeluaran harian.

Baca juga: Cuaca Padang Senin 13 April 2025: Pagi Cerah Berawan, Dini Hari Berpotensi Hujan Ringan

Dukungan Pemerintah terhadap Produk UMKM

Terpisah,  Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Padang, Fauzan Ibnovi memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif warga dan kelompok binaan UMKM. 

Menurutnya, membawa tas belanja sendiri dari rumah adalah solusi paling konkret menghadapi lonjakan harga plastik.

Pihak pemerintah daerah juga mengimbau kepada pelaku usaha ritel untuk mulai mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. 

Sebagai alternatif, para pengusaha disarankan menggunakan kardus bekas atau tas ramah lingkungan (goodie bag) bagi pelanggan.

Fauzan menekankan bahwa menggunakan produk UMKM lokal seperti keranjang daur ulang memiliki manfaat ganda. Selain hemat biaya dalam jangka panjang dan memberikan tampilan yang lebih estetik, tindakan ini secara langsung mendukung perputaran ekonomi kreatif di Kota Padang.

"Ini adalah gerakan mendukung ekonomi lokal. Kita kurangi limbah, kita bantu perajin kita, dan secara otomatis kita juga menyelamatkan lingkungan dari ancaman mikroplastik," pungkas Fauzan.

Diberitakan sebelumnya,  sejumlah pedagang mengeluhkan harga plastik yang meroket tajam di Pasar Raya Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).

Kenaikan harga ini terjadi secara merata pada hampir seluruh jenis kemasan plastik mulai dari plastik gula hingga kantong asoy.

Kenaikan harga ini diduga kuat sebagai imbas dari pecahnya perang di Iran yang memicu gejolak harga bahan baku global.

Pantauan di lokasi Rabu (8/4/2026), kenaikan harga terjadi merata pada hampir seluruh jenis kemasan plastik. Kondisi ini membuat para pedagang dan konsumen di pusat pasar terbesar di Kota Padang tersebut mulai resah.

Toni, salah seorang pedagang plastik di Pasar Raya Padang, menyebutkan bahwa kenaikan yang paling dirasakan masyarakat adalah pada produk plastik gula.

"Plastik gula sekilo yang biasanya kita jual Rp28.000, sekarang sudah melambung sampai Rp50.000. Naiknya hampir seratus persen," ungkap Toni.

Menurut Toni, kenaikan harga yang sangat drastis ini mulai terjadi sejak konflik bersenjata di Iran memanas.

Kenaikan harga ini lantas memicu protes dari para pembeli. Masyarakat yang datang ke pasar banyak yang terkejut saat mengetahui harga plastik sudah tidak sama lagi dengan minggu lalu.

Dampaknya pun mulai terasa pada omzet pedagang. Toni mengaku daya beli masyarakat menurun drastis karena pelanggan memilih untuk membatasi jumlah belanjaan mereka.

"Masyarakat komplain terus. Daya beli sekarang jauh menurun dibanding hari-hari biasanya," tambah Toni saat melayani pelanggan yang mengeluh.

Tak hanya plastik gula, produk kemasan lain seperti cup plastik juga ikut mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan.

Plastik cup yang biasanya digunakan pedagang minuman kini dijual seharga Rp16.000 per pak yang berisi 50 cup.

"Dulu harga cup itu cuma Rp11.000, sekarang naiknya jadi Rp16.000. Selisihnya sangat terasa buat pedagang kecil," jelasnya.

Kenaikan yang tidak kalah mencekik juga terjadi pada kantong plastik kresek atau yang akrab disebut kantong asoy.

Harga kantong asoy kini dibanderol mencapai Rp45.000 per ikat, padahal sebelumnya harga normal berada di angka Rp30.000.

Kenaikan sebesar Rp15.000 per ikat ini membuat para pedagang eceran maupun pelaku UMKM di Kota Padang harus memutar otak agar tidak merugi.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Anwar, pedagang plastik lainnya di Pasar Raya. Ia membenarkan bahwa seluruh bahan plastik mengalami tren kenaikan harga.

Anwar menyebutkan bahwa kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada semua jenis produk plastik tanpa terkecuali.

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved