Banjir di Padang
Kesaksian Korban Banjir: Rumah Hanyut Bak Perahu Kertas, Maini Kini Merasa Asing di Kampung Sendiri
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri, rumah-rumah di sini hanyut seperti perahu di atas air. Begitu cepat, begitu kuat," ujar Maini.
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
Ringkasan Berita:
- Kisah seorang penyintas banjir di Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumbar.
- Warga bernama Maini menyaksikan air besar menghantam permukiman.
- Derasnya arus banjir sehingga menghanyutkan rumah warga dengan mudah, bagai perahu kertas.
- Bukan hanya rumah, Surau Jamiaturrahmah juga ikut terbawa arus banjir.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Update kondisi penyintas banjir yang berada di Kelurahan lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat.
Banjir bandang diketahui melanda permukiman warga pada akhir November 2025 lalu.
Namun, hingga Februari 2026, masyarakat masih mengingat dengan jelas bagaimana air besar menghantam permukiman warga dan membuat rumah warga hanyut.
Ingatan itu juga masih segar dalam ingatan salah satu korban banjir di kawasan Lambung Bukit. Salah satunya warga bernama Maini.
Ingatannya bencana itu belum bisa lepas dari kepalanya. Minggu (15/2/2026) siang, cuaca di sekitar lokasi terdampak banjir bandang tampak cerah, namun suasana batin warga justru sebaliknya.
Maini kembali mengenang detik-detik saat air bah datang menerjang tanpa ampun.
Baca juga: Trauma Banjir Batu Busuk, Warga Lambung Bukik Tak Lagi Tenang Dengar Suara Sungai
Ia menceritakan betapa mengerikannya kekuatan air yang turun dari hulu sungai. Baginya, pemandangan hari itu adalah mimpi buruk yang menjadi nyata di depan mata kepalanya sendiri.
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri, rumah-rumah di sini hanyut seperti perahu di atas air. Begitu cepat, begitu kuat," ujar Maini dengan nada suara yang bergetar saat ditemui.
Maini bukanlah orang baru dalam menghadapi bencana. Ia mengaku sebelumnya juga pernah menjadi korban banjir besar pada tahun 2012 silam di lokasi yang sama.
Namun, menurutnya, terjangan air bah kali ini jauh lebih dahsyat dan merusak dibandingkan belasan tahun lalu.
Baca juga: Jejak Lumpur yang Memudar, Trauma yang Mengakar: Potret Muram Lambung Bukit Jelang Ramadan
Kali ini, banjir tidak hanya membawa lumpur, tapi juga menghabisi harta benda warga secara total.
Dampak dari amukan alam tersebut kini menyisakan puing-puing.
Puluhan rumah warga dilaporkan hilang tersapu arus, termasuk bangunan yang sangat berarti bagi warga sekitar, yakni Surau Jamiaturrahmah.
Hilangnya Surau Jamiaturrahmah menjadi pukulan batin tersendiri bagi Maini.
Baginya, surau itu bukan sekadar bangunan, melainkan tempat ia dan warga lainnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Baca juga: Jelang Ramadan 2026, Peziarah Padati TPU Tunggul Hitam untuk Bersihkan Makam Keluarga
| Mata Pencaharian yang Terkubur: Menagih Janji Pemulihan Ekonomi di Batu Busuk Padang |
|
|---|
| Anggota DPRD Iskandar Minta Penyintas Bencana di Huntara Kapalo Koto Sabar Tunggu Bantuan Lauk Pauk |
|
|---|
| 32 KK di Huntara Kapalo Koto Padang Belum Terima Bantuan Jadup Rp1,3 Juta, Ini Daftar Namanya |
|
|---|
| Penyintas Banjir di Kapalo Koto Terima Bantuan Lauk Pauk, Afrianti: Saya Menerima Rp16.100.000 |
|
|---|
| Penyintas Bencana Belum Terima Bansos Lauk Pauk, Kadinsos Padang: Didata Lagi dan Diajukan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/rumah-warga-rusak-akibat-banjir-bandang-1522026.jpg)