Kekeringan di Padang

Menimba Asa di Sumur Mati: Nestapa Warga Kuranji Padang Menjelang Ramadan

Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026), ritual harian warga kini juga berburu tetesan air

Tayang:
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi

"Air sumur sudah tidak ada lagi, kering total. Padahal sumur kami sudah digali cukup dalam, tetapi tetap tidak keluar air," tuturnya.

Baca juga: Ketua DPRD Sumbar Muhidi Temui Warga Kuranji, Bahas Nasib Korban Bencana Hingga Bantuan Musala

KEKERINGAN DI PADANG: Warga Kelurahan Pasar Ambacang antre mengambil air bersih, Sabtu (7/2/2026). Di RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026), ritual harian warga kini bukan untuk bekerja namun juga berburu tetesan air bersih.
KEKERINGAN DI PADANG: Warga Kelurahan Pasar Ambacang antre mengambil air bersih, Sabtu (7/2/2026). Di RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026), ritual harian warga kini bukan untuk bekerja namun juga berburu tetesan air bersih. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Kondisi ini memaksa keluarga Rosi melakukan penghematan yang menyakitkan. Setiap hari, ia dan suaminya, Yuhandri Syaf, harus menempuh jarak tertentu menuju sumber air di dekat Jembatan Kuranji.

Bagi mereka, air kini memiliki skala prioritas. Air bersih yang berhasil dijemput dengan tenaga ekstra itu diprioritaskan sepenuhnya untuk anak-anak mereka. Anak-anak harus tetap bersih dan segar sebelum berangkat menuntut ilmu di sekolah.

Sedangkan untuk urusan orang dewasa, Rosi dan suaminya harus mengalah pada keadaan. Mereka memilih menekan rasa malu dan kenyamanan demi memastikan anak-anak mereka tak kekurangan.

"Kebutuhan air yang dijemput itu terutama untuk anak mandi pergi sekolah. Kalau kami orang tua, biarlah mandi ke sungai di bawah Jembatan Kuranji saja," ucap Rosi.

Hingga pukul 10.56 WIB, antrean warga di Pasar Ambacang belum menyusut. Satu per satu jeriken terisi, namun kecemasan di wajah mereka belum juga terhapus. 

Baca juga: Bupati Annisa Suci Temui Kemendagri, Dharmasraya Segera Punya BUMD Sawit dan Pangan

Air yang mereka bawa hari ini mungkin cukup untuk memasak dan mandi sore nanti, tapi belum tentu cukup untuk menyambut fajar Ramadan yang kian dekat.

Kekeringan di Kuranji bukan sekadar masalah teknis ketersediaan air, melainkan ujian kemanusiaan. Di balik angka-angka liter air yang disalurkan pemerintah, ada rintihan warga yang mendambakan kembalinya aliran air di pipa-pipa dan sumur mereka sendiri sebuah kedaulatan air yang hilang dicuri bencana.

Malam nanti, warga Pasar Ambacang mungkin akan kembali memandang langit, berharap hujan turun membawa berkah. 

Namun jika awan tetap enggan menumpahkan isinya, maka jeriken-jeriken itu akan kembali berbaris esok pagi, menunggu keajaiban dari selang-selang mobil tangki yang melintas.(*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved