Kekeringan di Padang

Menimba Asa di Sumur Mati: Nestapa Warga Kuranji Padang Menjelang Ramadan

Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026), ritual harian warga kini juga berburu tetesan air

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi

Ringkasan Berita:
  • Sumur warga Pasar Ambacang, Kuranji, kering sejak bencana akhir tahun lalu.
  • Warga antre jeriken dan galon untuk mendapatkan air dari mobil tangki.
  • Bantuan air datang dari Damkar, BPBD, Dinas PU, dan PMI secara bergantian.
  • Warga khawatir kebutuhan air jelang Ramadan tidak terpenuhi.
  • Sebagian warga harus mengambil air ke Jembatan Kuranji atau mandi di sungai.

TRIBUNPADANG.COM,PADANG — Matahari belum tepat di atas kepala, namun peluh sudah membanjiri kening Asmida.

Di RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026), ritual harian warga kini bukan untuk bekerja namun juga berburu tetesan air bersih.

Pantauan reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda di pinggir jalan, sebuah mobil tangki Pemadam Kebakaran (Damkar) Kuranji terparkir. 

Petugas dengan sigap menyalurkan air ke dalam tedmond (tangki penampung). Di sekelilingnya, puluhan ember, jeriken, hingga galon bekas berjejer rapi seperti barisan harapan yang sedang mengantre nasib.

Sudah berbulan-bulan sejak bencana alam melanda di penghujung tahun lalu, air seolah enggan singgah di sumur-sumur warga. 

Baca juga: Update Harga Pangan di Padang Panjang: Cabai Merah Tembus Rp 66 Ribu, Cek Daftar Lengkapnya

KEKERINGAN DI PADANG: Warga Kelurahan Pasar Ambacang antre mengambil air bersih, Sabtu (7/2/2026). Puluhan tempat menampung air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
KEKERINGAN DI PADANG: Warga Kelurahan Pasar Ambacang antre mengambil air bersih, Sabtu (7/2/2026). Puluhan tempat menampung air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Asmida menceritakan betapa sumur yang dulunya melimpah, kini hanya menyisakan lubang gelap yang kering kerontang.

"Sampai sekarang sumur kering. Tidak ada air sama sekali sejak bencana akhir tahun itu," ujar Asmida dengan tatapan kosong menatap dasar jerikennya yang masih kosong.

Kekeringan ini datang di waktu yang paling tidak tepat. Kalender menunjukkan bulan suci Ramadan segera tiba. Bagi warga Pasar Ambacang, Ramadan kali ini tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang perjuangan fisik mencari sarana untuk bersuci.

Bayang-bayang kesulitan kian nyata. Tak terbayangkan oleh Asmida dan warga lainnya jika saat menjalankan ibadah puasa nanti, mereka masih harus memanggul ember-ember berat di bawah terik matahari demi mendapatkan air wudhu.

"Kebutuhan air itu sangat penting, apalagi sebentar lagi puasa. Tak terbayang nanti saat berpuasa malah harus mengangkut ember mencari air bersih," keluhnya. 

Baca juga: Angka Kemiskinan Sumbar Turun Menjadi 5,31 Persen, Namun Jumlah Warga Miskin di Desa Malah Naik

Kekhawatiran itu beralasan, sebab ibadah di bulan suci memerlukan kesucian lahiriah yang hanya bisa didapat dari air yang layak.

Bantuan memang terus mengalir secara bergantian. Mulai dari Damkar, BPBD, Dinas PU, hingga PMI bergantian mengirimkan tangki-tangki air ke pemukiman. Namun, bantuan tersebut hanyalah obat penenang sementara bagi penyakit yang jauh lebih kronis.

Muncul pertanyaan besar di benak warga sampai kapan mereka harus bergantung pada belas kasihan truk tangki.

Asmida menduga, bencana tahun lalu telah mengubah bentang alam. Aliran sungai yang berpindah arah diduga membuat resapan air ke sumur-sumur warga hilang secara permanen.

Kisah serupa dialami Rosi, warga terdampak lainnya. Baginya, setiap hari adalah perjuangan logistik yang melelahkan. Sumur di rumahnya, meski sudah digali cukup dalam, tak lagi mampu memberikan setetes air pun untuk sekadar membasuh muka.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved