Banjir di Padang

Trauma Pascabanjir, Warga Gurun Laweh Padang Cemas Setiap Hujan Deras Turun

“Sudah ada imbauan untuk tidak tinggal di rumah yang dekat sungai, tapi mau bagaimana lagi, hanya ini tempat tinggal kami,” kata Yusni.

Tayang:
Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman
PASCABANJIR- Kondisi rumah warga di kawasan Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang yang hancur karena terus terkikis aliran sungai, Kamis (1/1/2026). Salah seorang warga bernama Yusni (70) menyebut, setiap hujan deras turun, warga selalu diliputi rasa cemas akan kemungkinan terjadinya banjir susulan. 

Namun, tingginya curah hujan membuat debit air sungai kerap meningkat sehingga proses penanganan belum berjalan maksimal dan erosi tanah terus terjadi.

Puluhan Rumah di Hanyut Terseret Banjir

BENCANA PADANG- Kondisi rumah warga di kawasan Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang yang hancur karena terus terkikis aliran sungai, Kamis (1/1/2026).
BENCANA PADANG- Kondisi rumah warga di kawasan Kelurahan Gurun Laweh, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang yang hancur karena terus terkikis aliran sungai, Kamis (1/1/2026). (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)

Salah seorang warga, Desni (54), mengatakan sebelum banjir bandang terjadi, aliran Sungai Batang Kuranji berada cukup jauh dari permukiman warga, yakni sekitar 200 hingga 300 meter.

Namun, pascabencana, aliran sungai kini semakin mendekati rumah-rumah warga.

“Dulu sebelum banjir itu aliran sungai jauh dari sini. Tapi sejak banjir bandang kemarin, aliran sungainya jadi dekat ke rumah kami,” ujar Desni.

Baca juga: Berulang Kali Diterjang Banjir, Warga Tabing Banda Gadang Minta Pemerintah Segera Lakukan Penanganan

Desni mengungkapkan, lebih dari 30 rumah warga dilaporkan hilang atau hanyut akibat banjir bandang tersebut, termasuk rumah miliknya dan rumah anaknya.

Rumah yang telah ia tempati selama lebih dari 30 tahun bersama mendiang suaminya itu kini tak lagi bisa digunakan.

“Sedih sekali melihat lokasi rumah kami sekarang. Kalau ada waktu senggang, saya sering datang ke sana sekadar melepas rindu kepada almarhum suami dan mengenang perjuangan kami dulu,” tuturnya.

Saat ini, Desni bersama anak, menantu, dan cucu-cucunya terpaksa menyewa rumah sebagai tempat tinggal sementara.

Baca juga: Sungai di Batu Busuk Padang Meluap Gegara Diguyur Hujan, Zalhendri: Kembali Menghantam Rumah Warga

Ia mengaku belum ada kepastian terkait hunian tetap bagi korban banjir bandang.

“Kami sekarang ngontrak tidak jauh dari sini. Sempat ditawarkan hunian sementara, tapi setelah didata ternyata sudah penuh. Akhirnya kami diberi bantuan uang sewa untuk tiga bulan ke depan,” katanya.

 Desni juga menyebutkan bahwa satu komplek perumahan yang terdiri dari sekitar 20 rumah dan berada paling dekat dengan aliran sungai kini sudah tidak tersisa.

“Ada satu komplek dekat sungai, sekitar 20 rumah, semuanya hanyut tersapu banjir bandang,” ujarnya.

Baca juga: Banjir Kembali Rendam Puluhan Rumah di Tabing Banda Gadang, 23 Jam Berlalu Air Masih Setinggi Betis

Ia menambahkan, ancaman kerusakan masih terus terjadi.

“Yang terbaru, kemarin ada satu rumah lagi yang hancur dan hanyut karena tanahnya terus terkikis air, lokasinya di belakang rumah saya dulu,” tambahnya.

Yusni, Desni, dan warga lainnya berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dan berkelanjutan untuk mengatasi kondisi tersebut agar tidak semakin banyak rumah warga yang rusak atau hanyut, serta demi keselamatan masyarakat yang masih bertahan di sekitar aliran Sungai Batang Kuranji. (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved