Menyapa Nusantara
Menuai Altruisme Timbal Balik dari Bencana Sumatera
Fenomena berbagi yang penuh pencitraan kian tampak saat bencana di Sumatra. Empati sejati seharusnya lahir dari nurani, bukan dari sorotan kamera.
Fenomena ini seakan menampar bangsa Indonesia yang terkenal dengan prinsip gotong-royong, yang di masa sekarang sudah terasa luntur.
Padahal saudara-saudara kita yang terdampak bencana merupakan skala prioritas yang harus dibantu karena penderitaan saudara kita di Sumatra merupakan penderitaan kita juga.
Tapi nyatanya, di media sosial sudah banyak berseliweran oknum-oknum yang memanfaatkan tragedi kemanusiaan ini sebagai momentum untuk bisa menjejali opini publik bahwa dirinya merupakan orang yang sangat peduli terhadap bencana yang menimpa Sumatera, setidaknya cukup di depan kamera.
Penyakit kebudayaan semacam ini sebenarnya mudah dideteksi, tapi sangat sulit untuk mengobati penyakit kebudayaan.
Untuk sembuh dari gejala penyakit kebudayaan perlu adanya partisipasi secara komunal dan tidak mewajarkan laku yang menyimpang dari nurani kemanusiaan.
Baca juga: Presiden Prabowo Tinjau Lokasi Bencana di Sumbar: “Pemerintah Harus Hadir Secepat Mungkin”
Berderma sangatlah boleh, tetapi harus dalam koridor simpati dan empati bukan sekedar momentual untuk mengubah persepsi di media sosial.
Menyikapi bencana Sumatra
Sejatinya Indonesia merupakan negara paling dermawan di dunia berdasarkan laporan World Giving Index 2024 yang disusun oleh Charities Aid Foundation (CAF).
Dalam laporan yang didasarkan survei tahun 2023 terhadap 14.702 responden dari 142 negara dan wilayah ini, Indonesia menempati posisi teratas dengan skor 74 dari 100.
Terlepas dari oknum-oknum yang memanfaatkan momentum untuk mencari persepsi publik dari bencana yang melanda Sumatera, sudah seyogyanya kita juga mengambil langkah dan sikap.
Saat ini kita sedang menghadapi krisis akibat bencana ekologis dan harus menempatkan prinsip kemanusiaan sebagai skala prioritas.
Kita memiliki tanggung jawab bersama atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Tanggung jawab yang kita emban bisa diwujudkan dalam bentuk mulai dari doa, pikiran, tenaga, uang hingga berbagai bantuan kemanusiaan lainnya yang mempunyai skala dapat membantu saudara-saudara yang terdampak bencana.
Baca juga: Wapres Gibran Tenangkan Korban Banjir di Agam: Warga Sumatera Tidak Sendiri
Saatnya diperlukan sinergi dari kita hingga pemerintah untuk bergerak cepat untuk memastikan terbukanya akses ke berbagai lokasi terdampak bencana agar saudara-saudara kita, yang terisolasi, segera memperoleh bantuan kehidupan.
Selain itu juga diperlukan kiat pascabencana ekologis karena ke depannya terdapat tantangan yang sangat berat yakni memulihkan dan memperbaiki harkat dan martabat kemanusiaan dengan memberikan penghidupan yang layak, akses pendidikan, infrastruktur yang saling terhubung dengan daerah lain, tempat kesehatan yang memadai hingga tata kelola lingkungan yang baru saja rusak.
| Misi Mengembalikan Anak ke Sekolah: Kemendikdasmen Terjunkan Relawan di 10 Daerah |
|
|---|
| Indonesia Membangun Identitas Halal: Target Sertifikat Gratis Naik Jadi 1,35 Juta di 2026 |
|
|---|
| Presiden Prabowo Targetkan Obat Generik Murah Tersedia untuk Rakyat dalam Setahun |
|
|---|
| Infografik: Catatan Akhir Tahun, Memperkuat Pilar Kesehatan Indonesia |
|
|---|
| Mendikdasmen Serahkan Penjadwalan UAS ke Pemda Terdampak Bencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/antara-1-bencana.jpg)