Kebakaran Lahan

43 Kasus Karhutla Terjadi di Sumbar Sepanjang 2025, Terparah di Solok dan Lima Puluh Kota

"Menurut analisis sementara, Karhutla ini dipicu oleh kelalaian masyarakat dalam membuka lahan. Api kemudian merembet ke lokasi sekitar," ucapnya.

Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rezi Azwar
Dokumentasi/Damkar Kabupaten Solok
KEBAKARAN LAHAN SOLOK- Kebakaran lahan melanda lahan karet milik seorang warga di Jorong Kampuang Tangah, Nagari Bukit Tandang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Rabu (18/6/2025) malam. Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat sebanyak 43 kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi sepanjang tahun 2025. 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat sebanyak 43 kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi sepanjang tahun 2025.

"Selama tahun 2025 ini, kami mencatat sebanyak 43 kejadian karhutla di Sumbar. Kejadian ini tersebar di beberapa kabupaten dan kota," ujar Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, Ferdinal Asmin, saat dikonfirmasi TribunPadang.com, Senin (7/7/2025).

Ferdinal menyebutkan, kasus Karhutla tersebut terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Kabupaten Solok, Sijunjung, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, Dharmasraya, dan Kota Padang.

"Dari sejumlah daerah itu, yang paling parah terjadi di Kabupaten Solok dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Laporan kejadian paling banyak juga datang dari Kabupaten Solok, khususnya di sekitar Danau Singkarak," jelasnya.

Baca juga: Orang Tua dan Pedagang Rugi, Dugaan Monopoli Seragam Sekolah di Padang Disorot Ombudsman

Total luas lahan yang terbakar hingga saat ini mencapai sekitar 75 hektare, yang sebagian besar berada di Areal Penggunaan Lain (APL) serta sebagian di kawasan hutan lindung.

"Berdasarkan data yang kami terima, lahan terbakar mencapai 75 hektare dari 43 kasus kebakaran. Sekitar 88 persen di antaranya berada di lahan APL, dan sisanya di kawasan hutan lindung," paparnya.

Lebih lanjut, Ferdinal menyebut penyebab utama Karhutla diduga karena kelalaian masyarakat saat membuka lahan secara masif, hingga api merembet ke area lain.

"Menurut analisis sementara, Karhutla ini dipicu oleh kelalaian masyarakat dalam membuka lahan. Api kemudian merembet ke lokasi sekitar," ucapnya.

Baca juga: 8 Fakta Mayat Pria Tanpa Identitas di Sungai Lubuk Minturun Padang, Polisi Masih Cari Keluarga

Menanggapi kejadian ini, Pemprov Sumbar telah mengambil sejumlah langkah pencegahan untuk meminimalisir dampak kebakaran.

"Kami telah melakukan berbagai tindakan, seperti memberikan imbauan melalui unit-unit kerja di kabupaten dan kota agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait tentang ini," katanya.

Saat menerima laporan karhutla, pihaknya bersama instansi terkait langsung melakukan pemadaman.

"Begitu ada laporan, kami langsung turun bersama unit kerja terkait, dibantu TNI, Polri, BPBD, dan masyarakat setempat untuk memadamkan api," ungkapnya.

Baca juga: Listrik untuk Rakyat: PLN Dorong Hilirisasi Gabah di Pasaman

Ferdinal memperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung hingga Agustus mendatang.

Oleh karena itu, pihaknya terus mengantisipasi agar karhutla tidak meluas.

"Berdasarkan prediksi BMKG, kemarau masih akan terjadi hingga Agustus. Selama periode itu, kami akan terus berupaya menekan angka Karhutla agar tidak semakin meluas," tutupnya. (TribunPadang.com/Muhamad Afdal Afrianto)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved