Seni Budaya
10 Pepatah Minangkabau Patut Jadi Pedoman Bagi Gen Z
BERIKUT ini uraian tentang Pepatah Minangkabau guna menjadi panduan sekaligus bisa jadi pedoman bagi generasi Z atau Gen Z. Simak satu per satu denga
BERIKUT ini uraian tentang Pepatah Minangkabau guna menjadi panduan sekaligus bisa jadi pedoman bagi generasi Z atau Gen Z. Simak satu per satu dengan penjelasannya sebagai berikut:
1. "Alun takilek, alah takalam"
Artinya, sesuatu belum terjadi tapi sudah terasa tandanya. Pepatah ini mengajarkan pentingnya kepekaan dan membaca situasi. Dalam hidup, tidak semua hal datang secara tiba-tiba.
Terkadang ada tanda-tanda kecil yang menunjukkan perubahan besar akan terjadi, entah dalam hubungan, pekerjaan, atau pertemanan.
Untuk Gen Z yang hidup di era cepat dan instan, kemampuan merasakan "getar" sebelum sesuatu benar-benar terjadi adalah bentuk kecerdasan emosional yang penting diasah.
2. "Biduak lalu, kiambang batauik"
Peribahasa ini menggambarkan bahwa meski ada peristiwa atau masalah yang sempat mengganggu ketenangan, keadaan akan kembali pulih seperti sedia kala. Biduak (perahu) melintas, air beriak, tapi setelah itu, kiambang (tanaman air) akan menutup kembali.
Hal ini menyiratkan pesan untuk tidak terlalu larut dalam konflik, dendam, atau masalah. Dalam hidup, perbedaan pendapat dan konflik pasti terjadi. Tapi jangan biarkan itu membuat hidupmu terus bergelombang. Belajar memaafkan dan move on adalah tanda kedewasaan.
3. "Manurun ka bawah, maninjau ka dalam"
Maknanya adalah merendahkan hati dan melakukan introspeksi. Dalam setiap keberhasilan atau jabatan tinggi, kita tetap perlu membumi dan tidak lupa diri. Anak muda zaman sekarang, terutama yang aktif di media sosial, sering tergoda untuk tampil tinggi dan wah.
Tapi pepatah ini mengingatkan bahwa semakin tinggi posisi kita, semakin penting untuk menunduk dan menilai kembali langkah-langkah yang telah kita ambil.
4. "Urang baumpamo, adat bajalan"
Artinya, orang Minang biasa menyampaikan sesuatu dengan perumpamaan, dan adat selalu menjadi panduan hidup. Pepatah ini menunjukkan bagaimana cara orang Minang menjaga etika dalam berbicara dan bertindak.
Dalam dunia modern yang penuh keterbukaan dan kebebasan berekspresi, peribahasa ini mengingatkan kita agar tetap menjaga cara penyampaian agar tidak melukai orang lain. Kata-kata yang baik, meski menyampaikan kritik, akan lebih diterima jika disampaikan dengan perumpamaan yang bijak.
5. "Dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang"
Pepatah ini sangat relevan untuk Gen Z yang semakin mobile, sering berpindah kota, negara, bahkan dunia maya. Ini tentang menghargai budaya dan aturan setempat.
Ketika kita berada di tempat baru, kita harus tahu cara menyesuaikan diri. Jangan memaksakan kebiasaan sendiri, tapi belajarlah menghormati lingkungan tempat kita berada. Ini bentuk toleransi dan kearifan yang akan membawa kita diterima di mana saja.
6. "Bapaga dalam hujan, basandiang dalam paneh"
Secara harfiah artinya adalah memagar diri saat hujan dan bersanding saat panas. Ini simbol dari kesiapan menghadapi segala kondisi. Pepatah ini mengajarkan untuk tidak menunggu masalah datang baru bersiap.
Dalam konteks anak muda, pepatah ini mengajarkan pentingnya perencanaan masa depan, dari mulai menabung, mengembangkan skill, sampai menjaga relasi. Jangan tunggu terdesak baru bergerak.
7. "Manjapuik nan tatingga, manampuah nan takalak"
Artinya, menjemput yang tertinggal dan menyelesaikan yang belum selesai. Ini bicara soal tanggung jawab. Anak muda hari ini sering terjebak dalam multitasking, kadang ada yang tertinggal atau terbengkalai.
Pepatah ini mengingatkan agar kita tidak meninggalkan kewajiban yang belum dituntaskan. Ini juga tentang menyelesaikan urusan masa lalu, baik itu permintaan maaf, hutang, atau janji, agar hidup bisa lebih ringan ke depannya.
8. "Salah tapijak, binaso kaki"
Artinya, satu langkah salah bisa membawa celaka. Ini pepatah tentang kehati-hatian. Di era media sosial yang serba cepat, satu unggahan bisa berdampak besar.
Pepatah ini mengingatkan agar kita berpikir dulu sebelum bertindak, apalagi saat mengambil keputusan besar. Jangan karena ikut tren, kamu malah masuk masalah. Kehidupan itu bukan game yang bisa di-reset.
9. "Ka ateh indak baselo, ka bawah indak bauru"
Artinya tidak memiliki pegangan ke atas, dan tidak berpijak ke bawah. Hidup jadi tanpa arah dan tak jelas posisinya. Ini pepatah yang relevan untuk generasi muda yang sering merasa kehilangan arah atau makna hidup.
Ini adalah pengingat untuk membangun fondasi hidup yang kuat, punya prinsip, tujuan, dan identitas diri. Jangan hanya ikut-ikutan, tapi pahami benar apa yang kamu yakini dan tuju.
10. "Nan ameh indak salalu masak"
Maknanya adalah hal yang berharga tidak selalu langsung bisa dinikmati. Seperti emas, yang butuh waktu untuk diproses agar bersinar.
Dalam hidup, segala sesuatu butuh proses dan ketekunan. Jangan terburu-buru ingin hasil instan. Pepatah ini sangat pas di tengah budaya serba cepat sekarang. Ingatlah bahwa proses yang panjang sering kali menghasilkan sesuatu yang lebih kuat dan tahan lama.
(Wahyu Saptio Afrima, Mahasiswa Sastra Minangkabau, FIB- Universitas Andalas. Magang di Tribun Padang.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Viva-LAvida.jpg)