Literasi Digital Pasbar

Eksistensi Majalah Sekolah di Era Digitalisasi

Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menjadi muasal bagi penumbuhkembangan budaya literasi di Indonesia yang ditandai ..

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fuadi Zikri
Guru Teknik Ketenagalistrikan di SMK Negeri 1 Lembah melintang Sri Wahyuni.
Guru Teknik Ketenagalistrikan di SMK Negeri 1 Lembah melintang Sri Wahyuni menunjukkan majalah sekolah yang diterbitkan. 

Oleh Sri Wahyuni, S.Pd. Gr., Guru Teknik Ketenagalistrikan SMKN 1 Lembah melintang, Pasaman Barat.


PERMENDIKBUD Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menjadi muasal bagi penumbuhkembangan budaya literasi di Indonesia yang ditandai dengan peluncuran program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) pada tahun 2016.

Rendahnya minat baca warga Indonesia yang menjadi salah satu indikasi bahwa rendahnya mutu pendidikan Indonesia yang mendasari pemerintahan Indonesia khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjadikan GLS sebagai bagian dari solusi permasalahan pendidikan yang dialami.

Selain itu, Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2024 Tentang Kurikulum Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, menyatakan pada lampiran III tentang pengembangan ekstrakurikuler bahwa salah satu jenis dan format kegiatannya adalah jurnalistik.

Hal ini tentu berkaitan erat dengan legalitas kegiatan literasi sekolah yang sangat didukung oleh kurikulum sekolah.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, terdapat dua makna istilah literasi, yaitu: (1) kemampuan menulis dan membaca; (2) pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau aktivitas tertentu.

Dalam konteks GLS, literasi merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/ atau berbicara. GLS juga menjadi upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Melalui pembinaan berkelanjutan, siswa SMK yang berdesain teknologi dapat memanfaatkan GLS sebagai akomodasi untuk meningkatkan kecakapan kognitif, sosial, bahasa, dan spiritual dengan cara mengembangkan kemampuan berpikir tinggi atau HOTS ( Higher Order Thinking Skills ) yang terstruktur untuk siap menjadi pekerja di industry 4.0.

Perlunya peningkatan kemampuan literasi di Indonesia didorong oleh hasil penelitian PISA 2009, PISA 2012, PISA 2015, PIRLS 2011 yang menyatakan bahwa tidak terjadinya perkembangan membaca secara signifikan sehingga kemampuan literasi peserta didik Indonesia masih tergolong rendah dan harus ditingkatkan. Sementara terjadi peningkatan pada tahun 2018 yaitu Indonesia berada pada posisi 74 menjadi 71 pada tahun 2022.

Hal ini menandakan adanya peningkatan kemampuan baca yang diuji secara acak pada siswa yang berusia 15 tahun. Disisi lain, pelaku literasi perlu mempertimbangkan beberapa poin penelitian yang dilakukan oleh Indeks Aktivitas Menulis dan Membaca (Indeks ALIBACA 2018) pada 34 provinsi di Indonesia.

Bahwa tantangan program GLS masih cukup besar. Pertama, kondisi sarana dan prasarana untuk mendukung program GLS, yakni perpustakaan dan tenaga pengelola perpustakaan sekolah masih jauh dari memadai; SMK sejumlah 60,34 persen dan hanya 27 persen dalam keadaan baik.

Kedua, sekolah-sekolah yang telah melaksanakan program GLS terancam tidak berkelanjutan apabila tidak didukung dengan adanya sarana dan prasarana, serta SDM pengelola perpustakaan sekolah yang memadai guna mendukung program GLS sebagai program berkesinambungan.

Menjawab kendala yang dianalisis oleh Indeks ALIBACA ini, bahwa untuk perpustakaan di Kabupaten Pasaman Barat dalam kondisi yang memadai, baik sarana maupun prasarananya.

Organisasi keliterasiannya pun sangat solid; Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat, yang kerap sekali mengadakan lomba antar sekolah se-kabupaten Pasaman Barat dan Pasaman. Mereka juga ekses melakukan pembinaan literasi ke sekolah-sekolah.

Di setiap nagari juga disediakan pustaka yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Sebagai salah satu sekolah yang peduli literasi di SMK Negeri 1 Lembah Melintang, bahkan telah dilakukan pengimplementasian GLS sebagai bagian dari program SMK Rujukan yang diterima pada tahun 2019.

Adapun sub program yang telah dijalankan adalah penataan perpustakaan sekolah, peningkatan pelayanan, sosialisasi dan implementasi literasi dalam pembelajaran, serta fasilitas penerbitan dan publikasi hasil kerja siswa.

Dengan demikian, tahapan literasi tentang pembiasaan dan pengembangan sudah berhasil dilaksanakan.

Hanya saja, yang perlu digarisbawahi adalah Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Bagaimanapun pemerintah membuat program, bagaimana upaya sekolah melengkapi dan memperindah perpustakaan, mendirikan pojok literasi di setiap kelas dan taman-taman sekolah pada kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), jika SDM-nya tidak mau dibentuk, maka semuanya akan sia-sia.

Hal yang sedemikian rupa tersebut hanya tampak sebagai bukti otentik saja, bahwa disekolah tersebut mendukung kegiatan literasi. Jauh dibalik itu semua, harapan kita sebagai guru tidaklah terlalu muluk, minimal siswa fase E dan F ini berada pada level C2 kognitif, yaitu siswa mampu menjelaskan apa yang dibaca atau yang diamatinya dengan lugas tanpa ragu-ragu.

Sementara pada kenyataannya, yang kita hadapi sehari-hari di dalam kelas adalah rata-rata siswa tidak mampu melakukannya secara mandiri.

Terkait dengan hal ini, dalam workshop penyuluhan siber dan pelatihan jurnalistik digital pada hari kamis, 7 Maret 2024 bertempat di Aula Kantor Bupati Pasaman Barat. Salah seorang narasumber dari Tribun, Setya Krisna Sumargo menyatakan bahwa “minat baca buku siswa tidak bisa dipaksakan” sehingga surat kabar atau koran yang dahulunya cetak sudah beralih ke digital.

Akses berita sudah dalam bentuk narasi video pendek yang dapat diakses kapan saja, dimana saja melalui satu sentuhan gawai tanpa biaya beli buku atau Koran.

Menurut penulis, hal ini memang yang paling efisien dilakukan oleh Tribun dengan jargon “Mata Lokal Menjangkau Indonesia”, pembacanya skala nasional dari seluruh kalangan.

Sementara yang kita hadapi di SMK adalah pelajar dengan usia 17-21 tahun, yang misalnya guru mendorong siswa untuk membaca teks di Handphone, siswa lebih memilih chatingan, buka media sosial atau YouTube.

Atau misalnya diberi waktu untuk membaca dipojok literasi kelas, mereka malah main game di sana. Ini hanya sebagian contoh kecil bagaimana siswa dan guru bertransformasi dari zaman analog ke zaman digitalisasi yang penuh tantangan ini.

Sebagai guru dan Pembina ekstrakurikuler, Penulis memandang literasi menjadi dua variable. Meskipun satu sama lainnya tampak relevan, tentunya dalam aspek penerapan akan terjadi perbedaan prioritas.

Pertama sebagai guru, harapan utamanya tentang literasi paling minimum adalah siswa mampu menjelaskan apa yang dibaca atau apa yang diamatinya berdasarkan tingkat kompetensi yang dipelajari sehingga dapat diterapkannya dalam pembelajaran.

Hal ini sangat kontan efeknya ketika siswa akan praktikum, tidak hari-hati membaca spesifikasi alat akan berdampak fatal terhadap keselamatan kerja.

Kedua, sebagai Pembina ekstrakurikuler tentunya dengan cakupan yang lebih luas. Meskipun anggota TLS di SMKN 1 Lembah Melintang hanya berjumlah 7 orang siswa dari 980 siswa ditahun 2024.

Tetapi kami optimis bahwa yang paling dekat dengan kreativitas siswa adalah penerbitan majalah sekolah. Memang masih konvensional tetapi tetap ada sentuhan digitalnya.

Bagian terpentingnya adalah seluruh prosesnya mengandung literasi, mulai dari penentuan tema, pengumpulan data, analisis data, layouting dan printing. Rubrikasinya yang kompleks mencakup seluruh aspek yang terkandung dalam visi misi GLS, misalnya mini riset, artikel, cerpen, puisi, karikatur, komik, dll. Bahkan ada interaksi teka-teki silang berhadiah yang dibuat untuk menarik siswa membaca seluruh rubrik.

Meskipun sejak awal targetnya minimal 2 kali terbit selama setahun, namun pada kenyataannya sejak tahun 2015, majalah sekolah SMKN 1 Lembah Melintang dengan nama “JAWARA” baru terbit sebanyak 6 edisi. Secara keorganisasian, hal ini terkesan pasang-surut.

Namun hingga hari ini pihak sekolah dan komite tetap konsisten untuk melegalkan kegiatan GLS sebagai ekstrakurikuler pilihan dengan kegiatan utama penerbitan majalah sekolah semampu tim dengan pertimbangan dana dan masalah teknis yang dihadapi oleh TLS.

Melalui kegiatan penerbitan majalah sekolah ini, anggota tim akan merasakan pengalaman organisasi yang komplet, yaitu pengalaman sastra (menulis dan musikalisasi puisi, cerita pendek dan bersambung), jurnalistik (menulis berita, artikel, opini, dan feature), gambar manual (karikatur dan komik), teknik pengambilan foto, desain majalah (Photoshop) dan kewirausahaan (Rancangan Anggaran Biaya/RAB produksi dan pemasaran).

Apakah ini bisa dilayani oleh satu orang pembina saja? Jawabannya tentu tidak, Penulis yang notabenenya adalah teknik ketenagalistrikan tidak akan mampu bekerja sendiri membentuk tim dengan kemampuan dasar siswa yang beragam.

Akan ada banyak masukan dari rekan guru, karyawan dan karyawati SMKN 1 Lembah Melintang yang secara intens membantu seluruh kegiatan.

Bahkan masyarakat setempat memberikan apresiasi berupa moril dan materiil karena siswa kita juga diarahkan untuk mencari iklan dan memasarkan majalah sekolah kepada masyarakat dilingkungan sekitar sekolah.

Terlepas dari trik, teknis, atau upaya untuk meningkatkan literasi di kalangan siswa, selama itu sesuai dengan kebutuhan siswa maka hal tersebutlah yang menjadi prioritas.

Walaupun sangat jauh dari kebiasaan baca di negara Finlandia atau jepang, minimal siswa kita di Kabupaten Pasaman Barat ini mau merujuk pada kota Yogyakarta yang tingkat tengah kehidupan kita.

_____
Baca berita terbaru di Saluran TribunPadang.com dan Google News

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
Live
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
VS
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
VS
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved