Literasi Digital Pasbar

Menyelami Keanekaragaman Budaya di SMA Negeri 2 Ranah Batahan

SMA Negeri 2 Ranah Batahan, Pasaman Barat menyadari pentingnya mempersiapkan siswanya untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Editor: Rahmadi
Dok. Pribadi
Penampilan budaya oleh siswa SMA Negeri 2 Ranah Batahan, Pasaman Barat. 

Oleh: Fredy Handoko, S.Pd Guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Ranah Batahan, Kecamatan Ranah Batahan, Pasaman Barat

Dalam perjalanan menuju masa depan yang penuh harapan, SMA Negeri 2 Ranah Batahan, Pasaman Barat menyadari pentingnya mempersiapkan siswanya untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. 

Melalui pendekatan pendidikan yang berbasis pada keberagaman budaya, sekolah ini tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, tetapi juga membekali siswa-siswinya dengan keterampilan yang diperlukan untuk menjadi pemimpin masa depan yang dapat beradaptasi dengan cepat di tengah-tengah keragaman.

Program pengayaan kultural menjadi salah satu pilar utama dalam pendekatan pendidikan di SMA Negeri 2 Ranah Batahan. Melalui kegiatan seperti festival budaya dan pentasseni, siswa diajak untuk menghargai dan merayakan kekayaan budaya Indonesia dalam segala aspeknya. 

Dengan demikian, mereka tidak hanya menjadi penjaga warisan nenek moyang, tetapi juga menjadi duta kebudayaan yang dapat berinteraksi dengan dunia luar secara lebih luas.

SMA Negeri 2 Ranah Batahan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga sebuah arena yang memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia dalam segala warna, irama, dan harmoni.

Baca juga: Antusias Siswa se Sumbar saat Gubernur Launching Pesantren Ramadan Kolaborasi Tahun 1445 Hijriah

Terletak di wilayah yang dikelilingi oleh beragam suku dan budaya, sekolah ini menjadi cerminan dari keberagaman yang mempesona dengan siswa-siswinya yang berasal dari latar belakang suku dan budaya yang berbeda-beda, SMA Negeri 2 Ranah Batahan menjadi sebuah laboratorium sosial yang menarik dan patut untuk diselami.

Di kelas-kelasnya, kita dapat menemui nuansa Jawa yang kental, dengan anak-anak yang fasih dalam bahasa Jawa dan mengenakan busana adat Jawa dalam berbagai acara sekolah. Mereka membawa serta kekayaan tradisi leluhur mereka ke dalam ruang kelas, menciptakan suasana yang hangat dan menyatu, membuat kita sebagai warga lokal yang datang ke sekolah ini seakan lupa bahwa kita tidak sedang berada di pulau Jawa. 

Sementara itu, pola dan struktur bangunan sekolah dengan pesona khas yang bentuk atapnya seperti tanduk kerbau, layaknya rumah adat Minang membawa kita pada perjalanan etnografi arsitektur yang memikat. Atmosfer kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya Minangkabau terasa sangat pekat tanpa mengurangi khasanah budaya lainnya.

Namun, tidak kalah menariknya adalah kehadiran siswa-siswi dengan latar belakang budaya suku Mandailing. Disertai semangat dan kegigihan yang khas, mereka membawa warna tersendiri dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti permainan alat musik tradisional gondang sabangunan, sarune bolon, dan sarune ni tigor. 

Mereka juga dikenal dengan kebiasaan dalam merayakan acara adat, sering kali dihadiri oleh teman-teman dari budaya lain sehingga menciptakan kesempatan untuk saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Baca juga: Begitu Sulitnya Kehidupanku Seorang Anak Nelayan

Dalam ruang kelas, perbedaan budaya menjadi sumber pembelajaran yang tak ternilai. Diskusi tentang kepercayaan, tradisi, dan adat istiadat menjadi momen untuk memahami bahwa keberagaman adalah sebuah kekayaan, bukan sebuah hambatan ataupun masalah.

Tidak hanya di dalam kelas dan pada saat pembelajaran formal saja, keberagaman budaya juga tercermin dalam kegiatan ekstrakurikuler. Paduan suara sekolah menggabungkan berbagai aliran musik tradisional dari berbagai daerah, menciptakan harmoni yang memesona. 

Tim tari menggabungkan gerakan-gerakan Jawa, Minang, dan Mandailing, menciptakan pertunjukan yang memukau dan menginspirasi. Baru- baru ini SMA Negeri 2 telah membuka ekstrakurikuler permainan alat musik gamelan yang memungkinkan para siswanya dapat mengaransemen musik pengiring beragam kegiatan bernuansa Jawa.

Guru-guru di SMA Negeri 2 Ranah Batahan berusaha menciptakan lingkungan yang terbuka dan mendorong dialog antarbudaya, memastikan bahwa setiap siswa merasa dihargai dan didengar. 

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved