Pilrek Unand
Efa Yonnedi: Menuju Unand 1, Lakukan Pengelolaan ala Korporasi, dan Catatan Targetnya
DEKAN Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unand, Dr. Efa Yonnedi, SE. MPPM. Ak. CA. CRGP, maju bertarung dalam proses pemilihan Rektor Unand
DEKAN Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Dr. Efa Yonnedi, SE. MPPM. Ak. CA. CRGP, maju bertarung dalam proses pemilihan Rektor Unand periode 2023-2028 mendatang.
Rilis yang diterima redaksi menyebutkan, Efa bermodalkan pengalaman mengelola sektor bisnis hampir 15 tahun sebagai komisaris, Efa Yonnedi berkeyakinan bahwa Unand mesti dikelola secara professional seperti halnya mengelola korporasi agar potensi Unand yang besar dapat bermanfaat bagi masyarakat luas secara optimal.
Efa menyadari bahwa bisnis inti perguruan tinggi adalah memproduksi lulusan berkompetensi tinggi.
"Kebermanfaatan lulusan bagi masyarakat luas akan diukur dengan nilai jual Ijazah di pasar kerja. Untuk meningkatkan nilai jual dibutuhkan input dan proses pendidikan berkelas dunia. Kami akan mengupayakan seluruh sumber daya yang tersedia untuk kerja-kerja pendidikan, penelitian, dan pengabdian mengarah kepada peningkatan daya jual lulusan, tidak hanya di pasar kerja domestik tapi lebih utama di pasar kerja internasional,” tukas jebolan Doktor dari Manchester Inggris ini.
Untuk selalu unggul di pasar kerja internasional, Unand harus melanjutkan internasionalisasi insitusinya. Jika terpilih, Dr. Efa menargetkan Unand berada di urutan 500 papan atas universitas dunia dengan minimal 25 persen program studinya terakreditasi internasional. Namun, Dr. Efa menilai bahwa ranking dunia itu bukanlah segalanya.
Beliau mengatakan, “tujuan utama kita bukanlah ranking-ranking itu, tapi kita menggunakan ranking sebagai sinyal yang menunjukkan kepada stakeholders bahwa Unand ini adalah universitas penghasil lulusan yang bermutu. Tujuan akhir kita tetap bahwa Unand ini bermanfaat bagi masyarakat banyak, bagi segenap umat manusia.”
Mantan Komisaris Utama Bank Nagari 2014-2018 ini sadar bahwa internasionalisasi perguruan tinggi itu mahal, tetapi harus dilakukan sebagai investasi ke depan.
Agar biaya pendidikan tidak sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat melalui peningkatan biaya kuliah, Efa bersiasat mencari sumber pendapatan yang relevan dengan kompetensi Unand. Income generating unit diarahkan kepada pemanfaatan kapasitas menganggur (idle capacity) segenap sumberdaya yang dimiliki.
“Misalnya kita memanfaatkan laboratorium untuk melayani kebutuhan dunia usaha dunia industri ketika tidak digunakan untuk kegiatan pendidikan. Layanan ini berbayar dan menjadi sumber pendapatan universitas. Ini yang saya maksud dengan memanfaatkan kapasitas menganggur,” jelasnya.
Di samping itu, Efa setuju dengan ide mendirikan unit bisnis lain di Unand. Dengan jumlah mahasiswa hampir 35.000 ditambah dengan dosen dan tenaga kependidikan, Efa melihat Unand memiliki potensi pasar yang besar untuk pemasaran kebutuhan barang dan jasa.
“Peluang pasar ini perlu dimanfaatkan bekerja sama dengan pelaku-pelaku ekonomi terutama masyarakat sekitar kampus untuk dijadikan sebagai income generating yang digunakan untuk menekan biaya pendidikan dan peningkatan kesejahteraan sivitas akademika. Di samping itu, kerjasama bisnis ini juga merupakan salah satu tanggung jawab sosial dari keberadaan Unand di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Seiring dengan tujuan internasionalisasinya, riset, inovasi, dan pengabdian Unand harus mengarah kepada topik-topik yang menyelesaikan permasalahan pembangunan. Meskipun Unand sudah memiliki banyak paten, namun Efa melihat masih perlu kerjasama lebih intens dengan dunia industri agar paten-paten itu komersil.
“Ke depan, riset dan pengabdian tidak lagi menjadi beban aggaran hanya untuk tujuan publikasi, tapi mampu menelorkan inovasi-inovasi yang bernilai jual tinggi,” terawang Konsultan Bank Dunia 2009-2013 ini.
“Di samping hasil-hasil riset itu menghasilkan pendapatan untuk universitas, kemampuan publikasinya menunjukkan bahwa Unand ini merupakan mesin produksi lulusan yang mumpuni,” jelasnya.
Apa yang diungkapkan Dekan FEB ini bukan wacana teoritis saja. Sebagai Dekan, Efa sudah menerapkan ide bisnisnya di lingkungan FEB dengan membuka unit bisnis cafetaria dan coffee shop bekerja sama dengan Koperasi Pegawai FEB.
“Kita memberikan contoh unit bisnis moderen yang transparan dan berkeadilan dengan melibatkan alumni pengusaha dan koperasi kita sendiri. Kita selalu bisa memonitor penjualan mingguan bahkan harian dari unit bisnis melalui aplikasi di handphone, sehingga pembagian hasil terlaksana secara akurat.
Dengan melibatkan koperasi, kita juga mendorong koperasi untuk beralih ke usaha nyata di samping simpan-pinjam yang selama ini dijalankan. Tambahannya, unit bisnis ini menjadi tempat bagi mahasiswa untuk magang dan praktek kewirausahaan. Satu kali dayung dua tiga pulau terlampau,” jelas Pak Dekan ini bersemangat.
Dalam waktu dekat, Efa juga merencanakan dibukanya Teaching Factory (TEFA) bekerja sama dengan salah satu minimarket milik putra daerah sebagai ajang praktek mahasiswa vokasi Diploma 3 FEB. “Bangunannya sedang kita renovasi sesuai selera masa kini,” tukuknya.
Hal yang tidak kalah penting adalah ketersediaan sistem informasi yang terintegrasi. Sistem informasi berperan penting dalam membantu perguruan tinggi dalam mengelola sumber daya, meningkatkan efisiensi operasional, meningkatkan layanan kepada mahasiswa, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.
Hal ini juga membantu perguruan tinggi untuk tetap relevan dan kompetitif dalam lingkungan pendidikan yang terus berubah dan kompetitif. “ Ke depan, manajemen universitas akan didukung oleh sistem informasi yang terintegrasi, sehingga mendukung efisiensi dan efektivitas operasional”, imbuhnya.
Pada Hari Selasa (26/9/2023) telah dilakukan pencabutan nomor urut sementara terhadap 12 bakal calon Rektor Unand Periode 2023-2028. Dengan mengantongi nomor urut 10 hasil pencabutan Dr. Efa Yonnedi bersaing dengan 11 calon lainnya menawarkan program-prgram jitu untuk memimpin Unand lima tahun ke depan.
“Hal yang penting kami menawarkan program-program terbaik untuk kemajuan Unand ke depan dengan harapan disukai oleh segenap stakeholders, tentunya berpulang kepada civitas akademika menilai apakah tawaran kami mendapatkan tempat di hati mereka," tutup Dekan FEB periode 2020-2024 ini.(/rls)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/MPPM-Philosphi.jpg)