Festival Warisan Budaya Tak Benda

Festival Warisan Budaya Tak Benda akan Digelar di Sumbar, Ada Peserta dari Mesir, India hingga Turki

Festival Warisan Budaya Tak Benda akan digelar di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota Kota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar)

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Wahyu Bahar | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Wahyu Bahar
Jumpa pers terkait Festival Warisan Budaya Tak Benda yang akan digelar di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada 12 hingga 17 Oktober 2023 mendatang, Senin (4/9/2023). 

Menurutnya, festival ini pengejawantahan pewarisan budaya khususnya dari Sumbar, karena warisan budaya tak boleh hanya tertulis dalam secarik kertas.

Supardi menjelaskan, Payakumbuh dan Lima Puluh Kota Kota dipilih menjadi tuan rumah karena di kedua daerah tersebut masih banyak warisan budaya yang akan terungkap.

"Kami baru siap diskusi tentang masalah peradaban di Maek yang merupakan rahasia dunia yang harus kita ungkap, karena diprediksi sudah ada sejak 2000 tahun sebelum Masehi, buktinya ada menhir di dalamnya," kata dia.

Belum lagi, katanya, ada tengkorak di daerah Danguang-danguang yang diperkirakan sudah ada sejak abad 1 yang patut untuk diungkap. Atas dasar itulah, katanya Luhak Limo Puluah Koto dipilih menjadi tuan rumah.

"Kita sudah konsultasi ke Kemendagri, mendapatkan apresiasi, diminta lebih diperbesar, tidak ada festival yang sama di Indonesia sebelumnya. Kementerian juga meminta Presiden Jokowi untuk datang," ujar Supardi yang berasal dari Payakumbuh itu.

Baca juga: Rangkaian HUT Kota Padang ke-354, ada Festival Randai Mandabua Ombak Hingga Gowes Siti Nurbaya

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sumbar Syaifullah menuturkan, Festival Warisan Budaya Tak Benda ini diharapkan dapat merangsang masyarakat untuk semakin menggali kembali aspek kebudayaan daerah.

Kata dia, Disbud Sumbar setiap tahunnya terus melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian budaya. Syaifullah mengatakan, kegiatan kali ini bukan satu-satunya hajatan untuk aktivasi Warisan Budaya Tak enda.

"Semua kegiatan kita muaranya ke sana, presentase warisan budaya benda dan tak benda. Semua kegiatan dikawal apakah lomba, festival bimtek harus bermuara ke pelestarian warisan budaya benda dan tak benda," ujar Syaifullah.

Contohnya, kata dia, pekan kebudayaan daerah (PKD) yang digelar dengan mempertunjukkan kuliner tradisional randang, lamang tapai, bahkan randang lokan.

"Sebelumnya kita juga mengadakan lomba cerdas budaya, diantaranya lomba pasambahan," pungkas dia.(*)

 

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved