Festival Warisan Budaya Tak Benda
Festival Warisan Budaya Tak Benda akan Digelar di Sumbar, Ada Peserta dari Mesir, India hingga Turki
Festival Warisan Budaya Tak Benda akan digelar di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota Kota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar)
Penulis: Wahyu Bahar | Editor: Rahmadi
TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Festival Warisan Budaya Tak Benda akan digelar di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota Kota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada 12 hingga 17 Oktober 2023.
Kegiatan yang mengusung tema 'The voice within/ suara dalam diri ini digelar oleh Dinas Kebudayaan atas inisiasi Ketua DPRD Supardi, yang juga melibatkan penggiat-penggiat budaya di Sumbar.
Selain itu, festival yang konon merupakan hajatan pertama di Indonesia ini juga dalam rangka memperingati 20 tahun Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO yang jatuh pada tanggal 17 Oktober 2023.
Rencananya, kegiatan yang ditampilkan ialah pertunjukan, pameran kuliner dan demo masak, pameran manuskrip, permainan anak nagari, pemutaran film dan warisan budaya, tour budaya serta nominasi Intangible Cultural Heritage (ICH) ke UNESCO.
Kurator festival Warisan Budaya Tak Benda kali ini, S. Metron mengatakan bahwa ada sekitar 20 pertunjukan warisan budaya tak benda, baik itu dari mancanegara, provinsi lain di Indonesia, dan yang utama ialah kebudayaan asli Sumbar, baik itu kesenian hingga kuliner tradisional.
Baca juga: Sekda Agam Buka Secara Resmi, Festival Pesona Danau Maninjau
Dari luar negeri, pihaknya telah mengundang beberapa negara prioritas, yaitu Mesir, India, Korsel, Turki dan Turkmenistan punya warisan budaya tak benda masing-masing yang akan ditampilkan di festival ini.
Sejauh ini, negara tetangga yang juga diundang, diantaranya sudah menyatakan kesediaan hadir di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota, yaitu India, Philipina, Malaysia dan Singapura.
Sementara itu, dari provinsi lain di Indonesia, tiga daerah sudah mengkonfirmasi kehadirannya, yaitu Aceh, Riau dan Bali. Kata Metron, hanya Jawa Barat dan Jawa Tengah yang belum mengkonfirmasi kehadirannya.
Ia melanjutkan, 10 warisan budaya tak benda dari Sumbar yang akan ditampilan nantinya ialah Sijobang dari Lima Puluh Kota, musik Sikatuntuang dari Payakumbuh, Dikira Pano dari Pasaman, Gamaik dari Kota Padang.
Lalu, Ulu Ambek dari Padang Pariaman, Tari Tanduak dari Sijunjung, Tari Toga dari Dharmasraya, Pasambahan dari Tanah Datar, Batombe dari Solok Selatan dan Tari Kain dari Pesisir Selatan.
Ketua DPRD Sumbar Supardi mengatakan bahwa ide penyelenggaraan festival ini berangkat dari diskusi dan forum-forum yang ia gelar bersama akademisi, hingga penggiat budaya.
Menurutnya, grand design pariwisata di Sumbar harus berbasis budaya. "Jadi, budaya itu adalah hulunya, hilirnya pariwisata. Pariwisata Sumbar baru bisa menggeliat bila berbasis budaya," ujar Supardi saat jumpa pers di Ruang Khusus I DPRD Sumbar, Senin (4/9/2023).
Baca juga: Jelang Hari Anak Nasional dan Hari Anak Internasional 2023, DP3AP2KB Sumbar Luncurkan Festival Anak
Ia menjelaskan, pariwisata di Sumbar tak bisa hanya terkonsentrasi pada kekayaan alam, karena daerah lain juga memilikinya, oleh karena itu menurutnya budaya di Ranah Minang itu lah yang menjadi akar untuk memunculkan geliat pariwisata.
Misalnya, kata dia, Silat sudah menjadi warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO yang berasal dari Sumbar, meskipun silat juga ada di daerah lain.
"Silat merupakan warisan nenek moyang yang menyebar kemana-mana. Silat jadi salah satu acara penting di festival nanti," ujar Supardi.
Menurutnya, festival ini pengejawantahan pewarisan budaya khususnya dari Sumbar, karena warisan budaya tak boleh hanya tertulis dalam secarik kertas.
Supardi menjelaskan, Payakumbuh dan Lima Puluh Kota Kota dipilih menjadi tuan rumah karena di kedua daerah tersebut masih banyak warisan budaya yang akan terungkap.
"Kami baru siap diskusi tentang masalah peradaban di Maek yang merupakan rahasia dunia yang harus kita ungkap, karena diprediksi sudah ada sejak 2000 tahun sebelum Masehi, buktinya ada menhir di dalamnya," kata dia.
Belum lagi, katanya, ada tengkorak di daerah Danguang-danguang yang diperkirakan sudah ada sejak abad 1 yang patut untuk diungkap. Atas dasar itulah, katanya Luhak Limo Puluah Koto dipilih menjadi tuan rumah.
"Kita sudah konsultasi ke Kemendagri, mendapatkan apresiasi, diminta lebih diperbesar, tidak ada festival yang sama di Indonesia sebelumnya. Kementerian juga meminta Presiden Jokowi untuk datang," ujar Supardi yang berasal dari Payakumbuh itu.
Baca juga: Rangkaian HUT Kota Padang ke-354, ada Festival Randai Mandabua Ombak Hingga Gowes Siti Nurbaya
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sumbar Syaifullah menuturkan, Festival Warisan Budaya Tak Benda ini diharapkan dapat merangsang masyarakat untuk semakin menggali kembali aspek kebudayaan daerah.
Kata dia, Disbud Sumbar setiap tahunnya terus melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian budaya. Syaifullah mengatakan, kegiatan kali ini bukan satu-satunya hajatan untuk aktivasi Warisan Budaya Tak enda.
"Semua kegiatan kita muaranya ke sana, presentase warisan budaya benda dan tak benda. Semua kegiatan dikawal apakah lomba, festival bimtek harus bermuara ke pelestarian warisan budaya benda dan tak benda," ujar Syaifullah.
Contohnya, kata dia, pekan kebudayaan daerah (PKD) yang digelar dengan mempertunjukkan kuliner tradisional randang, lamang tapai, bahkan randang lokan.
"Sebelumnya kita juga mengadakan lomba cerdas budaya, diantaranya lomba pasambahan," pungkas dia.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Jumpa-pers-terkait-Festival-Warisan-Budaya-Tak-Benda-yang.jpg)