Kota Pariaman
Menyimak Sejarah Batik di Sumbar, Batik Sampan jadi Produksi Batik Pertama
Batik Sampan di Dusun Sampan, Punggung Ladiang, Pariaman Selatan, Kota Pariaman ternyata memiliki sejarah yang panjang bagi dunia batik di luar ...
Penulis: Panji Rahmat | Editor: Fuadi Zikri
TRIBUNPADANG.COM, PARIAMAN - Batik Sampan di Dusun Sampan, Punggung Ladiang, Pariaman Selatan, Kota Pariaman ternyata memiliki sejarah yang panjang bagi dunia batik di luar pulau Jawa.
Dalam buku 20 tahun GKBI, 18 September 1948 - 1968. Buku tersebut terbit pada 19 Februari 1969 melalui data dari Pengurus Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI).
Di buku itu tercatat bahwa Sumatera Barat sempat memiliki koperasi batik Indonesia bernama Fadjar Putra yang berdiri Agustus 1961.
Sebelum koperasi itu hadir, tercatat masyarakat Sumbar sudah rutin menjadi konsumen batik produksi pulau Jawa seperti Pekalongan, Solo dan Jogja sebelum perang dunia pertama.
Sedangkan untuk produksi kerajinan di masa itu, Sumbar masih terfokus pada industri tenun tangan seperti tenun Silungkang dan tenun plekat.
Baca juga: Pengamat Nilai Perlu Upaya Pemerintah Hidupkan Batik Sampan di Dusun Sampan Kota Pariaman
Produksi batik di Sumbar baru muncul setelah pendudukan Jepang (1942). Saat itu pasokan batik dari pulau Jawa tersendat, hubungan antara pulau Sumatera dan Jawa terputus sampai pasca kemerdekaan.
Masa yang sulit itu membuat persediaan batik pedagang Sumbar terus menipis. Sehingga masyarakat mulai mencari jalan keluar untuk memenuhi permintaan konsumen.
Masyarakat pada masa itu coba belajar membuat batik, mencontoh batik hasil produksi pulau Jawa. Mulai dari motif, bahan dan warnanya ditiru oleh masyarakat.
Di tahap awal masyarakat Sumbar membuat batik cap, motifnya menggunakan kayu. Lalu, warnanya memanfaatkan tumbuhan dan buah-buahan, seperti kunyit, Gambir, mengkudu, damar dan sebagainya. Sedangkan bahan kainnya, pengrajin batik memanfaatkan kain putih bekas industri tenun tangan.
Semua alternatif produksi batik itu pertama kali muncul di Dusun Sampan, Pariaman tahun 1946. Batik dari daerah itu diberi nama batik sampan.
Baca juga: Berawal di Zaman Orde Lama, Batik Sampan Pariaman Sempat Jadi Tempat Produksi Terbesar di Sumbar
Menurut pengamat batik Nurcholis, batik sampan sempat jadi pusat produksi batik terbesar di luar pulau Jawa sejak mulai produksi.
"Kalau pengakuan pelakunya batik sampan ini pernah jadi produksi batik terbesar mulai tahun 1960 -1970an," terangnya.
Pasca munculnya produksi batik di Dusun Sampan, tahun 1948 muncul pula produksi batik di Payakumbuh dan tahun 1949 muncul pula di Padang, Bukittinggi dan sejumlah daerah lain di Sumbar.
Pertumbuhan industri batik tahun 1949 menjadi pesat karena pengusaha batik bisa mendapat bahan baku dari Singapura melalui pelabuhan Padang dan Pekanbaru.
Kemudahan itu membuat banyak perusahaan membuka bengkel batik. Meski akhirnya perlahan mati karena pembatasan antara pulau Jawa dan Sumatera berakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Senja-Kala-Batik-Sampan-di-Dusun-Sampan-Pariaman.jpg)