Citizen Journalism

Cabai dan Biang Kerok Inflasi 101

BENARKAH  cabai biang kerok tingginya inflasi di negeri ini? Kok bisa ya? Pertanyaan ini mungkin terbesit di hati sebahagian masyarakat.

Editor: Emil Mahmud
ISTIMEWA/DOK.PRIBADI
Endrizal Ridwan PhD, Ekonom FEB Universitas Andalas (Unand) & Ketua ISEI Cabang Padang 

Citizen Journalism Oleh: Endrizal Ridwan PhD, Ekonom FEB Universitas Andalas (Unand) & Ketua ISEI Cabang Padang

BENARKAH  cabai biang kerok tingginya inflasi di negeri ini? Kok bisa ya? Pertanyaan ini mungkin terbesit di hati sebahagian masyarakat ?

Tulisan ini sengaja ditambahkan di judulnya angka 101 (baca: wan ow wan), yang merupakan kode mata pelajaran untuk menunjukkan bahwa tingkat penjelasannya merupakan level pengantar. Penjabaran dimulai dengan konsep inflasi dan keseimbangan umum, kemudian bagaimana terjadinya inflasi, dan ditutup dengan strategi mengatasi inflasi.

Menurut definisi, inflasi adalah terjadinya penurunan daya beli mata uang, yang terlihat dari terjadinya kenaikan harga komoditi secara umum yang diukur dalam unit mata uang. Jika kenaikan harga komoditi diukur dalam unit komoditi lain, maka itu tidak lazim disebut inflasi.

Misalnya jika 1 kg cabai yang dulu setara 5 kg ikan tapi sekarang sudah setara 10 kg ikan tidak disebut inflasi. Namun, jika 1 kg cabai yang dulu harganya Rp. 10.000 tapi sekarang menjadi Rp. 15.000 ‘bisa jadi’ adalah inflasi. Dituliskan ‘bisa jadi’ karena untuk menyatakan benar-benar inflasi perlu dipastikan harga komoditi lain tidak turun.

Untuk menjelaskan keseimbangan umum, mari fokus kepada ilustrasi berikut. Misalkan dalam perekonomian berdurasi setahun hanya ada dua komoditi dan tiga kelompok individu: A, B, dan C.

Komoditi pertama adalah cabai yang butuh waktu lama untuk melakukan penyesuaian produksi. Kelompok individu A, petani, berspesialisasi dalam produksi cabai 15 ton per tahunnya.

Komoditi ke dua adalah ikan yang relatif mudah melakukan penyesuaian tingkat produksi ketika diperlukan. Kelompok individu B, nelayan, berspesialisasi dalam produksi ikan 75 ton ikan per tahun.

Di samping dua komoditi tersebut, perekonomian membutuhkan uang sebagai katalisator transaksi dan sarana penyimpan kekayaan. Kelompok individu C tidak berproduksi hanya mengharapkan bantuan uang tunai dari pemerintah.

Kelompok ini dijatahi pemerintah uang sejumlah Rp. 150 juta per tahun yang sekaligus merupakan total uang beredar. Kita sebut kondisi ini dengan ‘kondisi nol.’

Baca juga: Jokowi Soroti Angka Inflasi di Sumbar, Gubernur Mahyeldi Jelaskan Faktor Penyebab dan Upaya Pemprov

Dari sisi konsumsi, ketiga kelompok individu tersebut identik. Mereka masing-masing secara subjektif ingin mengonsumsi semua komoditi dalam proporsi tertentu, dan menilai 1 kg cabai setara dengan 5 kg ikan dalam memenuhi selera konsumtifnya.

Dalam pelajaran ekonomi, tingkat pertukaran ini dikenal dengan marginal rate of substitution. Sementara, secara objektif, tingkat pertukaran antar komoditi direpresentasikan oleh harga pasarnya. Jika harga pasar 1 kg cabai adalah Rp. 10.000 dan harga 1 kg ikan adalah Rp. 1.000, maka melalui transaksi pasar, 1 kg cabai setara dengan 10 kg ikan, lebih tinggi dari yang ditolerirnya secara subjektif.

Dalam hal ini, akan lebih menguntungkan bagi setiap individu untuk menjual semua cabai yang mereka miliki ke pasar untuk ditukarkan dengan ikan.

Tentu saja hal ini tidak bisa berkelanjutan karena tidak ada yang mau menjual ikannya pada nilai tukar tersebut. Artinya, terjadi kelebihan permintaan ikan dan kelebihan penawaran cabai. Pasar tidak dalam keseimbangannya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved