Kabupaten Sijunjung

Madu Galo-galo Jadi Produk Unggulan Daerah, Warga Lalan Sijunjung Sukses Rintis Bisnisnya

Efil (27) warga Nagari Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumbar sukses mengreasikan potensi ekonomi yang berrawal dari skrip

Penulis: Hafiz Ibnu Marsal | Editor: Emil Mahmud
TribunPadang.com/hafiz Ibnu marsal
Pembudidaya madu galo-galo, yang bernama Efil asal Nagari Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumbar. 

MADU Galo Galo merupakan produk unggulan Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), yang sudah dipasarkan hampir ke seluruh daerah di Indonesia.

Madu Galo Galo Sijunjung pertama kali dirintis oleh Efil (27) warga Nagari Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumbar.

Kata Efil, ia mendapatkan ide tersebut saat mengerjakan skripsi atau tugas akhir untuk menyelesaikan program studi S1 di Fakultas Peternakan Universitas Andalas pada tahun 2017.

"Awalnya penelitian itu tentang trap nest (sarang perangkap) untuk memancing lebah galo galo, setelah selesai atau tamat kuliah, barulah dilanjutkan pada tahun 2018 untuk membudidayakan madu galo galo," ujar Efil kepada TribunPadang.com.

Selain melanjutkan skripsinya tersebut, keyakinan Efil makin diperkuat untuk membudidayakan lebah galo galo, setelah ia berhasil memperoleh juara pertama dalam lomba esai tingkat nasional, dengan pembahasan tentang lebah galo-galo.

Ia menjelaskan, madu galo galo sendiri merupakan madu yang di hasilkan oleh spesies lebah tanpa sengat atau sering disebut masyarakat setempat dengan lebah galo galo.

Lanjutnya, awal membudidayakan lebah galo galo dilakukannya dengan cara trap nest, melalui kotak-kotak kecil sebagai serang pemancing lebah galo-galo tersebut.

"Karena sudah mulai berkembang, untuk lebih meningkatkan produktivitasnya, maka ditambah bibit dan sarang-sarang besar untuk mendapat hasil madu yang lebih banyak," ungkapnya.

Efil mengatakan, awal dirinya bersama sang suami, Anggar Abu Umar, mulai mengembangkan dan menambah  sarang lebah galo-galo dengan sarang yang lebih besar di lahan seluas satu hektar milik kakaknya.

"Saat ditambah, sarang hanya dipusatkan di satu lahan saja, ternyata hasilnya tidak maksimal, karena lebah galo-galo berebut untuk mengambil sari bunga," tutur pembudidaya lebah galo-galo itu.

Kata Efil, untuk mengatasi permasalahan tersebut, ia memiliki solusi dengan menumpangkan beberapa sarang di rumah warga setempat.

Dengan hal itu, lebah galo-galo tidak lagi berebut makanan dan madu yang dihasilkan bisa maksimal.

"Saat ini sarang yang ada di lahan ini ada sebanyak 70 sarang, sementara sekitar 50 sarang disebar di rumah warga," ungkapnya.

Tidak hanya menumpangkan sarang dirumah warga, Efil juga memberikan persenan dari hasil penjualan madu galo-galo kepada warga tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved