Masjid Raya Al Ittihad Indarung, Dibangun Semen Padang 1974, Diresmikan Harun Zain dan Azwar Anas

Masjid Raya Al Ittihad Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, merupakan tempat ibadah utama bagi masyarakat setempat dan tempat istirahat para musafir.

Tayang:
Penulis: Panji Rahmat | Editor: afrizal

Laporan Reporter TribunPadang.com, Rahmat Panji 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Masjid Raya Al Ittihad Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, merupakan tempat ibadah utama bagi masyarakat setempat dan tempat istirahat para musafir.

Masjid yang dibangun oleh PT Semen Padang ini diresmikan 16 Agustus 1974 oleh Gubernur Sumbar Harun Zein bersama dengan Direktur Utama PT Semen Padang, Azwar Anas.

Cikal bakal berdirinya masjid yang berada di Simpang Indarung itu berasal dari tukar guling tanah ulayat masyarakat Lubuk Kilangan dengan PT Semen Padang.

Baca juga: Kisah Awal Konservasi Ikan Bilih Endemik Danau Singkarak oleh Semen Padang, Sukses Lepas 4.000 Bibit

Baca juga: Tok Tok Tok Buka Puasa Bersama Semen Padang di Kampung Nelayan Gates Nan XX, Warga Sambut Antusias

Pengurus Masjid Raya Al Ittihad Indarung Burhanuddin, mengatakan tukar guling tanah ulayat itu meliputi Masjid Raya Al Ittihad, Kantor KAN Lubuk Kilangan dan Posko Ikatan Pemuda Karya Indarung dan Sekitarnya (IPKIS).

"Masjid ini sendiri pembangunannya murni dari PT Semen Padang," terangnya saat ditemui TribunPadang.com di Masjid Al Ittihad pekan lalu.

Pada tahap awal, masjid ini ukurannya sudah lumayan besar dibanding masjid lainnya.

Arsitekturnya juga lebih mengarah pada budaya Minangkabau.

Terlihat bangunan awal masjid ini banyak dihiasi oleh ukiran khas Minangkabau pada bagian tiang dan mimbar masjid.
 
"Kalau ukiran ini berasal dari Sungai Pua, Agam. Kaligrafinya juga dari tempat yang sama," sebutnya.

"Jadi, ukiran khas Minangkabau dan kaligrafi ini sudah berusia lebih 40 tahun menghiasi Masjid Raya Al Ittihad Indarung," imbuh Burhanuddin. 

Baca juga: Petugas TRC PT Semen Padang Distribusikan Air, di Kelurahan Padang Besi, dan Batu Gadang

Awal masjid ini diresmikan, masjid ini hanya mampu menampung sekitar 100 jamaah dengan bangunan yang terbuka.
 
Jamaah awal masjid ini banyak berasal dari karyawan PT Semen Padang serta masyarakat kelurahan Indarung dan sekitarnya.

"Pada awal masjid ini diresmikan, karyawan PT Semen Padang rutin melakukan wirid di masjid ini, jumlahnya sangat banyak. Bahkan setiap wirid berlangsung, para karyawan dan keluarganya diantar jemput dengan bus," ujarnya. 

Jumlah jamaah pada tahap awal ini, kata Burhanuddin melanjutkan, bisa dibilang konsisten, karena pada masa itu Masjid Raya Al Ittihad Indarung terbilang besar dari masjid lain di sekitarnya.

Merunut sejarah masjid ini, Burhanudin mengaku pada tahun 1980-an barulah kepengurusan masjid ini diserahkan pada masyarakat Lubuk Kilangan.
 
"Sejak berada di tangan masyarakat dan aliran dana CSR PT Semen Padang berangsur-angsur dikembangkan pembangunan masjid ini," jelasnya.

Pengembangan masjid lumayan pesat berlangsung sekitar tahun 2008-2010-an.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved