Kota Bukittinggi

Es Dawet Ayu, Minuman Khas Banjarnegara yang Sudah Mangkal Belasan Tahun di Bukittinggi

Es dawet ayu merupakan minuman segar khas Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.

Tayang:
Penulis: Muhammad Fuadi Zikri | Editor: afrizal
TribunPadang.com/FuadiZikri
Pedagang es dawet ayu di Lapangan Kantin, Kota Bukittinggi tengah mengaduk es dawet ayu, Senin (21/2/2022) 

Laporan Reporter TribunPadang.com, Muhammad Fuadi Zikri

TRIBUNPADANG.COM, BUKITTINGGI- Es dawet ayu merupakan minuman segar khas Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.

Saat ini minuman ini sudah tersebar di berbagai daerah, termasuk di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Minuman yang seringkali disangka cendol ini ternyata sudah ada sejak belasan tahun belakangan.

Baca juga: Harga Pangan di Bukittinggi Merangkak Naik, Cabai Keriting Capai Rp50 Ribu Per Kilogram

Baca juga: Selain Mahal, Pedagang Pasar Tradisional Bukittinggi Juga Keluhkan Stok Minyak Goreng yang Langka

Minuman itu disajikan dengan perpaduan santan kelapa, gula aren cair, dan dawet yang berbahan utama tepung beras.

Namanya adalah es dawet ayu yang dijajakan dengan gerobak unik berwarna serba hijau.

Pian (35), pria asal Jawa yang ditemui TribunPadang.com di kawasan Lapangan Kantin mengatakan, ia telah berjualan minuman itu di Kota Bukittinggi sejak tahun 2012 silam.

Semenjak itu pula, ia meninggalkan keluarga di kampung halaman untuk mencari rezeki di perantauan.

"Kadang laris kadang tidak, tergantung cuaca sih sebenarnya," ujar Pian ketika berbincang disela-sela ia berjualan, Senin (21/2/2022) siang.

Pria keturunan Jawa Sunda itu menyebutkan, keberadaan es dawet ayu yang ia jual memang sudah sangat banyak di luar Banjarnegara, daerah asalnya.

Di Bukittinggi sendiri, ia menuturkan sudah ada sejak sebelum ia mulai ikut berjualan.

"Ini kan ada bos (juragan) nya, saya mulai masuk itu tahun 2012, dan bos saya ini sudah ada sebelum itu," ungkapnya sembari mengambilkan pesanan pembeli.

Di Kota Jam Gadang ini, kata Pian, ia memiliki tim empat orang termasuk dirinya yang tersebar di beberapa penjuru Bukittinggi.

"Awalnya kami ada delapan orang, tapi empat orang lainnya masih di kampung, belum balik," ucapnya.

Setiap hari, Pian menceritakan, bersama rekannya dari penginapan yang disediakan juragan ia mulai berangkat berjualan pukul 10.00 WIB.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved