Breaking News:

Sampah Bikin Rusak Jaring 'Maelo Pukek' Nelayan di Padang, Terpaksa Dirajut Ulang

Biasanya warga menangkap ikan dengan menggunakan jaring yang dikenal dengan 'maelo pukek' dapat dengan mudah dijumpai di sepanjang bibir pantai Sumate

Penulis: Rezi Azwar | Editor: Saridal Maijar
TRIBUNPADANG.COM/REZI AZWAR
Nelayan menarik jaring pukek yang berisi sampah di Jalan Samudera, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Senin (18/10/2021). 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rezi Azwar

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Warga yang tinggal dan bergantung hidup pada laut harus berhenti melaut akibat sampah yang merusak jaring penangkap ikan di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Senin (18/10/2021).

Biasanya warga menangkap ikan dengan menggunakan jaring yang dikenal dengan 'maelo pukek' dapat dengan mudah dijumpai di sepanjang bibir pantai Sumatera Barat.

Kegiatan itu juga dapat dijumpai di kawasan bibir pantai Jalan Samudera, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, di pagi hari.

Baca juga: Pencuri Laptop di Banuaran Padang Ditangkap Polsek Lubeg, Penadahnya juga Diringkus

Namun, sampah masih menjadi polemik yang ada di kawasan pantai. Hal itu dikarenakan setelah hujan sampah akan menumpuh di bibir pantai dekat kawasan pintu muara.

Edi Martinpati (60), seorang nelayan mengatakan, sampah juga merusak jaring pukek milik nelayan.

Kata dia, sampah tersangkut saat melakukan aktivitas menangkap ikan dengan 'maelo pukek'.

"Sampahnya seperti macam-macam sampah plastik, dan ada juga ranting-ranting kayu," kata Edi Martinpati.

Baca juga: Ramalan Zodiak Cinta Hari Ini Senin, 18 Oktober 2021, Virgo Butuh Penyegaran, Cancer Salah Paham

Ia mengatakan, akibat sampah yang ikut terjaring membuat alat tangkap rusak dan bolong-bolong.

"Untuk jaringnya ada sepanjang 100 meter lebih, sedangkan tali tambang yang digunakan sebagai penarik jaring sepanjang 400 meter bahkan lebih," katanya.

Ia mengatakan, di saat jaring rusak akan dilakukan perbaikan dengan mengganti benang baru pada bagian jaring yang telah bolong untuk dirajut ulang.

"Sedangkan untuk warna hitam pada jaring itu menggunakan pewarna dari getah kayu yang disebut uba," katanya.

Baca juga: UPDATE Corona Sumbar 18 Oktober 2021 Pagi: Tambah 12 Warga Positif Covid-19, Sembuh 32 Orang

Ia menyebutkan, getah kayu uba biasanya dibeli dari daerah lain seperti di Kabupaten Pesisir Selatan.

Uba adalah getah yang terdapat pada kulit kayu atau getah dari buah kayu tertentu yang digunakan untuk mengawetkan dan meningkatkan kekuatan kain dan benang.

"Harga getah kayu itu kurang lebih sebanyak 4 ikat Rp 120 ribu," katanya. (*)

Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved