Breaking News:

Capaian Vaksin Sumbar Rendah tapi Kasus Covid-19 Melandai, dr Farhaan Minta Pemerintah Lakukan Ini

Mantan Direktur Utama Semen Padang Hospital (SPH), Kolonel Purn dr Farhaan Abdullah memberi komentar soal capaian vaksinasi masih rendah, namun kasus

Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Saridal Maijar
TRIBUNPADANG.COM/RIZKA DESRI YUSFITA
Mantan Direktur Utama Semen Padang Hospital, Kolonel Purn dr Farhaan Abdullah 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Mantan Direktur Utama Semen Padang Hospital (SPH), Kolonel Purn dr Farhaan Abdullah memberi komentar soal capaian vaksinasi masih rendah, namun kasus Covid-19 bisa melandai di Sumbar.

Menurutnya, kasus melandai bukan karena sudah terbentuk antibodi natural pada masyarakat tapi memang begitu perjalanan covid-19 varian baru Delta.

Ia menjelaskan, untuk Covid-19 varian Delta B 6117 setelah kasus meledak, akan mereda dengan sendirinya setelah 6 pekan.

Baca juga: Periode September 2021: UPZ Baznas Semen Padang Salurkan Zakat Karyawan Rp 711 Juta Lebih

"Akan tetapi kalau kita abai prokes dan capaian vaksinasi masih rendah tentu banyak yang wafat, seperti saat meledak kasus covid-19 varian Delta Juli-September kemarin."

"Warga Sumbar yang wafat selama kurun waktu tersebut hampir 2.400 orang, ini angka yang cukup besar," ungkap Dokter Farhaan, Selasa (12/10/2021).

Ia menyarankan saat kasus di Sumbar landai sementara capaian vaksinasi masih rendah dan masyarakat masih abai prokes, pemerintah segera mencari tahu cara merubah perilaku masyarakat yang tidak percaya vaksin dan abai prokes.

"Kita seharusnya diberi vaksin sebanyak 70 persen dari populasi sehingga tercapai 'Herd Immunity' atau kekebalan berkelompok," tutur Dokter Farhaan.

Baca juga: Aparat Razia Arena Game Konsol di Padang, Sasar Pengunjung Warnet tak Pakai Masker dan belum Vaksin

Selain itu, ia juga meminta Satgas menelusuri dan mengejar data yang valid soal 'unrecorded cases'.

Ia menegaskan Dinas Kesehatan tingkat 1 bersama jajaran Dinas Kesehatan tingkat 2 di daerah tidak boleh ada yang tidak valid termasuk penemuan kasus-kasus seperti pernah terpapar covid-19 tidak berobat, akhirnya sembuh sendiri atau wafat.

Lalu, tidak vaksin tapi terpapar covid-19 punya vaksin natural kalau yang survive dan berapa yang wafat.

"Cari tahu angka yang valid tentang role model yang tidak mau di vaksin (ASN, Tokoh Masyarakat , Ulama, dan Nakes."

"Kemudian juga data-data yang valid siapa saja masyarakat yang sudah terjadwal vaksin tapi tidak mau vaksin," jelas Dokter Farhaan. (*)

Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved