Cuaca Panas di Sumbar, Suhu Mencapai 34,2 Derajat Celcius, Kapan Hujan Turun? Ini Kata BMKG

Beberapa hari terakhir kondisi cuaca di sebagian besar wilayah di Sumatera Barat terpantau cerah dan suhu udara pada siang hari terasa cukup terik.

Tayang:
Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Saridal Maijar
Tribun Jabar/Ery Chandra
Ilustrasi cuaca panas 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Beberapa hari terakhir kondisi cuaca di sebagian besar wilayah di Sumatera Barat terpantau cerah dan suhu udara pada siang hari terasa cukup terik.

Berdasarkan pantauan dari Stasiun Meteorologi Minangkabau, tercatat suhu udara maksimum berkisar antara 31 hingga 33 derajat celsius yang terjadi pada siang hari.

Kondisi ini terpantau sudah berlangsung sejak awal Februari 2021.

Baca juga: Cuaca Panas Terik Diprediksi Landa Sumbar hingga Lima Hari Ke depan, Waspada Potensi Kebakaran Lahan

Bahkan pada 9 Februari 2021 tercatat suhu maksimum tertinggi mencapai 34,2 derajat celsius.

Kondisi suhu udara yang tinggi ini memberikan efek sensasi lebih panas yang dirasakan oleh masyarakat di Sumatera Barat.

Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau – Padang Pariaman, Sakimin mengungkapkan, berdasarkan analisis BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau beberapa faktor berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

Satu di antaranya posisi matahari berdasarkan gerak semu tahunan berada di belahan bumi Selatan dekat ekuator yang bergerak ke arah ekuator.

Baca juga: Kekeringan di Padang, PDAM Kirim 2 Tangki Air ke Bukit Gado-gado dan Seberang Pabayan

Di mana setelah melewati titik balik Selatan pada bulan Desember, matahari kembali bergerak arah ekuator dengan puncaknya pada bulan Maret matahari tepat berada di atas khatulistiwa.

"Kondisi ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut termasuk Sumatera Barat relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari," kata Sakimin.

Selanjutnya, kondisi cuaca panas di Sumbar juga disebabkan oleh pengaruh Angin Monsun Asia.

Kemudian, adanya pola pertemuan Massa Udara dan Sistem Tekanan Rendah di sekitar Jawa menyebabkan terjadi perpindahan massa udara basah di lapisan atas atmosfer Sumatera Barat.

Baca juga: DLH Padang Kekurangan 59 Kontainer Sampah, Mairizon: 30-50 KK Seharusnya Ada 2 Kontainer

Hal itu menyebabkan pergeseran massa udara ke arah selatan dan tenggara Sumatera sehingga profil lapisan vertikal atmosfer di Sumatera Barat relatif kering sehingga tidak mendukung proses pertumbuhan awan.

Sakimin menambahkan, faktor selanjutnya yang berkontribusi terhadap kondisi panas di Sumbar ialah kelembaban udara.

"Berdasarkan pengamatan, kelembaban udara di permukaan relatif tinggi pada siang hari berkisar antara 70-75 persen," ujar Sakimin.

Kelembaban udara yang tinggi di permukaan menyebabkan suhu udara terasa lebih hangat (sumuk) akibat panas laten yang yang terkandung dalam uap air di udara.

Baca juga: CARA Pencairan Bansos Tunai Rp 300 Ribu di Kantor Pos, Cek Penerima via dtks.kemensos.go.id

Kelembaban udara yang tinggi itu disebabkan adanya lapisan inversi dekat permukaan.

Secara umum, kata Sakimin, suhu udara akan berkurang ketika terdapat pertambahan ketinggian sehingga uap air dapat bergerak naik untuk membentuk pertumbuhan awan-awan hujan.

Namun, dengan adanya lapisan inversi tersebut proses pergerakan uap air tersebut tertahan dan terakumulasi di permukaan bumi.

Pembentukan awan juga terhambat karena uap air tidak naik ke atas dimana terjadi peristiwa kondensasi.

Baca juga: Ramalan Zodiak Asmara Sabtu 20 Februari 2021, Pasangan Libra Terluka, Aries Bertemu Orang Spesial

Kemudian, kondisi tersebut sangat menghambat pertumbuhan awan yang berfungsi menghalangi panas terik matahari.

"Minimnya tutupan awan ini akan mendukung pemanasan permukaan yang kemudian berdampak pada meningkatnya suhu udara pada siang hari," jelas Sakimin.

Menurut Sakimin, beberapa faktor di atas menyebabkan kondisi cuaca yang panas yang mempengaruhi indeks kenyamanan tubuh manusia.

Baca juga: SKB 3 Menteri Menurut Wali Kota Padang Mahyeldi: Ketika Terjadi Penolakan, Itu Membuat Renggang

Semakin tinggi suhu udara yang diikuti dengan tingginya kelembaban udara, maka suhu udara panas yang dirasakan tubuh manusia juga akan semakin meningkat.

Sakimin menyebut, kondisi cuaca panas ini diprakirakan mulai berkurang pada awal Maret 2021.

BMKG memprakirakan intensitas hujan akan kembali meningkat pada saat pertengahan Maret 2021 hingga akhir Mei 2021 dimana puncak curah hujan berada pada bulan April hingga awal Mei. (*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved