Breaking News:

Penanganan Covid

MUI Belum Bisa Pastikan Kehalalan Vaksin Covid-19 dari China, Ini Alasannya

Hingga saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum bisa memberi kepastian kehalalan pada vaksin covid-19 yang berasal dari Tiongkok, Chin

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Ilustrasi: Virus Corona atau Covid-19 

TRIBUNPADANG.COM, JAKARTA - Hingga saat ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum bisa memberi kepastian kehalalan pada vaksin covid-19 yang berasal dari Tiongkok, China.

Pasalnya, masih dalam tahapan proses inpeksi ke tempat pembuatan vaksin yang hingga kini masih berlangsung.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Direktur LPPOM MUI Muti Arintawati mengatakan, dalam press briefing Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang disiarkan secara virtual, Senin (19/10/2020).

"Kita masih menunggu hasil dari tim, setelah hasilnya keluar kemudian bisa ditimbang dan dinilai apakah memang semua persyaratan bisa diikuti dengan baik dari industri vaksin," jelas Muti.

Diketahui, Kementerian Kesehatan, BPOM, dan MUI berangkat ke China pada pekan lalu, guna memastikan kualitas vaksin aman dan halal saat disuntikkan ke orang.

Baca juga: Update Sebaran Covid-19 di Padang, 6.124 Kasus Positif, 3327 Sembuh dan 103 Meninggal Dunia

Baca juga: Kasus Covid-19 di Kota Padang Menurun, Edaran Larangan Pesta Perkawinan Ditinjau Ulang

Untuk itu, ujar Muti, setelah mendapatkan laporan dari tim yang langsung berangkat ke China, MUI akan melajutkan proses sertifikasi halal vaksin tersebut di tanah air.

"Jadi kalau ditanya sekarang belum bisa dijawab, apakah memang produknya halal atau tidak. karena prosesnya belum berjalan dan belum dimulai, kita masih menunggu hasil pemeriksaannya seperti apa, dan hasilnya akan di bawa dan dirapatkan kemudian hasilnya akan disampaikan oleh komisi fatwa," terang Muti.

Muti menerangkan ada tiga hal penting dalam sertifikasi halal, termasuk untuk vaksin virus corona ini.

Pertama traceability atau ketertelusuran.

Kedua, harus memastikan adanya jaminan kehalalan, di mana suatu produk yang sudah halal artinya sudah menggunakan bahan-bahan yang halal dalam proses produksinya, kemudian menggunakan fasilitas yang bebas juga dari bahan-bahan yang tidak halal.

Ketiga, otentikasi yakni memerlukan uji laboratorium untuk memastikan bahwa tidak ada pemalsuan.

Halaman
12
Editor: Emil Mahmud
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved