Beijing Dikabarkan Menentang Jual Paksa TikTok di AS, Malahan Lebih Senang Ditutup

China dikabarkan lebih senang melihat aplikasi berbagi video pendek tersebut ditutup di Amerika Serikat (AS).

Editor: Emil Mahmud
BBC Indonesia via Kompas.com
Ilustrasi: Perseteruan AS dan China terkait Tiktok 

TRIBUNPADANG.COM  - China dikabarkan lebih senang melihat aplikasi berbagi video pendek tersebut ditutup di Amerika Serikat (AS).

Artinya, Beijing menentang penjualan paksa TikTok di AS oleh ByteDance.

Hal itu terungkap dari tanggapan tiga orang narasumber yang mengetahui pokok masalah tersebut pada Jumat (11/9/2020).

Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa ByteDance telah dalam pembicaraan bisnis untuk menjual TikTok AS kepada pembeli potensial termasuk Microsoft ( MSFT.O ) dan Oracle ( ORCL.N ), sejak Presiden AS Donald Trump mengancam akan melarang layanan tersebut jika tidak dijual.

Trump telah memberi ByteDance tenggat waktu pertengahan September untuk menyelesaikan kesepakatan.

Ilustrasi perseteruan Amerika Serikat vs China terkait Tiktok - China Lebih Pilih TikTok di AS Ditutup daripada Dijual Paksa
Ilustrasi perseteruan Amerika Serikat vs China terkait Tiktok - China Lebih Pilih TikTok di AS Ditutup daripada Dijual Paksa (BBC Indonesia via Kompas.com)

Posting Video Berisi Ujaran Kebencian dan SARA di TikTok, Pemuda Solok Selatan Diringkus Polisi

Namun, kata narasumber anonim, para pejabat China yakin penjualan paksa akan membuat ByteDance dan China tampak lemah dalam menghadapi tekanan dari Washington.

ByteDance mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, pemerintah China tidak pernah menyarankan kepadanya bahwa mereka harus menutup TikTok di Amerika Serikat atau di pasar lain mana pun.

Harga Emas Hari Ini Senin 14 September 2020, Emas Antam Rp 1.070.000/Gram di Pegadaian Padang

Dua nara sumber mengatakan, China bersedia menggunakan revisi yang dibuatnya pada daftar ekspor teknologi pada 28 Agustus 2020 untuk menunda kesepakatan apa pun yang dicapai oleh ByteDance, jika perlu.

Kantor Informasi Dewan Negara China dan kementerian luar negeri dan perdagangannya tidak segera menanggapi permintaan komentar yang dikirim setelah jam kerja.

Dalam konferensi pers regular pada Jumat (11/9/2020) saat ditanya tentang Trump dan TikTok, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan, Amerika Serikat menyalahgunakan konsep keamanan nasional, dan mendesaknya untuk berhenti menindas perusahaan asing.

Pembeli TikTok 

Reuters  melaporkan, calon pembeli TikTok sedang mendiskusikan empat cara untuk menyusun akuisisi dari ByteDance.

Dalam hal ini, ByteDance masih dapat mendorong penjualan aset TikTok AS tanpa persetujuan dari Kementerian Perdagangan China dengan menjualnya tanpa algoritme utama.

ByteDance dan pendirinya, Zhang Yiming telah terperangkap dalam bentrokan antara dua kekuatan utama dunia. 

Trump bulan lalu mengeluarkan dua perintah eksekutif yang mengharuskan ByteDance menjual aset TikTok AS atau menghadapi larangan di negara itu, tempat aplikasi tersebut sangat populer di kalangan remaja.

Ilustrasi TikTok - China Lebih Pilih TikTok di AS Ditutup daripada Dijual Paksa
Ilustrasi TikTok - China Lebih Pilih TikTok di AS Ditutup daripada Dijual Paksa (Zee Business)

Lagu TikTok Viral Bukan Cinta Biasa - Siti Nurhaliza, Petikan Lirik Cintaku bukan di Atas Kertas

Pejabat AS telah mengkritik keamanan dan privasi aplikasi, data pengguna mungkin dibagikan dengan Beijing.

TikTok mengatakan tidak akan memenuhi permintaan apa pun untuk membagikan data pengguna dengan otoritas China.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved