Idul Adha 2020

Memetik Hikmah Idul Adha di Tengah Pandemi Covid-19, Pererat Ikatan Keluarga

Hari Raya Idul Adha yang diperingati pada Tahun 1441 Hijriyah atau jatuh pada 31 Juli 2020 memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Editor: Emil Mahmud
TRIBUNPADANG.COM/RIZKA DESRI YUSFITA
Ilustrasi: Suasana salat Idul Adha di halaman kantor gubernur Sumbar, Minggu (11/8/2019) pagi sebelum pandemi Covid-19. 

TRIBUNPADANG.COM - Hari Raya Idul Adha yang diperingati pada Tahun 1441 Hijriyah atau jatuh pada 31 Juli 2020 memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Alasannya, para peringatan kali ini pandemi virus corona masih menerpa. Umat Islam merayakan Idul Adha dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Hikmah apa yang bisa dipetik dari perayaan Idul Adha di tengah pandemi virus corona?

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis mengatakan, Idul Adha di tengah pandemi virus corona akan semakin mempererat ikatan keluarga.

"Kita mungkin tak pernah mengalami lagi, sampai kita dipanggil Allah seperti suasana saat ini. Di mana kita banyak di rumah, lalu kita merayakannya lebih khidmat dengan keluarga, takbiran bersama keluarga, mungkin sebagian ada yang shalat dengan keluarga," kata Cholil saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/7/2020).

Ia mengatakan, pandemi Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan manusia.

Misalnya, kata dia, berkaitan dengan kedekatan bersama keluarga dan menjaga kebersihan.

CONTOH Naskah Khutbah Idul Adha 2020, Simak Tata Cara dan Bacaan Niat Salat ID di Rumah

Memaknai Idul Adha 1441 H, Mulyadi Muslim: Pengorbanan, Tawakkal dan Keharmonisan Keluarga

"Mungkin dulu enggak menyadari kebersihan, sekarang lebih bersih. Dulu jarang pulang ke rumah, sekaran lebih banyak di rumah, ini semuanya diambil hikmahnya sehingga wabah menjadi rahmat bagi kita," ucapnya. Lebih lanjut,

Cholil menjelaskan, esensi Idul Adha dan ibadah kurban bukan perkara kemeriahannya, seperti takbir keliling maupun bergotong-royong menyembelih hewan kurban.

Menurut dia, hal itu bagian dari syiar. Dengan keterbatasan karena penyebaran virus corona ini, Cholil mengajak umat Islam untuk mengembalikan makna Idul Adha pada ketakwaan terhadap Sang Pencipta.

"Di sinilah kita diajarkan kemeriahan adalah bagian dari syiar, tapi yang lebih esensi adalah takwanya. Bahwa bukan daging yang diberikan, bukan ramai-ramai saat nyembelih, tetapi ketakwaan itu yang menjadi tolok ukur berkorban untuk kurban," jelas Cholil.

Meski demikian, ia tak melarang jika masyarakat ingin tetap melakukan syiar seperti tahun-tahun sebelumnya.

Cholil hanya mengingatkan, agar dalam bersyiar Idul Adha di tengah pandemi yang belum selesai ini, tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Di antaranya memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, dan menjaga kebersihan.

Sementara itu, seperti diberitakan Kompas.com, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh mengimbau masyarakat di daerah dengan tren penularan Covid-19 meningkat, agar melaksanakan shalat Idul Adha di rumah masing-masing.

"Ketika kita berada di kawasan yang angka penularannya masih menunjukkan tren meningkat, bahkan berada di daerah yang kualifikasi hitam, maka pelaksanaan shalat Idul Adha sebaiknya tetap di rumah bersama keluarga," kata Asrorun dalam tayangan langsung pada akun Youtube BNPB, Selasa (28/7/2020).

Sementara itu, masyarakat yang berada di daerah dengan penularan Covid-19 terkendali dapat menggelar shalat Idul Adha di masjid, musala atau tempat terbuka.

Namun, Asrorun mengingatkan protokol kesehatan tetap harus ditaati, seperti memakai masker, berwudu dari rumah, membawa sajadah sendiri, hingga menjaga jarak.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hikmah Idul Adha di Tengah Pandemi Corona",

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved