Berita Sumbar Hari Ini
Manfaatkan Bangunan Publik Jadi Shelter Tsunami, BNPB Sarankan Sumbar Mencontoh Bali
Manfaatkan Bangunan Publik Jadi Shelter Tsunami, BNPB Sarankan Sumbar Mencontoh Bali
Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Saridal Maijar
Di sisi lain, Harmensyah juga mengingatkan agar pemerintah selektif dalam memberikan izin pendirian bangunan dan izin lainnya sehingga kerusakan alam tidak terjadi dan tata guna ruang dapat terpelihara.
Sehubungan dengan risiko bahaya gempa dengan kategori tinggi, Harmensyah juga menekankan pentingnya shelter.
Ia mengatakan, gedung dan bangunan publik dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas pendukung penanggulangan bencana.
“Siapkan MoU bersama dunia usaha. Contoh di Bali, di mana hotel-hotel dan bangunan publik telah menyiapkan shelter tsunami,” sambung Harmensyah.
Ia meminta, shelter buatan yang sudah ada agar dirawat dan dikelola dengan baik.
• Kerugian Gempa di Sumbar 30 September 2009 Capai Rp 4,8 Triliun, 1.200 Orang Tewas dan Hilang
Pemerintah perlu memiliki database shelter, seperti daya tampung, fasilitas, ataupun aksesibilitas.
Lalu database tersebut harus bisa diakses oleh masyarakat sehingga mereka dapat memetakan shelter mana yang terdekat dari posisi dia berada.
Selain itu, shelter alam juga bisa dimanfaatkan. Apabila telah memiliki shelter ini, perlu diperhatikan aksesibilitasnya, seperti tanggal, tali atau jalur evakuasi.
Terakhir, Harmensyah berpesan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam penanggulangan bencana.
Menurutnya, peran dan sinergi pentahelix yaitu media massa sangat penting dalam membawakan pesan kepada masyarakat.
Media massa, kata dia, tentu memiliki keahlian dalam mengkomunikasikan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat serta kanal media yang dapat menjangkau masyarakat secara luas.
• Refleksi 10 Tahun Gempa Sumbar, Teatrikal hingga Pembacaan Puisi oleh Gubernur Irwan Prayitno
"Mengenang 10 tahun gempa Sumbar, tentu tidak hanya berlaku di wilayah tersebut tetapi juga penting bagi semua lini masyarakat mengingat kita hidup di wilayah rawan bahaya.
Peneliti paleotsunami dari Brigham Young University, Amerika Serikat Profesor Ron Harris pernah menyampaikan bahwa kita yang hidup di Indonesia jangan lupa akan sejarah. Sehingga jangan lupa kenali ancamannya, siapkan strateginya dan siap untuk selamat," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Peralatan BNPB Rustian memang membenarkan Indonesia adalah rawan bencana.
Oleh karena itu, kata dia, perlu penguatan kapasitas sumber daya.
"Semua punya peran yang sama. Tidak mungkin pemerintah berdiri sendiri. Mari hadir bersama-sama, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media," tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/refleksi-10-tahun-gempa-sumbar-di-kota-padang-sumbar-senin-3092019.jpg)