Travel
PESTA BUDAYA - Tabuik Jadi Magnet Bagi Wisatawan Sambangi Kota Pariaman, Sumatera Barat
Pesta Budaya Tabuik di Kota Pariaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) hingga kini masih berlangsung semenjak 1 hingga 15 September mendatang.
Penulis: Emil Mahmud | Editor: Emil Mahmud
Menurutnya, tahapan ini juga sangat ditunggu-tunggu wisatawan dalam proses pembuatan tabuik.
"Untuk acara puncak Tabuik itu sendiri, akan berlangsung pada 15 September 2019, dimana Pemko Pariaman sudah mengundang Menteri Pariwisata RI Arief Yahya serta sejumlah menteri lainnya,"ujar Hendri.
• Wisata Taman Anas Malik Pantai Cermin Kota Pariaman, Bersantai Menggunakan Balon dan Hammock
Pesta budaya tabuik Pariaman yang sudah menjadi iven tahunan ini diharapkan bakal makin meningkatkan kunjungan wisata di Kota Pariaman.
"Tabuik Pariaman merupakan magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kota Pariaman, selain ajang pulang kampung bagi warga pariaman di perantauan, untuk melihat kemeriahan Tabuik ini", tukasnya.
Pada saat iven puncak nanti juga dilaksanakan launching Ivent Nasional lainnya di Kota Pariaman mulai dari Grand Star TDS, Triathlon, Lari 10 K, Lomba berenang ke Pulau serta penandatanganan sejumlah iven lainnya.
Sejarah dan Asal Muasal Tabuik

Dikutip dari Wikipedia, Tabuik merupakan permainan yang berkembang didaerah Pesisir, khususnya Pariaman yang diselenggarakan setiap tahun.
Permainan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu diperkirakan telah ada semenjak abad ke- 19 M.
Permainan tabuik merupakan permainan yang menjadi bagian dari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW. Yaitu Haussein Bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.
Sejarah mencatat bahwa Hussein besertak eluarganya wafat dalam perang di Padang Karbala.
Tabuik sendiri diambil dari bahasa arab "tabut" yang bermakna peti kayu, nama tersebut mengacu pada legenda tentang bermunculnya makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut Buroq.
Legenda tersebut mengisahkan bahwa setelah wafatnya sang cucu Nabi, kotak kayu berisis potongan jenazah Hussein diterbangkan ke langit oleh Buroq.
Bedasarkan legenda inilah, setiap tahun,masyarakat Pariaman membuat tiruan dari Buroq yang sedang mengusung tabut dipunggungnya.
Menurut kisah yang diterima masyarakat secara turun temurun, ritual ini muncul di Pariaman sekitar Tahun 1826 - 1828 M.
Pada 1910, muncul kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan perayaan Tabuik dengan adat istiadat Minangkabau, sehingga berkembang menjadi seperti saat ini.