Komunitas Cahaya di Padang, Secercah Harapan untuk Anak Pasien Kanker

Puluhan anak dengan kondisi tangan terpasang selang infus tampak ceria saat berada di Instalasi Rawat Inap Kebidanan dan Anak, Bangsal Anak RSUP Dr M

Tayang:
Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Mona Triana
TribunPadang.com/Rizka Desri Yusfita
Komunitas Cahaya di Padang, Secercah Harapan untuk Anak Pasien Kanker.jpg 

Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rizka Desri Yusfita

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Puluhan anak dengan kondisi tangan terpasang selang infus tampak ceria saat berada di Instalasi Rawat Inap Kebidanan dan Anak, Bangsal Anak RSUP Dr M Djamil Padang beberapa waktu lalu.

Mereka menyanyikan lagu anak-anak indonesia yang populer dan sangat mudah didendangkan, yakni Balonku Ada Lima.

Perjalanan Luar Angkasa Tingkat Radiasinya Tinggi, Beruntung Manusia Belum Tentu Kena Kanker

Perjuangan Sutopo Melawan Kanker, Mengalami Skoliosis Hingga Pamit Berobat ke Guangzou Juni Lalu

Masker menutupi wajah dan mulut mereka.

Perban melilit di tangan.

Bahkan kaki yang tak bisa digerakkan, tak membuat anak-anak menghentikan aktivitasnya.

Mereka tetap terlihat senang mengikuti kegiatan mewarnai gambar yang diselenggarakan Komunitas Cahaya Padang.

Anak-anak tersebut adalah para pejuang kanker, di usia yang masih kecil mereka harus merasakan kesakitan.

Komedian Agung Hercules Terkena Kanker Otak Kiri, Kenali Gejala Tumor Otak yang Bisa Menjadi Kanker

Tanaman Leunca Memiliki Segudak Manfaat Bisa Menjadi Obat Kanker

Serta berjuang sembuh dengan tubuh terbalut peralatan medis. 

Sementara, Komunitas Cahaya sendiri merupakan komunitas peduli kanker anak yang diinisiasi pasangan suami istri, Dedi Kurnia Putra dan Elsy Varinia.

Beranjak dari pengalaman beberapa orang tua yang anaknya menderita kanker, membuat pasangan suami istri ini membuat Komunitas Cahaya.

"Kami melihat susahnya orang tua itu membawa anaknya berobat ke rumah sakit," kata Dedi Kurnia Putra.

Produk Pembersih Rumah Ini Picu Kanker hingga Penurunan Fungsi Otak, Cek Apakah Ada di Rumah Anda

Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho Teteskan Air Mata Melawan Kanker Paru-paru Stadium IV

Perasaan tersebut dirasakan Dedi Kurnia Putra setelah bergaul dengan para orang tua si anak.

Mereka saling berbagi keluh kesah.

Dedi Kurnia Putra beserta istri menarik kesimpulan bahwa anak penderita kanker tidak dapat didampingi oleh satu orang saja, tetapi membutuhkan dua pendamping.

Dua pendamping yang dimaksud adalah kedua orang tuanya.

Namun, jika kedua orangtuanya mendampingi ke rumah sakit, otomatis pemasukan rumah tangga menjadi nol, di sisi lain pengeluaran rumah tangga menjadi bertambah.

9 Manfaat Mengkonsumsi Nasi, Menimbulkan Rasa Senang, Mempertajam Daya Ingat dan Mencegah Kanker

Divonis Dokter Sisa Umur Tinggal 3 Hari karena Kanker, Tatik Suryani Pasrah, Takdir Berkata Lain

"Untuk transportasi ke rumah sakit mengeluarkan biaya. Sementara, anak-anaknya yang lain juga butuh biaya. Tentu harus berbagi tugas," jelas Dedi Kurnia Putra.

Ia menjelaskan bahkan ada orang tua yang berhutang di setiap warung untuk mendampingi anaknya agar segera sembuh. 

"Kami saat itu mencarikan solusi untuk melunasi hutang orang tua tersebut dengan mencari donatur. Awalnya informasi tersebut kami bagikan di media sosial dan teman- teman di grup. 

Setelah itu, kami melakukan kunjungan ke rumah sakit dan membagikan hasil kunjungan tersebut ke dalam grup," ungkap ayah dua anak ini.

Adik Kandung Donorkan Sumsum Tulang Belakang untuk Ani Yudhoyono yang Terserang Kanker Darah

6 Khasiat Mengkonsumsi Tanaman Hias Kaktus, Bisa Menurunkan Berat Badan dan Menangkal Sel Kanker

Apa yang dilakukan Dedi Kurnia Putra dan istri membuat banyak orang tertarik.

Ada yang memberikan zakat dan sedekah.

Selain itu, karena sering datang ke rumah sakit, mereka juga sering bertemu dan berkomunikasi dengan dokter.

"Dokter menyarankan kepada kami untuk membuat sebuah yayasan. Mulanya kami hanya membuat konkow komunitas saja.

Menkes Nila Moeloek : Obat Kanker Usus Tak Ditanggung BPJS Masih Dalam Proses

Wanita Ini Makan 5 Kumbang Hidup Setiap Hari, Katanya untuk Mencegah Kanker

Wanita Ini Mengkonsumsi Kumbang Cina Hidup Setiap Hari Agar Tercegah Kanker

Dorongan dan sambutan positif dari pihak rumah sakit  membuat kami tergerak membuat yayasan dan gratis pembiayaanya. Ada relawan yang memberikan bantuan," kata Dedi Kurnia Putra.

Komunitas Cahaya memulai kegiatan pertama kali secara formal pada 23 Juli 2018.

Sementara komunitas sendiri berdiri pada 6 Agustus 2018.

"Dari situ kami, adakan kegiatan tebar popok. Antusiasme donatur saat itu cukup tinggi. 

Mengapa popok?

Popok adalah salah satu pengeluaran terbesar orang tua yang memiliki anak usia kecil," jelas Dedi Kurnia Putra.

10 Hari Menjalani Perawatan di Singapura, Ani Yudhoyono Ternyata Idap Penyakit Kanker Darah

Jelaskan Kronologi Kanker Darah Ani Yudhoyono, AHY: Jenis Kankernya Cukup Agresif

Sutopo Kirim Doa untuk Ani Yudhoyono yang Sakit Kanker Darah hingga Beri Tips Hidup Sehat

Selain kegian tersebut, komunitas cahaya juga membantu orang tua dari sisi psikologi.

"Kami merasakan apa yang orang tua rasakan. Saya juga punya anak penderita kanker. Anak saya menderita kanker karsinoma sarkoma yang muncul dari tulang, otot, atau jaringan ikat. 

Jadi kemoterapinya di rumah M Djamil. Karena anak saya sering kemo di sini, jadi banyak kenal dengan orang tua yang anaknya juga menderita kanker," sambung Dedi Kurnia Putra.

Anak Dedi Kurnia Putra pernah dioperasi di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta.

Di sana, akunya, cukup banyak lembaga yang peduli terhadap pasien kanker. 

Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep Tulis Doa untuk Ani Yudhoyono yang Idap Kanker Darah

Derita Kanker Darah, Ani Yudhoyono Ungkapkan Perasaan Lewat Akun Instagramnya

Untuk Pengobatan Kanker Darah, Ani Yudhoyono Butuh Cangkok Sumsum Tulang Belakang

Hal itu juga menjadi salah satu pendorong ia dan istri untuk membangun Komunitas Cahaya.

Ketika anak divonis kanker, Dedi Kurnia Putra merasakan beban yang terasa amat berat di pundak.

"Tidak sanggup rasanya menanggung beban itu. Makanya sejak itu kami hadir untuk meringankan beban orang tua secara psikologis," tambahnya.

Mereka ingin meyakinkan bahwa orang tua tidak sendiri.

Ada Komunitas Cahaya yang akan mendampingi dan mendorong mereka untuk membawa anak berobat sesuai dengan waktu khemoterapy tiba.


Mayoritas anak-anak pasien kanker di RSUP M Djamil Padang adalah pasien kanker darah (leukimia). 

Pasien kanker lain adalah kanker otak, kanker tulang, kanker mata, namun terbanyak secara persentase 75 persen leukimia.

Selain itu, relawan Komunitas Cahaya juga membantu mencarikan obat bagi anak.

Donatur darah dengan cara membagikan di grup.

Saat ini relawan komunitas cahaya berjumlah lebih kurang 50 orang dengan jumlah anak yang didampingi 122 orang.

Relawan tersebut direkrut secara sukarela yang diumumkan di media sosial. 

Sebetulnya, relawan Komunitas Cahaya hanya dari kalangan teman-teman pendirinya saja, terbanyak ibu rumah tangga dan pekerja. 

Belakangan, relawan Komunitas Cahaya diikuti banyak mahasiswa. 

"Relawan masing masing pegang tiga orang anak. Para relawan tersebut dilatih sehingga jangkauan makin banyak. Pemateri didatangkan dari luar tanpa meminta bayaran," jelasnya.

Di rumah sakit, anak-anak penderita kanker di kemoterapi dan didampingi orang tua. 

Aktivitas itu mereka lakukan setiap hari. Jika orang tua tak punya uang untuk membiayai pengobatan atau khemoterapy si anak, Komunitas Cahaya akan siap membantu. 

Tak hanya biaya pengobatan, Komunitas Cahaya juga membantu biaya harian orang tua. Sebab, mayoritas orang tua berasal dari ekonomi rata-rata menengah ke bawah dengan pekerjaan petani dan berkebun.

Anak-anak pasien kanker M Djamil Padang berasal dari wilayah Tanjung Pinang, Kerinci , Sarolangun, Merangin, dan Bungo.


Kemudian juga dari Pasaman, Pasaman Barat, Padang, Agam, dan Limapuluh Kota.

"Dulu setelah dibentuk kami hampir setiap bulan melakukan acara. Cuma gak mungkin melakukan acara terus-terusan. Kami memutuskan hari tertentu saja," jelas Dedi Kurnia Putra.

Dedi Kurnia Putra berharap ia dan relawan lainnya semakin banyak menebar kebaikan.

Jika semakin banyak orang terlibat, menurutnya akan semakin banyak orang yang akan tertolong.

"Pejuang hebat (pasien kanker) mendapat bantuan dan bisa melakukan khemoterapy tepat waktu. Komunitas Cahaya akan hadir mendampingi sepanjang proses," ujar Dedi Kurnia Putra.

Sementara itu, Istri Dedi Kurnia Putra, Elsy Varinia mengatakan Komunitas Cahaya didirikan memang untuk  mendorong pasien kanker anak di M Djamil agar tetap semangat menjalani kehidupan.

"Ketika kita tahu anak kita menderita kanker, dunia serasa mau runtuh. Tidak ada yang bisa membayangkan seperti apa rasanya ketika anak didiagnosa menderita penyakit menyeramkan itu. Psikologis sudah berat apalagi finansial," jelas Elsy Varinia. 

Elsy Varinia berharap kehadiran Komunitas Cahaya bisa memberikan secercah harapan untuk anak-anak pasien kanker agar tetap bersinar seperti cahaya. (*)


Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved