Komunitas Cahaya di Padang, Secercah Harapan untuk Anak Pasien Kanker
Puluhan anak dengan kondisi tangan terpasang selang infus tampak ceria saat berada di Instalasi Rawat Inap Kebidanan dan Anak, Bangsal Anak RSUP Dr M
Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Mona Triana
Di sana, akunya, cukup banyak lembaga yang peduli terhadap pasien kanker.
• Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep Tulis Doa untuk Ani Yudhoyono yang Idap Kanker Darah
• Derita Kanker Darah, Ani Yudhoyono Ungkapkan Perasaan Lewat Akun Instagramnya
• Untuk Pengobatan Kanker Darah, Ani Yudhoyono Butuh Cangkok Sumsum Tulang Belakang
Hal itu juga menjadi salah satu pendorong ia dan istri untuk membangun Komunitas Cahaya.
Ketika anak divonis kanker, Dedi Kurnia Putra merasakan beban yang terasa amat berat di pundak.
"Tidak sanggup rasanya menanggung beban itu. Makanya sejak itu kami hadir untuk meringankan beban orang tua secara psikologis," tambahnya.
Mereka ingin meyakinkan bahwa orang tua tidak sendiri.
Ada Komunitas Cahaya yang akan mendampingi dan mendorong mereka untuk membawa anak berobat sesuai dengan waktu khemoterapy tiba.
Mayoritas anak-anak pasien kanker di RSUP M Djamil Padang adalah pasien kanker darah (leukimia).
Pasien kanker lain adalah kanker otak, kanker tulang, kanker mata, namun terbanyak secara persentase 75 persen leukimia.
Selain itu, relawan Komunitas Cahaya juga membantu mencarikan obat bagi anak.
Donatur darah dengan cara membagikan di grup.
Saat ini relawan komunitas cahaya berjumlah lebih kurang 50 orang dengan jumlah anak yang didampingi 122 orang.
Relawan tersebut direkrut secara sukarela yang diumumkan di media sosial.
Sebetulnya, relawan Komunitas Cahaya hanya dari kalangan teman-teman pendirinya saja, terbanyak ibu rumah tangga dan pekerja.
Belakangan, relawan Komunitas Cahaya diikuti banyak mahasiswa.
"Relawan masing masing pegang tiga orang anak. Para relawan tersebut dilatih sehingga jangkauan makin banyak. Pemateri didatangkan dari luar tanpa meminta bayaran," jelasnya.
Di rumah sakit, anak-anak penderita kanker di kemoterapi dan didampingi orang tua.
Aktivitas itu mereka lakukan setiap hari. Jika orang tua tak punya uang untuk membiayai pengobatan atau khemoterapy si anak, Komunitas Cahaya akan siap membantu.
Tak hanya biaya pengobatan, Komunitas Cahaya juga membantu biaya harian orang tua. Sebab, mayoritas orang tua berasal dari ekonomi rata-rata menengah ke bawah dengan pekerjaan petani dan berkebun.
Anak-anak pasien kanker M Djamil Padang berasal dari wilayah Tanjung Pinang, Kerinci , Sarolangun, Merangin, dan Bungo.
Kemudian juga dari Pasaman, Pasaman Barat, Padang, Agam, dan Limapuluh Kota.
"Dulu setelah dibentuk kami hampir setiap bulan melakukan acara. Cuma gak mungkin melakukan acara terus-terusan. Kami memutuskan hari tertentu saja," jelas Dedi Kurnia Putra.
Dedi Kurnia Putra berharap ia dan relawan lainnya semakin banyak menebar kebaikan.
Jika semakin banyak orang terlibat, menurutnya akan semakin banyak orang yang akan tertolong.
"Pejuang hebat (pasien kanker) mendapat bantuan dan bisa melakukan khemoterapy tepat waktu. Komunitas Cahaya akan hadir mendampingi sepanjang proses," ujar Dedi Kurnia Putra.
Sementara itu, Istri Dedi Kurnia Putra, Elsy Varinia mengatakan Komunitas Cahaya didirikan memang untuk mendorong pasien kanker anak di M Djamil agar tetap semangat menjalani kehidupan.
"Ketika kita tahu anak kita menderita kanker, dunia serasa mau runtuh. Tidak ada yang bisa membayangkan seperti apa rasanya ketika anak didiagnosa menderita penyakit menyeramkan itu. Psikologis sudah berat apalagi finansial," jelas Elsy Varinia.
Elsy Varinia berharap kehadiran Komunitas Cahaya bisa memberikan secercah harapan untuk anak-anak pasien kanker agar tetap bersinar seperti cahaya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/komunitas-cahaya-di-padang-secercah-harapan-untuk-anak-pasien-kankerjpg.jpg)