Ramadan

Surau Batu di Kalumbuk Padang, Tempat Menyusun Strategi Perang hingga Berdiri Tugu Bambu Runcing

Surau Batu Muthmainnah Kalumbuk di Kota Padang pernah dijadikan sebagai tempat menyusun stategi perang melawan penjajah.

TRIBUNPADANG.COM/RIZKA DESRI YUSFITA
Surau Batu Muthmainnah Kalumbuk terletak di Jalan Raya Kalumbuk, Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. 

Ia melegenda ketika bergabung dalam Batalyon Harimau Kuranji yang dipimpin Mayor Ahmad Husein," kata keponakan Jamaluddin Wak Ketok, Mayarni Abdullah (70).

Pada dinding tugu perjuangan, terpampang ukiran sejarah perjuangan.

Bom Pernah Meledak di Masjid Nurul Iman Padang, Kaca Pecah, Lantai Retak, Pelakunya Masih Misterius

Mulai dari nama-nama tim yang tergabung dalam Dewan Perjuangan, yaitu Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Hizbulah (Tentara Allah), Temi, Laskar Muslimin (Lasmi), Majelis Tinggi Kerapatan Adat Minangkabau (MTKAM), Pemuda Republik Indonesia (PRI), Barisan Istimewa (BI), Keputrian Republik Indonesia (KRI) dan Sabil Muslimat.

Pada sisi lainnya tertulis tujuan Dewan Perjuangan, pembagian tugas, strategi yang dipakai dalam peperangan, dan persenjataan yang dimiliki.

Di sana juga tertulis waktu Penyerangan Rimbo Kaluang, yakni 21 Februari 1946 oleh TKR dan barisan barisan dibawah komando Mayor Ahmad Hussien.

Dalam pertempuran itu, gugur Kopral Rifai. Sementara yang hilang Kopral Bahar. Di pihak musuh banyak yang gugur dan luka berat atau ringan.

Saat itu Surau Batu menjadi markas utama Dewan Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia (DPKRI) atau dikenal juga dengan sebutan Dewan Perjuangan Rakyat Padang (DPRP).

Surau Batu Muthmainnah Kalumbuk terletak di Jalan Raya Kalumbuk, Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.
Surau Batu Muthmainnah Kalumbuk terletak di Jalan Raya Kalumbuk, Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. (TRIBUNPADANG.COM/RIZKA DESRI YUSFITA)

Nama-nama Penceramah, Judul Ceramah dan Imam Salat Tarawih di Masjid Nurul Iman Padang

"Surau digunakan sebagai tempat menyusun strategi perang. Kemudian juga tempat menyimpan senjata perang," kata Mayarni Abdullah.

Mayarni Abdullah mengatakan, pada masa bagolak, Jamaluddin Wak Ketok meninggal dunia.

Bagi Mayarni Abdullah, Wak Ketok adalah sosok yang berani dan banyak akal. Kemudian ia juga taat agama.

Halaman
1234
Penulis: Rizka Desri Yusfita
Editor: Saridal Maijar
Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved