Sate Itu Bonus, Hidangan Utama Adalah Suasana Pantai Padang
Bagi warga Kota Padang maupun pelancong, momen ini adalah isyarat untuk memulai ritual sore yang tak lekang oleh waktu.
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: afrizal
TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Menjelang senja, Pantai Padang perlahan berubah fungsi.
Ia bukan lagi sekadar bentang laut di pusat kota, melainkan ruang temu yang hidup.
Di sinilah warga berkumpul, pelancong berhenti sejenak, dan cerita-cerita kecil kota bertaut di antara aroma sate padang yang mengepul.
Senja di Pantai Padang selalu punya cara sendiri memanggil orang datang.
Baca juga: Sate Padang di Tepi Laut, Ritual Senja yang Menghidupkan Taplau
Bukan hanya lewat warna langitnya.
Tetapi juga melalui aroma sate padang yang mengepul dari kuali-kuali panas di tepi laut, menyatu dengan debur ombak dan hiruk-pikuk Taplau.
Aroma yang sangat spesifik dan menggugah selera ini bisa didapatkan di sepanjang trotoar Jalan Samudera.
Angin laut yang lembap membawa aroma perpaduan antara wangi arang tempurung kelapa yang terbakar dan rempah kari yang tajam.
Bagi warga Kota Padang maupun pelancong, momen ini adalah isyarat untuk memulai ritual sore yang tak lekang oleh waktu.
"Sate di sini beda rasanya kalau dimakan sambil melihat ombak. Ada sebuah sensasi yang tiada dua," ujar Winda (42), seorang warga asli Padang yang sore itu memboyong keluarga kecilnya duduk di bebatuan tepi pantai, Sabtu (27/12/2025).
Ia mengaku, meski banyak restoran sate legendaris di pusat kota yang menawarkan pendingin ruangan, ia tetap memilih tepian pantai.
Baginya, suasana Pantai Padang atau yang akrab disebut "Taplau" (Tapi Lauik) memberikan dimensi emosional yang berbeda.
"Di sini kita bisa santai, anak-anak bisa melihat orang bermain pasir, memancing, dan kita bisa bicara apa saja sambil menunggu matahari hilang. Sate itu bonusnya, suasananya adalah hidangan utamanya," tambah Winda sembari menyuap sepotong ketupat yang diguyur kuah kental kemerahan.
Magnet bagi pelancong luar daerah popularitas sate di tepi pantai ini ternyata menjangkau hingga ke luar kota.
Hal ini diakui oleh Bayu Saputra (27), seorang wisatawan asal Batusangkar yang sengaja singgah ke Pantai Padang.
“Rasa sate yang pedas nikmat menyatu dengan keindahan pantai Padang,”ucapnya.
Ia menambahkan bahwa sensasi menyantap sate sambil mendengarkan deru ombak memberikan kesan mendalam.
Menurutnya, kombinasi ini adalah bentuk wisata kuliner yang sangat otentik dan tidak bisa diduplikasi di mall-mall besar.
"Ada sesuatu yang sangat spesial disini. Kita makan di ruang terbuka, berbagi oksigen dengan orang asing di meja sebelah, dan sama-sama terdiam saat langit berubah jadi ungu," tuturnya.
| BREAKING NEWS Kebakaran Dekat Pasar Bandar Buat Padang, Api Hanguskan Toko Pinggir Jalan |
|
|---|
| UMP Sumbar 2026 Masih di Bawah Angka Kebutuhan Hidup Layak |
|
|---|
| Sate Padang di Tepi Laut, Ritual Senja yang Menghidupkan Taplau |
|
|---|
| Jalur Lembah Anai Padat, Antrean Mobil dari Padang Capai Kawasan Malibo |
|
|---|
| Liburan Nataru, Kendaraan Asal Riau ke Sumbar Mulai Meningkat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/taplau-dua.jpg)