Penambang Emas Tertimbun Longsor
Polisi Selidiki Penyebab Kecelakaan Tambang di Sijunjung yang Menewaskan Dua Orang
Kepolisian Resor Sijunjung tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait kecelakaan tambang
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Arif Ramanda Kurnia
Ringkasan Berita:
- Kepolisian Resor Sijunjung tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait kecelakaan tambang yang menewaskan dua orang di Galoro, Jorong Lintas Harapan, Nagari Palangki, Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung.
- Peristiwa yang terjadi pada Kamis (9/4/2026) sore tersebut menimbun dua penambang tradisional berinisial DK dan RF saat sedang beraktivitas di lokasi kejadian.
- Penyelidikan kini difokuskan pada pengumpulan keterangan saksi dan pemeriksaan barang bukti di lapangan.
TRIBUNPADANG.COM, SIJUNJUNG — Kepolisian Resor (Polres) Sijunjung tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait kecelakaan tambang yang menewaskan dua orang di Galoro, Jorong Lintas Harapan, Nagari Palangki, Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (9/4/2026) sore tersebut menimbun dua penambang tradisional berinisial DK dan RF saat sedang beraktivitas di lokasi kejadian.
Kapolres Sijunjung, AKBP Willian Harbensyah melalui Kasat Reskrim, AKP Hendra Yose menyatakan bahwa proses penyelidikan kini difokuskan pada pengumpulan keterangan saksi dan pemeriksaan barang bukti di lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan kronologi serta legalitas aktivitas di area tersebut.
Baca juga: Otopsi di RS Bhayangkara Padang, Polisi Serahkan Jenazah Mahasiswa PNP yang Akhiri Hidup di Kost
Pemeriksaan Saksi dan Barang Bukti
Hingga saat ini, pihak penyidik telah melakukan klarifikasi terhadap tujuh orang saksi yang berada di lokasi saat longsor terjadi. Berdasarkan pemeriksaan awal, para saksi mengonfirmasi bahwa kedua korban merupakan warga setempat yang tengah melakukan aktivitas penambangan secara mandiri.
Selain pemeriksaan saksi, Satuan Reserse Kriminal Polres Sijunjung juga telah mengamankan sejumlah peralatan penambangan. Barang bukti yang dibawa ke Mapolres antara lain mesin pompa air (robin), selang, dan alat dulang tradisional yang digunakan oleh para korban.
"Kami masih melakukan rangkaian penyelidikan lebih lanjut terkait peristiwa ini. Sejumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan tersebut sudah kami amankan sebagai bagian dari proses prosedur hukum," kata Hendra Yose, Minggu (12/4/2026).
Kondisi Geologis dan Cuaca
Penyelidikan awal menunjukkan faktor cuaca berperan signifikan dalam memicu ketidakstabilan struktur tanah. Lokasi kejadian sendiri diidentifikasi sebagai bekas area tambang lama yang permukaannya sudah tidak padat lagi. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya pergerakan tanah, terutama ketika masyarakat melakukan penggalian menggunakan mesin pompa air yang terus menerus menyemprotkan air ke dinding tanah.
Status Lahan dan Inisiatif Warga
Fakta lain yang terungkap dalam proses penyelidikan adalah status lahan tersebut. Area Galoro merupakan tambang yang sebelumnya telah ditinggalkan oleh pengelola terdahulu dan tidak lagi memiliki izin operasional aktif.
Namun, desakan ekonomi membuat sejumlah warga kembali melakukan penambangan atas inisiatif sendiri. Mereka memanfaatkan peralatan sederhana untuk mencari sisa-sisa deposit emas tanpa adanya pengawasan aspek keselamatan kerja (K3) yang memadai.
Baca juga: Viral Longsor di Padang Laweh Malalo, Warga Dengar Suara Dentuman Keras Sebelum Muncul Danau Dadakan
Prosedur Evakuasi dan Penanganan Korban
Polisi juga mendalami prosedur penanganan darurat yang dilakukan saat kejadian. Setelah longsor menghantam pada pukul 16.15 WIB, warga sempat berupaya menolong korban secara manual sebelum akhirnya alat berat didatangkan.
Penggunaan dua unit ekskavator dalam proses evakuasi menjadi poin yang diperhatikan kepolisian untuk melihat sejauh mana respons darurat di area tersebut. Setelah ditemukan, kedua jenazah langsung ditangani sesuai prosedur sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Imbauan dan Mitigasi Risiko
Pasca-insiden ini, kepolisian memperketat pengawasan terhadap lokasi-lokasi tambang rakyat yang tidak memiliki izin resmi. Langkah ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa di wilayah-wilayah rawan longsor lainnya.
Masyarakat diimbau untuk menghentikan aktivitas penambangan di area tebing atau lereng, terutama saat intensitas hujan meningkat.
"Kami meminta warga meningkatkan kewaspadaan dan memahami bahwa keselamatan jauh lebih utama dibandingkan aktivitas di zona berbahaya," tutup Hendra.
Diberitakan sebelumnya, sempat tertimbun longsor, dua orang masyarakat dilaporkan meninggal dunia saat sedang melakukan aktivitas menambang emas di Jorong Lintas Harapan, Nagari Palangki, Kabupaten Sijunjung, Kamis (9/4/2026) sekira pukul 16:00 WIB.
Kasi Kedaruratan BPBD Sijunjung, Heries membenarkan terkait dua orang yang tertimbun longsor saat melakukan aktivitas menambang tersebut.
| WALHI Sumbar: Minimal 60 Nyawa Hilang Akibat Tambang Ilegal Sejak 2012, Terbaru di Sijunjung |
|
|---|
| Tambang Emas Ilegal Makan Korban, Walhi Sebut Tambang Emas Pakai Pompa Air Berisiko Tinggi |
|
|---|
| Longsor Tambang Emas di Sijunjung Telan 2 Korban Jiwa, Walhi Desak Otoritas Setempat Usut Tuntas |
|
|---|
| Detik-detik Tebing Tambang Emas Sijunjung Longsor, Dua Warga Palangki Tewas Tertimbun Lumpur |
|
|---|
| 4 Jam Tertimbun Longsor saat Tambang Emas di Sijunjung, Dua Warga Ditemukan Tewas Pukul 20.00 WIB |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/polisi-yambang.jpg)