Bonus Demografi 2045, Peluang Emas atau Ancaman Serius?
Indonesia diprediksi akan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2030 hingga 2045.
Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rahmadi
TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Indonesia diprediksi akan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2030 hingga 2045.
Namun, kondisi ini bisa menjadi peluang besar maupun beban berat bagi negara, tergantung bagaimana pemerintah dan masyarakat mempersiapkannya.
Hal itu disampaikan Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) sekaligus Sekretaris Utama BKKBN, Budi Setiyono, usai menghadiri Simposium Nasional Kependudukan 2025 di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Kamis (11/9/2025).
“Bonus demografi itu sebenarnya sudah berlangsung sejak 2012 sampai 2045, dengan puncaknya di 2030 hingga 2045. Pada periode itu, kita akan memiliki surplus penduduk usia produktif sekitar 70 persen. Jika semua bisa mengaktualisasikan produktivitasnya, maka negara akan memiliki kemampuan fiskal yang kuat untuk mempercepat pembangunan nasional,” ujar Budi Setiyono kepada TribunPadang.com.
Namun, ia mengingatkan jika produktivitas penduduk tidak dikelola dengan baik, bonus demografi justru bisa berubah menjadi beban.
Baca juga: 17 Jiwa Terdampak Akibat Terbakarnya 4 Rumah di Kampung Lapai Padang, Kerugian Sentuh Rp800 Juta
“Kalau mereka tidak mendapat kesempatan bekerja, baik mandiri maupun di lembaga, maka potensi ini bisa menjadi masalah. Karena itu, pemerintah harus memastikan lingkungan yang memungkinkan generasi produktif bisa bekerja optimal,” jelasnya.
Terkait langkah ke depan, Budi menegaskan pemerintah sedang menyiapkan strategi komprehensif.
“Kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan. Tidak boleh ada lagi bayi lahir stunting. Pemerintah juga menyiapkan makan bergizi gratis untuk ibu hamil, balita, hingga anak sekolah agar lahir generasi sehat dan cerdas,” paparnya.
Selain itu, Budi menyebut pemerintah tengah merancang berbagai kebijakan untuk memperluas kesempatan kerja.
“Mulai dari program koperasi merah putih hingga hilirisasi industri, semua diarahkan agar penduduk usia produktif bisa mengaktualisasikan diri. Dengan begitu, bonus demografi benar-benar menjadi peluang emas menuju Indonesia maju,” tegasnya.
Baca juga: Menjahit Asa dari Ujung Jarum: Potret Tukang Sol Sepatu di Gang Kecil Pasar Alahan Panjang Solok
Simposium Nasional Kependudukan 2025 di UNP sendiri mengangkat tema “Membangun Penduduk Berkualitas, Keluarga Tangguh, dan Ekonomi Inklusif untuk Indonesia Maju” dengan menghadirkan 21 perguruan tinggi dan 14 rektor sebagai pembicara.(*)
| Solok Selatan Matangkan Program Penurunan Stunting 2027, Pemda dan DPRD Satukan Langkah |
|
|---|
| Aksi GENTING di 3 Kecamatan Berbuah Penghargaan, PT Semen Padang Terima Piagam Kemendukbangga |
|
|---|
| Pemkab Solok Selatan Sampaikan LKPJ 2025, Stunting Turun 13,2 Persen dan Raih 19 Penghargaan |
|
|---|
| BKKBN Sumbar Gandeng Penulis IPKB, Targetkan Distribusi Makanan Bergizi Gratis untuk Ibu dan Balita |
|
|---|
| Perkuat Layanan Kesehatan Dasar, Ketua Tim Pembina Posyandu Lakukan Monitoring di VII Koto |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Sekretaris-Kementerian-Kependudukan-dan-Pembangunan-KeluargfKamis-1192025.jpg)