Banjir di Padang
Trauma Ganda Maini Warga Lambung Bukik Padang, 2 Kali Jadi Korban Banjir Bandang Sejak 2012
Maini, warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, harus kembali menghadapi kenyataan pahit
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Warga Lambung Bukik jalani Ramadan di pondok darurat usai banjir bandang melanda permukiman.
- Rumah Eni masuk zona merah sehingga keluarga memilih tinggal di hunian sementara.
- Surau Jamiaturrahmah hanyut, warga kini tarawih di surau lain dengan akses menanjak.
- Maini sebut banjir kali ini lebih merusak dibanding banjir besar 2012.
- Puluhan rumah dan fasilitas warga hilang tersapu arus banjir.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Maini, warga Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, harus kembali menghadapi kenyataan pahit menjadi korban banjir bandang untuk kedua kalinya.
Meskipun pernah mengalami bencana serupa pada tahun 2012 silam, ia mengaku dampak kerusakan kali ini jauh lebih parah dan menghancurkan.
Maini menceritakan betapa mengerikannya kekuatan air yang turun dari hulu sungai dan menghantam pemukiman warga pada akhir tahun lalu.
Baginya, menjadi korban banjir bandang kali ini terasa seperti mimpi buruk yang jauh lebih destruktif dibandingkan belasan tahun lalu.
Menurutnya, pemandangan hari itu bukan sekadar bencana biasa, melainkan mimpi buruk yang benar-benar terjadi di depan matanya sendiri.
Baca juga: Jadwal Buka Tutup Jalur Lembah Anai Awal Ramadan 2026 Tetap, Dibuka Pukul 17.00–08.00 WIB
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri, rumah-rumah di sini hanyut seperti perahu di atas air. Begitu cepat, begitu kuat," ujarnya saat diwawancarai, Rabu (18/2/2026) pagi.
Ia mengaku sebelumnya juga pernah menjadi korban banjir besar pada tahun 2012 silam yang melanda lokasi yang sama, namun kali ini dampaknya jauh lebih destruktif.
Menurutnya, terjangan air bah kali ini jauh lebih dahsyat dan merusak dibandingkan belasan tahun lalu.
Jika dulu air hanya membawa lumpur, kali ini banjir menghabisi harta benda warga secara total tanpa menyisakan banyak hal.
Dampak dari amukan alam tersebut kini meninggalkan pemandangan pilu berupa puing-puing bangunan.
Baca juga: Banyak Warga Protes Data Bantuan Rumah Rusak, Ombudsman Sumbar Soroti Validitas Data
Puluhan rumah warga dilaporkan hilang tersapu arus, termasuk bangunan yang sangat krusial bagi warga, yakni Surau Jamiaturrahmah.
Hilangnya Surau Jamiaturrahmah menjadi pukulan batin yang sangat berat bagi Maini.
Baginya, surau itu bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan pusat spiritualitas tempat ia dan warga lainnya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
"Semuanya habis. Puluhan rumah hilang, bahkan surau tempat kami biasa beribadah sehari-hari juga sudah tidak ada lagi," katanya.
Kisah memilukan juga datang dari Eni (55). Baginya, terangnya cuaca tidak serta-merta menghapus bayang-bayang kelam yang menghantam permukimannya akhir tahun lalu.
Baca juga: Head to Head Semen Padang vs Malut United: Misi Sulit Kabau Sirah Bendung Laskar Kie Raha
banjir di Padang
Update Banjir di Padang
Lambung Bukik
Bencana Sumbar
Penanganan Bencana Sumbar
Bencana Sumatera
| Mata Pencaharian yang Terkubur: Menagih Janji Pemulihan Ekonomi di Batu Busuk Padang |
|
|---|
| Anggota DPRD Iskandar Minta Penyintas Bencana di Huntara Kapalo Koto Sabar Tunggu Bantuan Lauk Pauk |
|
|---|
| 32 KK di Huntara Kapalo Koto Padang Belum Terima Bantuan Jadup Rp1,3 Juta, Ini Daftar Namanya |
|
|---|
| Penyintas Banjir di Kapalo Koto Terima Bantuan Lauk Pauk, Afrianti: Saya Menerima Rp16.100.000 |
|
|---|
| Penyintas Bencana Belum Terima Bansos Lauk Pauk, Kadinsos Padang: Didata Lagi dan Diajukan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/PASCA-BANJIR-Suasana-awadga-hanyut.jpg)