Kekeringan di Padang

Curhat Ibu-ibu Pasar Ambacang Padang Antre Air Bersih, 7 Ember Hanya Cukup Sehari

Sudah dua bulan terakhir, sejak bencana alam melanda di penghujung tahun lalu, sumur-sumur warga kering kerontang

Tayang:
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/MG/ TribunPadang.com, Randy Pratama
KEKERINGAN DI PADANG: Warga Koto Tingga Dalam, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengantri bantuan air bersih dari relawan, Senin (26/1/2026). Warga kini hanya bisa menggantungkan harapan pada kebijakan pemerintah untuk melakukan revitalisasi sungai secara menyeluruh. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Pasar Ambacang, Kuranji, masih mengantre air bersih sejak dua bulan terakhir usai bencana alam.
  • Puluhan ibu rumah tangga membawa ember dan galon menunggu bantuan air dari relawan.
  • Seorang warga mengaku tujuh ember air hanya cukup untuk kebutuhan satu hari.
  • Setelah antre, warga masih harus mengangkut air lewat jalan sempit menuju rumah.
  • Warga kini menunggu kepastian distribusi air bersih dari pemerintah.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Jeritan hati para ibu rumah tangga terdengar di tengah krisis air bersih yang melanda kawasan Koto Tingga Dalam, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.

Sudah dua bulan terakhir, sejak bencana alam melanda di penghujung tahun lalu, sumur-sumur warga kering kerontang tak menyisakan setetes air pun.

Senin (26/1/2026) siang, di bawah sengatan matahari yang membakar kulit, puluhan ibu rumah tangga tampak berkerumun di pinggir jalan.

Mereka bukan sedang berbelanja, melainkan sedang antre mendapatkan jatah air bersih dari relawan yang datang membawa tangki.

Pantauan di lokasi sekitar pukul 11.27 WIB, puluhan wadah penampung air mulai dari ember plastik, galon bekas, hingga baskom dapur tampak berjejer panjang di atas aspal.

Baca juga: KemenHAM Sumbar Tekankan Peran Orang Tua Tanamkan Nilai HAM Sejak Dini

KEKERINGAN DI PADANG: Warga Koto Tingga Dalam, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengantri bantuan air bersih dari relawan, Senin (26/1/2026). Sudah dua bulan terakhir, sejak bencana alam melanda di penghujung tahun lalu, sumur-sumur warga kering kerontang.
KEKERINGAN DI PADANG: Warga Koto Tingga Dalam, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengantri bantuan air bersih dari relawan, Senin (26/1/2026). Sudah dua bulan terakhir, sejak bencana alam melanda di penghujung tahun lalu, sumur-sumur warga kering kerontang. (TribunPadang.com/MG/ TribunPadang.com, Randy Pratama)

Yani, salah satu ibu rumah tangga yang ikut mengantre, tampak kelelahan. Wajahnya lesu sembari menjaga tujuh ember miliknya agar tidak terlewati saat pengisian.

"Tujuh ember ini kelihatannya banyak, tapi sebenarnya hanya cukup untuk stok sehari saja di rumah," ujar Yani dengan nada lirih kepada TribunPadang.com.

Bagi Yani, setiap tetes air yang jatuh ke dalam embernya adalah napas bagi keluarganya. Tanpa air itu, dapur tidak akan mengepul dan urusan MCK (Mandi, Cuci, Kakus) akan lumpuh total.

Ia menceritakan betapa beratnya membagi penggunaan tujuh ember air tersebut untuk seluruh anggota keluarganya.

"Harus benar-benar hemat. Mana untuk masak, mana untuk mandi anak-anak. Susah sekali kalau air tidak mengalir langsung ke rumah," keluhnya.

Baca juga: Puluhan Ember Mengular di Kuranji, Warga Padang Kesulitan Air Akibat Sumur Kering Sejak Bencana

KEKERINGAN DI PADANG: Warga Koto Tingga Dalam, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengantri bantuan air bersih dari relawan, Senin (26/1/2026). sumur di rumah mereka telah berubah menjadi lubang tanah yang tandus sejak dua bulan lalu.
KEKERINGAN DI PADANG: Warga Koto Tingga Dalam, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang mengantri bantuan air bersih dari relawan, Senin (26/1/2026). sumur di rumah mereka telah berubah menjadi lubang tanah yang tandus sejak dua bulan lalu. (TribunPadang.com/MG/ TribunPadang.com, Randy Pratama)

Perjuangan Yani tidak berhenti di lokasi antrean. Tantangan terberat justru muncul saat ia harus mengangkut ember-ember berat itu menuju rumahnya.

Akses jalan menuju tempat tinggalnya di RT 05 cukup sulit. Jalanan sempit dan hanya bisa dilalui sepeda motor memaksa para ibu di sana harus memiliki tenaga ekstra untuk memindahkan beban air.

"Sudah mengantrenya lama, mengangkut ke rumahnya pun susah. Tenaga habis hanya untuk urusan air setiap hari," tambah Yani.

Bahkan, TribunPadang.com sempat melihat seorang wanita tua yang menggunakan gerobak untuk mengangkut jeriken air. Karena beban terlalu berat jeriken tersebut sempat terjatuh.

Baca juga: Niat Intip Pemicu Banjir Bandang, 7 Pemuda Agam Tersesat di Hutan, Bertahan dengan Api Unggun

Yani mengaku sudah mencoba menghubungi pihak BPBD Kota Padang untuk meminta bantuan pengiriman air bersih secara rutin ke wilayahnya.Namun hingga saat ini, ia dan warga lainnya harus tetap bersabar.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved