Bencana Sumbar
BNPB Pindahkan Hujan ke Laut, Modifikasi Cuaca di Sumbar Percepat Pembangunan Huntap
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih terus melakukan Operation Modifikasi Cuaca (OMC) hingga saat ini.
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- BNPB masih menjalankan modifikasi cuaca di Sumatera Barat untuk menekan curah hujan di wilayah rawan bencana.
- Operasi ini dilakukan agar pembangunan hunian sementara dan hunian tetap tidak terhambat cuaca.
- Hujan di daerah berpotensi banjir dialihkan ke laut atau wilayah lain yang dinilai aman.
- BNPB meminta kepala daerah rutin mengevaluasi progres huntara dan huntap setiap 1–2 hari.
- Upaya ini ditargetkan mempercepat warga keluar dari masa tanggap darurat dan segera menempati hunian.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kondisi cuaca di Sumatera Barat yang tidak menentu, membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih terus melakukan Operation Modifikasi Cuaca (OMC) hingga saat ini.
Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Utama BNPB, Rustian saat memberikan keterangan di Auditorium Gubernuran Sumbar, Kamis (8/1/2026).
OMC itu menurut Rustian berdampak terhadap pembangunan hunian sementara dan hunian tetap (huntap) agar tidak terganggu mengingat kondisi cuaca di Sumbar.
"Dari hari pertama sampai sekarang, BNPB masih melakukan OMC," katanya.
Upaya itu bertujuan untuk mengurangi curah hujan di beberapa daerah di Sumbar, agar tidak terlalu ekstrem.
Baca juga: Kangkung dan Santan Picu Inflasi Sumbar, Harga Kebutuhan Pokok Naik Paling Tinggi di Pasaman Barat
Daerah dengan potensi curah hujan terlalu tinggi atau ekstrem itu membuat penanganan bencana di wilayah terdampak bakal terganggu.
"Misal di suatu daerah jika hujan menyebabkan banjir, itu dipindahkan ke laut," pungkas Rustian.
Selain laut, hujan bisa dimodifikasi serta dipindahkan ke daerah lainnya di Sumbar, tentu dengan lokasi yang tidak rawan.
Jadi, dengan bantuan Operasi Modifikasi Cuaca, penanganan bencana seperti pembangunan huntara dan huntap dapat terlaksana dengan cepat.
"Tentu masyarakat bisa aman dan nyaman dan bisa keluar dari masa tanggap darurat," terangnya.
Baca juga: Pria di Payakumbuh Tabrak dan Aniaya Pengendara Motor Gegara Dendam, Korban Terseret Sejauh 4 Meter
Rustian mengaku sudah menekankan kepada kepala daerah terdampak bencana di Sumbar, untuk terus mengevaluasi kinerja di lapangan.
Evaluasi ini kata Rustian harus dilakukan dalam satu sampai dua hari, mengenai pembangunan huntara dan huntap.
"Maupun lahan-lahan yang akan kita siapkan huntap, sehingga masyarakat akan menempati hunian dan dapat menjalankan hidup dengan jauh lebih baik," sebutnya.
"Jika tidak kita lakukan, maka berdosa lah kita," tambahnya.(*)
| Standar Baru Pemulihan Sumbar, Dokumen R3P Jadi Instrumen Cegah Tumpang Tindih Proyek |
|
|---|
| Rampungkan Dokumen R3P, Pemprov Sumbar dan BNPB Perkuat Sinergi Pemulihan Pascabencana |
|
|---|
| Gubernur Mahyeldi Lepas 400 Mahasiswa KKN Unand untuk Verifikasi Rumah Terdampak Bencana di Sumbar |
|
|---|
| Lahan Pertanian Terdampak di 16 Kabupaten dan Kota Sumbar, Penanganan Rusak Berat Diserahkan ke PU |
|
|---|
| Kerusakan Sawah Kategori Hilang Akibat Banjir di Sumbar Butuh 3–4 Tahun Pemulihan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/PENANGANAN-BENCANA-SUMBAR-Sekretaris-Utama-BNPB-Rusmbar.jpg)