BERITA POPOPULER PADANG

3 Berita Terpopuler Padang Hari Ini: Krisis Air, Kebakaran, dan Semen Padang FC

Kota Padang dalam 24 jam terakhir diwarnai sejumlah peristiwa penting yang menjadi perhatian publik.

Tayang: | Diperbarui:
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
KEKERINGAN DI PADANG: Warga Kelurahan Pasar Ambacang antre mengambil air bersih, Sabtu (7/2/2026). Petugas dengan sigap menyalurkan air ke dalam tedmond (tangki penampung). Di sekelilingnya, puluhan ember, jeriken, hingga galon bekas berjejer rapi seperti barisan harapan yang sedang mengantre nasib. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Pasar Ambacang Kuranji kesulitan air bersih pascabencana, khawatir jalankan ibadah Ramadan.
  • Sumur warga kering, warga bergantung bantuan Damkar, BPBD, Dinas PU, PMI.
  • Empat kebakaran terjadi dalam 24 jam: rumah, sekolah, gudang, speedboat terbakar, kerugian miliaran rupiah.
  • Damkar dibantu BPBD, TNI, Polisi berhasil memadamkan api, warga diingatkan tetap waspada.
  • Semen Padang FC fokus keluar zona degradasi, raih dua poin dari dua laga tandang, optimis perbaiki performa.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kota Padang dalam 24 jam terakhir diwarnai sejumlah peristiwa penting yang menjadi perhatian publik.

Mulai dari kesulitan air bersih menjelang Ramadan di Pasar Ambacang Kuranji, rentetan kebakaran di berbagai lokasi yang menimbulkan kerugian materiil besar, hingga perkembangan Semen Padang FC yang tengah berjuang keluar dari zona degradasi BRI Super League 2025/2026.

Berita-berita ini tidak hanya mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi Kota Padang, tetapi juga menyoroti ketahanan warga, kesiapan aparat, dan aspirasi komunitas olahraga lokal.

KEKERINGAN DI PADANG: Warga Kelurahan Pasar Ambacang antre mengambil air bersih, Sabtu (7/2/2026). Di RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026), ritual harian warga kini bukan untuk bekerja namun juga berburu tetesan air bersih.
KEKERINGAN DI PADANG: Warga Kelurahan Pasar Ambacang antre mengambil air bersih, Sabtu (7/2/2026). Di RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sabtu (7/2/2026), ritual harian warga kini bukan untuk bekerja namun juga berburu tetesan air bersih. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Warga Pasar Ambacang Kuranji Kesulitan Air Bersih Pascabencana

Sabtu (7/2/2026), matahari tepat berada di atas kepala ketika deretan galon kosong dan ember warna-warni membentuk antrean panjang di pinggir jalan RT 03 RW 01, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Baca juga: Manajer Semen Padang FC: Diego Mauricio Didatangkan untuk Dukung Guillermo dan Perkuat Lini Depan

Warga menunggu giliran mendapatkan air bersih dari bantuan petugas, sementara di balik antrean tersebut terselip kecemasan yang lebih besar dari sekadar kebutuhan mandi dan mencuci.

Menjelang bulan suci Ramadan, kekhawatiran warga soal kelancaran ibadah mulai menghantui. Bagi masyarakat setempat, air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga urat nadi kehidupan spiritual.

Namun sejak bencana melanda kawasan tersebut pada akhir tahun lalu, sumur-sumur warga yang sebelumnya tak pernah kering kini benar-benar mati. Tak ada setetes air pun yang tersisa, meski sudah digali lebih dalam.

Asmida, salah seorang warga, terlihat menyeka keringat sambil memandangi petugas Damkar Kuranji yang mengisi air ke dalam tedmond. Ia menuturkan bahwa bantuan air bersih memang sangat membantu, tetapi kekhawatiran tetap menggelayuti pikirannya, terlebih saat melihat kalender yang semakin mendekati Ramadan.

“Kebutuhan air memang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, apalagi sebentar lagi kita masuk bulan Ramadan. Tak terbayang nanti saat berpuasa harus mengangkut ember air untuk wudhu,” ujar Asmida.

Bagi warga, persoalan wudhu menjadi kekhawatiran utama. Di wilayah yang kental dengan nilai religius seperti Kuranji, ketersediaan air bersih untuk bersuci sebelum salat merupakan kebutuhan mendasar yang kini terasa mahal. Warga khawatir saat berpuasa nanti mereka masih harus memikul jeriken dan ember di bawah terik matahari demi mendapatkan air bersih.

Baca juga: Pengemudi Minibus Sigra Ditetapkan Tersangka Usai Tabrak Dua Motor di Solok, Satu Korban Tewas

Saat ini, warga sepenuhnya bergantung pada bantuan air bersih dari berbagai pihak, mulai dari Damkar, BPBD, Dinas PU, hingga PMI. Meski begitu, mereka menyadari bantuan darurat semacam ini tidak bisa menjadi solusi jangka panjang, terlebih konsumsi air cenderung meningkat selama bulan puasa.

Secara teknis, kekeringan di kawasan tersebut diduga akibat perubahan lanskap alam pascabencana. Aliran sungai di sekitar permukiman berubah arah, sehingga pola resapan air ke sumur-sumur warga terputus.

Rosi, warga terdampak lainnya, menuturkan bahwa kondisi ini telah mengganggu kehidupan rumah tangganya. Sumur yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan kebutuhan keluarga kini kering total.

“Kebutuhan air yang dijemput itu terutama untuk anak mandi pergi sekolah. Kalau kami orang tua, biarlah mandi ke sungai di bawah Jembatan Kuranji saja,” tutur Rosi.

Bagi warga Pasar Ambacang, sungai kini kembali menjadi alternatif terakhir, seperti masa lalu. Namun mandi di sungai bukanlah solusi ideal, mengingat kualitas air dan risiko keselamatan, terutama saat cuaca ekstrem.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved