Lingkungan
Waspada Kebakaran dan Risiko Kesehatan saat Musim Kemarau Tiba
MUSIM kemarau kembali menghampiri Indonesia. Bagi sebagian orang, musim ini identik dengan langit biru cerah, cucian cepat kering, dan suasana yang co
MUSIM kemarau kembali menghampiri Indonesia. Bagi sebagian orang, musim ini identik dengan langit biru cerah, cucian cepat kering, dan suasana yang cocok untuk aktivitas luar ruangan.
Namun, di balik segala kemudahan itu, musim kemarau juga menyimpan potensi risiko besar, mulai dari gangguan kesehatan hingga bencana kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk bersiap sejak dini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada Mei hingga Juni 2025 mendatang.
Wilayah yang diperkirakan lebih dulu terdampak meliputi Nusa Tenggara, sebagian Jawa, hingga beberapa bagian Kalimantan dan Sulawesi. BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau kali ini bisa dipengaruhi oleh fenomena El Niño lemah hingga netral, yang membuat curah hujan semakin sedikit di beberapa daerah.
Musim kemarau bukan hanya soal cuaca panas dan tanah yang retak. Salah satu ancaman serius yang muncul adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa selama musim kemarau tahun lalu, lebih dari 59 ribu hektare/Ha lahan terbakar di seluruh Indonesia. Sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, baik disengaja maupun karena kelalaian, seperti membakar sampah atau membuka lahan.
Baca juga: Air Terjun Langkuik Tinggi : Menyibak Hutan, Menyusuri Sungai, Seakan Berada di Surga Tersembunyi
Asap dari kebakaran ini tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga berdampak langsung pada kesehatan manusia. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sering kali melonjak tajam di daerah yang terdampak asap.
Anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki penyakit bawaan seperti asma atau penyakit jantung adalah kelompok paling rentan. Bahkan, kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran bisa berdampak lintas wilayah dan negara, sebagaimana yang pernah terjadi pada krisis asap beberapa tahun lalu.
Oleh karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas bersama. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah tidak sembarangan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara membakar.
Masyarakat juga perlu waspada terhadap kebakaran permukiman yang kerap terjadi akibat kelalaian, seperti korsleting listrik atau penggunaan api yang tidak diawasi.
Selain risiko kebakaran, musim kemarau juga bisa membawa tantangan lain, yakni gangguan kesehatan akibat suhu panas dan kekurangan air bersih. Saat udara kering dan suhu naik, tubuh lebih mudah mengalami dehidrasi.
Gejala ringan seperti kelelahan, pusing, dan bibir kering bisa menjadi tanda awal. Jika tidak diatasi, dehidrasi bisa berkembang menjadi masalah serius, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Untuk itu, menjaga asupan cairan menjadi langkah utama. Jangan tunggu haus untuk minum. Idealnya, konsumsi air putih minimal dua liter per hari.
Hindari minuman berkafein atau beralkohol karena justru bisa mempercepat pengeluaran cairan tubuh. Selain itu, penting juga menjaga pola makan bergizi agar daya tahan tubuh tetap kuat.
Kebersihan juga menjadi aspek penting di musim kemarau. Saat air bersih sulit diperoleh, masyarakat cenderung mengurangi frekuensi mencuci tangan atau mandi.
Padahal, kondisi ini justru bisa menjadi ladang subur bagi berbagai penyakit kulit dan infeksi saluran pencernaan. Oleh karena itu, gunakan air secara bijak, tetapi jangan abaikan kebersihan tubuh dan lingkungan.
Baca juga: 10 Pepatah Minangkabau Patut Jadi Pedoman Bagi Gen Z
Musim kemarau juga berpotensi memperparah polusi udara di kota-kota besar. Debu dan partikel halus di udara meningkat karena tidak ada hujan yang membersihkan atmosfer.
Bagi warga kota yang aktivitasnya banyak di luar ruangan, penggunaan masker bisa membantu melindungi saluran pernapasan. Ventilasi rumah yang baik dan penggunaan tanaman dalam ruangan juga bisa menjadi solusi untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Pemerintah daerah dan pusat pun memiliki peran penting dalam menghadapi musim kemarau. Penyediaan air bersih di daerah rawan kekeringan, edukasi masyarakat tentang bahaya kebakaran, dan kesiapsiagaan personel pemadam kebakaran harus terus ditingkatkan.
Pemasangan sistem deteksi dini karhutla seperti kamera termal dan pemantauan satelit juga dapat membantu mencegah bencana lebih besar.
Peran Aktif Masyarakat
Di sisi lain, masyarakat bisa berperan aktif melalui kegiatan seperti kerja bakti membersihkan lingkungan, membuat sumur resapan untuk menjaga cadangan air, dan melaporkan titik api atau kebakaran kecil secepat mungkin ke pihak berwenang.
Peran komunitas sangat vital, karena tindakan cepat dan gotong royong bisa mencegah kejadian kecil menjadi bencana besar.
Musim kemarau bukanlah musuh, melainkan bagian dari siklus alam yang bisa dihadapi dengan kesiapan dan kesadaran bersama. Kita tidak bisa mengendalikan cuaca, tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita meresponsnya. Yakni melalui persiapan yang tepat, musim kemarau bisa kita lalui dengan aman, sehat, dan tanpa bencana.
Ayo! mulai bersiap dari sekarang! Periksa instalasi listrik di rumah, siapkan cadangan air, jaga pola makan dan hidrasi, serta tingkatkan kewaspadaan terhadap api di sekitar lingkungan.
Lewat langkah sederhana tapi konsisten, kita bisa menjaga diri sendiri, keluarga, dan bumi dari dampak musim kemarau yang makin tak terduga.
(Wahyu Saptio Afrima, Mahasiswa Sastra Minangkabau, FIB Unand, Magang TribunPadang.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/sulit-kendali.jpg)