Kota Bukittinggi

Efisiensi Anggaran Diduga Penyebab Penukaran Uang Baru di Bukittinggi Menurun Drastis

Penukaran uang baru di Bukittinggi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Rahmadi
Bank Nagari
PENUKARAN UANG BARU : Sejumlah masyarakat saat menukar uang baru ke Bank Nagari Cabang Bukittinggi beberapa waktu lalu. Pihak Bank mencatat terjadi penurunan jumlah penukaran uang baru pada momen hari raya Idul Fitri 1446 H daripada tahun sebelumnya. 

TRIBUNPADANG.COM, BUKITTINGGI - Penukaran uang baru di Bukittinggi menjelang Hari Raya Idul Fitri 1446 H mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Bank Nagari Bukittinggi mencatat jumlah uang yang ditukarkan hanya sekitar Rp 4 hingga Rp 5 miliar, jauh lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai Rp 12 hingga Rp 15 miliar.

Wakil Pimpinan Bank Nagari Bukittinggi, Roni Apladiva, menyebutkan penurunan ini terjadi akibat kebijakan efisiensi anggaran dalam pencetakan uang baru.

"Mungkin karena efisiensi atau tidak ada mencetak lagi ya, jadi uang yang akan ditukarkan pun sedikit untuk tahun ini," katanya, Rabu (26/3/2025).

Selain itu, Bank Indonesia juga membatasi jumlah uang yang disediakan untuk penukaran guna mengoptimalkan distribusi ke seluruh daerah.

Baca juga: Wamen ESDM Rencanakan Bangun Terminal BBM Baru, Penuhi Kebutuhan Bahan Bakar di Sumbar

Pihaknya dari Bank Nagari Bukittinggi melaksanakan penukaran uang baru selama tiga hari.

"Yaitu pada tanggal 18 Maret 2025 dari Bank Indonesia yang sebelumnya masyarakat mendaftar dulu melalui aplikasi dengan kuota 100 orang," jelasnya.

"Kemudian kita dari Bank Nagari juga membuka pelayanan penukaran uang baru selama dua hari pada tanggal 20 dan 21 Maret dengan membatasi sebanyak 100 orang per hari dengan jumlah yang juga dibatasi, sehingga semua masyarakat kita bisa dapat semuanya," sambungnya.

Ia mengungkapkan bahwa masyarakat sangat antusias untuk menukar uang baru, itu terlihat dari masyarakat yang sudah mengambil nomor antrian dari subuh.

"Karena kebiasaan masyarakat kita itu pada momen hari raya Idul Fitri tentunya menukarkan uangnya ke uang yang baru, yaitu memberikan uang tersebut ke anak-anak atau yang biasa disebut THR," katanya.

Baca juga: Cegah Perahu Terbalik, Kapolres Mentawai Ingatkan Keselamatan di Laut Saat Mudik Lebaran

"Kalau kita lebih memfokuskan agar masyarakat semuanya dapat jatah, walaupun sedikit atau banyaknya, sehingga kita batasi dengan pecahan Rp.2 ribu, Rp. 5 ribu, Rp. 10 ribu dan Rp. 20 ribu, dengan maksimal Rp. 1,7 juta pada hari pertama dan Rp. 1,2 di hari kedua," sambungnya.

Roni juga menyebutkan rata-rata masyarakat menukarkan uang dengan pecahan Rp. 2 ribu dan Rp. 5 ribu.

"Kebanyakan yang pecahan Rp. 2 ribu dan Rp. 5 ribu, yang pecahan Rp. 10 ribu dan Rp. 20 ribu juga ada beberapa," pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved