Berita Populer Sumbar
POPULER SUMBAR: Perputaran Uang di Kejurnas Sepatu Roda Pariaman dan Galamai Khas Sijunjung
Berita populer Sumbar perputaran uang di Kejurnas Sepatu Roda Pariaman dan Galamai Khas dari Perkampungan Adat Sijunjung
Penulis: Muhammad Fuadi Zikri | Editor: Fuadi Zikri
TRIBUNPADANG.COM - Inilah berita populer Sumbar selama 24 jam terakhir tayang di TribunPadang.com.
Ada berita tentang berita tentang perputaran uang di Kejurnas Sepatu Roda Kota Pariaman dan Galamai Khas dari Perkampungan Adat Sijunjung.
Simak berita selengkapnya:
1. Perputaran Uang Selama Kejurnas Sepatu Roda Dinilai Tingkatkan Perekonomian Masyarakat Pariaman
Ketua Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Kota Pariaman Azral Malvinas, menilai kejuaraan seperti roda mampu ramaikan objek wisata di Kota Pariaman.
Hal ini ia sampaikan saat Kejuaraan Nasional (Kejurnas) sepatu roda Piala Wali Kota Pariaman 2022 second round kembali digelar di arena sepatu roda Pantai Cermin Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar)
Kejuaraan yang berlangsung sejak Jumat (21/10/2022) membuat pengunjung Pantai Cermin meningkat drastis dibanding hari biasa.
Menurut Ketua Perserosi Kota Pariaman Azral Malvinas, peningkatan pengunjung ini terjadi karena setiap atlet sepatu roda didampingi oleh keluarganya.
"Jadi dalam kejuaraan sepatu roda tingkat nasional ini, tidak hanya atlet saja yang datang tapi keluarganya juga," terangnya, Sabtu (22/10/2022).
Baca juga: Perebutkan Hadiah Rp76 Juta, Ratusan Atlet Sepatu Roda Berpacu di Piala Wali Kota Pariaman 2022
Kehadiran keluarga dari atlet tersebut, menurut Azral cukup menunjang perekonomian masyarakat Pariaman.
Ia menilai akan ada perputaran uang tambahan selama kejuaraan berlangsung.
"Para atlet dan keluarganya ini, selain belanja tentu juga menginap di Kota Pariaman," jelasnya.
Hal ini akan berdampak pada pengusaha penginapan yang ada di Kota Pariaman.
Selain keluarga atlet, dampak dari kejuaraan ini, masyarakat setempat juga berbondong-bondong datang menyaksikan.
"Saya berharap kedepannya sepatu roda bisa jadi sport tourism, untuk menunjang pariwisata Kota Pariaman," pungkasnya.
2. Galamai, Camilan Khas Perkampungan Adat Sijunjung Berbahan Alami dan Dibungkus Daun Pandan Kering
Perkampungan Adat yang terletak di Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat (Sumbar) memiliki kuliner khas berupa galamai.
Berbeda dengan galamai pada daerah lain, masyarakat Perkampungan Adat masih mengolah bahan-bahannya secara manual.
Seorang pembuat galamai di Perkampungan Adat Sijunjung Yanti menyebut, bahan dasar galamai terbuat dari beras pulut, sari pati santan dan gula merah.
"kami tidak menggunakan tepung beras pulut yang sudah dikemas, tetapi beras pulut tersebut kami tumbuk sendiri hingga halus," ungkapnya kepada TribunPadang.com, Sabtu (22/10/2022).
Kata Yanti, alasan menumbuk sendiri beras pulut itu, untuk menjaga kealamian dalam bahan yang digunakan untuk pembuatan galamai.
Ia menjelaskan, dalam memasak galamai, Yanti masih menggunakan tungku kayu.
"Sebelum dimasukan kedalam kuali, bahan-bahan yang sudah disiapkan sebelumnya digabungkan hingga tercampur secara merata," tutur Yanti.
Baca juga: Galamai, Kuliner Khas dan Buah Tangan Khas, dari Perkampungan Adat Nagari Sijunjung, Provinsi Sumbar
Selanjutnya, bahan yang telah tercampur itu dimasukan ke dalam kuali dengan api yang sudah menyala.
Ia menambahkan, jika bahan tidak dicampurkan terlebih dahulu, proses pembuatannya akan lebih lama.
"Setelah masuk di kuali, adonan galamai harus terus diaduk hingga mengental dan siap untuk dikemas," imbuhnya.
Kata Yanti, untuk satu adonan galamai yang ia buat, proses pembuatannya memakan waktu 3 sampai 4 jam.
Sementara, ciri khas lain dari galamai itu terletak pada kemasannya yang juga alami, terbuat dari anyaman daun pandan kering.
"Kemasannya kami sebut kambuik, itu terbuat dari daun pandan yang sudah kering," ucap Yanti.
Penggunaan kambuik, kata Yanti bertujuan untuk mengurangi kandungan minyak yang ada pada galamai.
Lanjutnya, karena kambuik memiliki celah pada anyamannya, minyak dari galamai akan keluar dari celah tersebut, sehingga galamai bisa bertahan lebih lama.
Kambuik memiliki dua bentuk, bentuk pertama dibuat seperti tabung lonjong dan kedua berbentuk seperti mangkuk persegi.
"Untuk kambuik yang lonjong itu berisikan 250 gram dan 300 gram galamai, dengan harga Rp 20 ribu untuk 250 gram dan Rp 25 ribu untuk yang 300 gram," jelasnya.
Sementara, untuk kambuk yang berbentuk mangkuk galamai dibagi dalam bentuk kecil- kecil dengan plastik sebanyak 20 buah dengan harga Rp10 ribu.
Dikatakannya, galamai Perkampungan adat sangat diminati oleh para wisatawan yang berkunjung.
"Para wisatawan yang datang dari luar daerah seperti tamu-tamu pemerintah daerah kalau berkunjung ke perkampungan adat tidak lupa untuk membeli galamai," terangnya.
Yanti menyebut, penjualan galamai Perkampungan Adat masih melalui pemesan dan beberapa ditaruh di warung miliknya.
"Kami berharap galamai Perkampungan Adat Sijunjung bisa lebih dikenal dan bisa dipasarkan hingga keluar daerah dengan lebih banyak, sehingga bisa meningkatkan pendapatan masyarakat setempat," tutup Yanti. (TribunPadang.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/piala-wali-kota-pariaman.jpg)