Hewan Ternak di Sumbar Positif PMK
Dinas Peternakan Padang Pariaman Kesulitan Dana Tangani PMK, Persediaan Obat Kosong
Kekosongan persedian obat ini membuat pihaknya sulit untuk membantu para peternak yang hewan ternaknya terdampak PMK.
Penulis: Panji Rahmat | Editor: afrizal
TRIBUNPADANG.COM, PADANG PARIAMAN- Persediaan obat dan kebutuhan lainnya untuk penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Padang Pariaman kosong.
Padahal saat ini ada 1.022 ternak terpapar Penyakit Mulut dan Kuku.
"Kami sangat kekurangan amunisi, bahkan sekarang persediaan obat sudah kosong," Kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Perternakan dan Kesehatan Hewan Padang Pariaman Devi Yanti, Jumat (24/6/2022).
Baca juga: 6 Ternak Potong Paksa Akibat PMK di Padang Pariaman, Devi Yanti: Peternak Jangan Panik
Baca juga: 1.022 Ternak di Padang Pariaman Terpapar Penyakit Mulut dan Kuku, Tersebar di 17 Kecamatan
Kekosongan persedian obat ini membuat pihaknya sulit untuk membantu para peternak yang hewan ternaknya terdampak PMK.
Bahkan beberapa waktu belakang pihaknya lebih banyak melakukan sosialisasi penggunaan obat tradisional pada para peternak.
"Jadi kami melakukan penyuluhan obat tradisional yang bisa membantu kesembuhan hewan pada para peternak," terangnya.
Kendati demikian saat ini pihaknya sudah mendapat lampu hijau dari Pemkab Padang Pariaman melalui bantuan dana tanggap darurat.
Jumlah dana ini kata Devi berkisar sebanyak Rp 150 juta untuk penanganan PMK Padang Pariaman.
"Namun sampai saat ini dana tersebut belum cair, semoga saja dalam waktu dekat sudah bisa kami gunakan," bebernya.
Ia berharap pada Juli mendatang pihaknya sudah bisa memberikan pelayanan pada masyarakat dan mendistribusikan obat-obatan.
Potong Paksa
Jumlah ternak terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Padang Pariaman terus meningkat, saat ini sudah ada 1.022 ternak terjangkit, Kamis (23/6/2022).
Dari angka itu 6 ternak mati dan 2 dipotong paksa, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Devi Yanti mengemukakan hal itu terjadi, karena masyarakat panik.
"Akibat kasus yang terus berkembang sejak Mei lalu, masyarakat khawatir dan memotong paksa ternaknya," jelas Devi Yanti kepada TribunPadang.com, Kamis.
Dikatakan, kekhawatiran masyarakat ini menurutnya berujung pada kepanikan dan menjual serta memotong ternak mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Tajongkek-paris.jpg)