Masjid Jamik Tarok, Masjid Tertua di Bukittinggi yang Pernah Dikunjungi Proklamator Bung Hatta

Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) memiliki delapan masjid tertua yang hingga kini masih berdiri kokoh.

Tayang:
Penulis: Muhammad Fuadi Zikri | Editor: afrizal
Dok. Arsip Kota Bukittinggi/Istimewa
Masjid Jamik Tarok saat dikunjungi Wakil Presiden Indonesia Pertama, Mohamad Hatta pada 7 April 1954. 

Laporan Reporter TribunPadang.com, Muhammad Fuadi Zikri

TRIBUNPADANG.COM, BUKITTINGGI- Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) memiliki delapan masjid tertua yang hingga kini masih berdiri kokoh.

Meski kedelapan masjid itu tidak lagi mempertahankan bangunan aslinya, setiap masjid memiliki cerita sejarahnya masing-masing.

Salah satunya Masjid Jamik Tarok yang berlokasi di Jalan Sutan Syahrir Nomor 39, Kelurahan Tarok Dipo, Kecamatan Guguak Panjang, Kota Bukittinggi.

Baca juga: Deretan Keunikan Masjid Raya Gantiang Padang, Ditopang 25 Tiang hingga Pintu yang Tak Pernah Diganti

Baca juga: Arsitektur Masjid Raya Gantiang Khas dari Beragam Negara, Bagian Atap Cina, Desain Bangunan Eropa

Masjid yang berada di jantung kota Jam Gadang ini dulunya pernah dikunjungi oleh Bapak Proklamator Indonesia, Mohamad Hatta.

Masjid Jamik Tarok Bukittinggi, Selasa (5/4/2022).
Masjid Jamik Tarok Bukittinggi, Selasa (5/4/2022). (TribunPadang.com/FuadiZikri)

Lantas bagaimana ceritanya?

Masjid Jamik Tarok mulai dibangun pada 1950 dan tuntas pada 1956.

Walakin, sejatinya eksistensi masjid ini telah melewati masa dua abad.

Baca juga: Asal Mula Nama Masjid Raya Badano Kota Pariaman, Sudah Ada Sejak Antara 1829-1850 Masehi

Baca juga: Mengenal Masjid Nur Taqwa di Padang Panjang, Miliki Kubah Warna Hijau Mirip Masjid Nabawi Dahulu

Berdasarkan catatan yang ada, cikal bakal masjid ini sudah ada sejak 1830-an, sama halnya dengan masjid tua lainnya di Bukittinggi.

Bangunan beton yang sekarang berdiri kokoh merupakan bangunan baru pengganti masjid terdahulu yang keseluruhan berbahan kayu.

Serupa dengan masjid-masjid tua di Minangkabau pada umumnya, masjid ini dulunya berarsitektur panggung dengan atap berundak-undak tumpang tiga dari ijuk.

Namun, ketika dibangun ulang, masjid ini meninggalkan arsitektur lamanya dan memiliki arsitektur baru.

Mengusung bangunan persegi dengan tiga kubah besar berukuran sama, sekilas masjid ini hampir mirip dengan Masjid Raya Medan.

Pada 1954, saat pembangunan masjid hampir rampung, Mohamad Hatta yang akrab dikenal Bung Hatta melaksanakan salat Jumat di sana.

Waktu itu Wakil Presiden Indonesia yang pertama tersebut melakukan kunjungan ke Kota Bukittinggi, tepatnya pada 7 April 1954.

"Masjid ini dibangun pada 1950 dan selesai 1956, pada 1954 pernah dikunjungi Mohamad Hatta yang ketiga Wakil Presiden," ujar Ketua Pengurus Masjid Jamik Tarok, Irman Bahar kepada TribunPadang.com, Minggu (17/4/2022).

Dibangun ulang

Masjid yang sempat bernama Masjid Jamik Al-Anshar ini kembali dibangun ulang.

Pengerjaannya sudah dimulai sejak 9 Maret 2022 lalu yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Walikota Bukittinggi Erman Safar.

Erman mengatakan, pembangunan ulang ini diperkirakan menelan biaya Rp40 miliar lebih dengan rencana pengerjaan lima tahun ke depan.

Masjid ini dibangun dengan tiga tingkat yang direncanakan mempertahan arsitektur yang saat ini.

"Pembangunan ini berdasarkan inisiatif dan keinginan bersama masyarakat, ninik mamak, dan tokoh masyarakat Tarok," ungkap Irman.

Ia menjelaskan, alasannya karena masjid yang kini berdiri tak lagi nyaman dijadikan sebagai tempat beribadah.

Terdapat beberapa kerusakan pada bagian bangunan masjid, salah satunya beberapa titik langit-langit masjid yang bocor.

Kemudian posisi masjid juga berada jauh ke bawah dari permukaan jalan raya dan sekitarnya.

"Jadi ketika hujan kita harus menaruh ember yang banyak untuk menampung air hujan itu," katanya.

Selain itu, posisi masjid yang berada di tengah perkotaan dan jalan lintas tak lagi mempu menampung banyaknya jemaah, apalagi ketika salat Jumat.

"Untuk salat Jumat selalu melimpah keluar, jadi kapasitas masjid tidak bisa lagi menampung jumlah masyarakat kita yang semakin banyak," ungkapnya.

Soal anggaran, pembangunan masjid ini mendapat bantuan dari APBD Pemko Bukittinggi sebesar Rp44 miliar.

"Juga ada pokir saya sebesar Rp600 juta," tutup Irman yang juga anggota DPRD Kota Bukittinggi itu.(*)

 

 

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved