Breaking News:

Kekerasan dan Penjarahan di Afrika Selatan Tewaskan 117 Orang, Ini Kata Presiden Cyril Ramaphosa

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menduga kekerasan dan penjarahan yang mengguncang negaranya selama seminggu terakhir direncanakan dan dikoordi

Editor: Emil Mahmud
Archive Photo/GCIS/Tribunnews.com
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa 

Dalam salah satu pengerahan pasukan terbesar sejak berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih pada tahun 1994, pemerintah mengatakan 10.000 tentara turun ke jalan pada Kamis pagi dan Angkatan Pertahanan Nasional Afrika Selatan juga telah memanggil semua pasukan cadangannya yang terdiri dari 12.000 tentara.

Meskipun kini Johannesburg relatif tenang, situasi di KwaZulu-Natal tetap tidak stabil, seorang menteri di kantor Ramaphosa, Khumbudzo Ntshavheni, mengatakan pada konferensi pers pada hari Kamis.

Persatuan Bisnis Afrika Selatan (BUSA), kelompok lobi bisnis yang disegani, telah meminta pemerintah untuk memberlakukan jam malam agar kerusuhan segera teratasi.

"Ini adalah keadaan darurat yang tak tertandingi dalam sejarah demokrasi kita dan mengharuskan negara untuk mengambil tindakan segera," katanya dalam sebuah pernyataan, Kamis.

"Kami percaya ini harus mencakup jam malam yang ditegakkan dengan kuat di daerah-daerah tertentu untuk membersihkan jalan-jalan dan memungkinkan penegakan hukum untuk mendapatkan kembali kendali," sambungnya.

al itu menggemakan kembali ketakutan yang diungkapkan oleh Ramaphosa tentang gangguan pada rantai pasokan, termasuk energi, makanan, dan perang melawan pandemi Covid-19.

Baca juga: Pulang dari Afrika Nikita Willy Deg-degan Dipanggil Jenderal Bintang Tiga ke Kantor, Whats Wrong?

Kerugian Akibat Kerusuhan

Menurut Tumelo Mosethli, seorang pengusaha Afrika Selatan yang berbasis di Johannesburg, pekerjaan yang hilang akibat kerusuhan akan memperburuk situasi saat ini.

"Kami tidak membutuhkan ini untuk melihat toko dan bisnis orang dimusnahkan," kata Mosethli sebagaimana dilansir Al Jazeera pada Rabu (14/7/2021)

"Ya, orang-orang kelaparan hari ini, tetapi besok akan ada lebih banyak pengangguran, lebih banyak rasa sakit, lebih banyak penderitaan di negara yang berusaha memulihkan dan membangun kembali dirinya sendiri," sambungnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved