Breaking News:

Kekerasan dan Penjarahan di Afrika Selatan Tewaskan 117 Orang, Ini Kata Presiden Cyril Ramaphosa

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menduga kekerasan dan penjarahan yang mengguncang negaranya selama seminggu terakhir direncanakan dan dikoordi

Editor: Emil Mahmud
Archive Photo/GCIS/Tribunnews.com
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa 

Sebelumnya, pada Kamis (15/7/2021), pemerintah mengatakan bahwa satu di antara tersangka telah ditangkap dan 11 lainnya berada dalam pengawasan.

Secara keseluruhan, 2.203 orang telah ditangkap selama kerusuhan karena berbagai pelanggaran, termasuk penjarahan.

Ramaphosa mengakui, bagaimanapun, bahwa pemerintahnya bisa bertindak lebih cepat untuk mencegah kerusuhan dan menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya ketegangan rasial di KwaZulu-Natal.

Baca juga: Zinedine Zidane Relakan Enzo Zidane Hijrah ke Klub Afrika, Gabung Wydad Casablanca di Liga Maroko

Zuma Dipenjara

Aksi protes di Afrika Selatan pecah sehari setelah Zuma, yang memiliki dukungan di antara orang miskin dan loyalis di Kongres Nasional Afrika (ANC) yang berkuasa, memulai hukuman penjara pada Rabu (7/7/2021).

Zuma harus menjalani hukuman 15 bulan penjara, karena menolak bersaksi untuk penyelidikan kasus korupsi yang terjadi selama dia menjabat sebagai presiden.

Aksi protes yang semula dipicu oleh pemenjaraan Zuma, cepat berubah menjadi penjarahan.

Banyak orang yang menjarah pusat perbelanjaan dan gudang, mengangkut barang-barang.

Namun, saat polisi turun tangan, tampaknya para penjarah tidak berdaya untuk bertindak.

Afrika Selatan telah mengerahkan lebih dari 20.000 personel pertahanan untuk membantu polisi dalam memadamkan kerusuhan.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved